PASIEN NOMOR SEMBILAN

PASIEN NOMOR SEMBILAN

  • WpView
    Reads 139
  • WpVote
    Votes 44
  • WpPart
    Parts 13
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Mar 31, 2022
WpInfo
Fiction
Romance
Ini kisah pasien nomor sembilan yang datang padaku murni sebagai pesakitan. Allsya, remaja yang terlahir dari keluarga berada tapi tak bisa menikmati bahagia. Ditempa oleh keadaan yang memaksanya untuk dewasa sebelum waktunya. Di usianya yang masih belia ia mencari tahu tentang keadilan, perbedaan laki-laki dan perempuan, dan tentang berbedanya perlakuan. Ketika di penghujung SMP-masa sibuknya ujian, baru berhasil menemukan jawaban. Patriarki! Selain dari buku yang dibacanya, ia juga mendapatkan pemahaman dari Ersya-mahasiswa yang sedang KKN di desanya. Mengajari banyak hal setiap malam. Berbagi perhatian dan juga memberikan perlindungan layaknya seorang kakak kepada adiknya. Tiga bulan sudah, tiba masanya Ersya harus pulang. Tugasnya telah selesai dan harus menyelesaikan studinya di kota asal. Tentu saja Allsya pun tak baik-baik saja setelah perpisahan. Terciptanya kebersamaan membuatnya merasa sangat kehilangan. Terlebih ketika mimpinya dipaksa mati oleh sang ayah dengan jeratan sebuah perjodohan. Ketika ia datang padaku, memberanikan diri bercerita tentang sekelumit hidupnya sebagai upaya menyembuhkan diri, maka mata hatiku merubah cara pandang tentangnya. Menebas segala prasangka yang sempat tercipta karena kesaksianku yang tidak utuh. Keputusannya datang padaku adalah momentum terbaik untuk melengkapi bagian rumpang yang senantiasa mengundang pikiran yang bukan-bukan serta kesimpulan tanpa rujukan. Namun, secara tidak langsung ia mengajakku bermain-main dalam labirinnya. Bahkan bukan lagi bersifat ajakan melainkan sebuah paksaan karena ini menyangkut tanggung jawab profesi. Baiklah, dengan bantuan diary sebagai saksi bisu sang pemiliknya yang dibiarkan aku baca, kesedian ia terus terang bercerita, kesaksian seorang lelaki yang sangat kupuja, serta mataku sendiri yang menyaksikan beberapa bagian hidupnya secara langsung, aku susun benang merah dari hidup seorang pasien nomor sembilan. Silahkan, saksikan saja kinerjaku ini!
All Rights Reserved
#288
mental
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Jejak wasiat kakakku
  • ANTAGONIS MOTHER || REVISI
  • Badgirl Vs Ketos(ongoing)
  • My Duchess / End
  • Why Do You Love Me [COMPLETED]
  • Good Doctor
  • Your Choice (REPOST)
  • Kau Akan Temukanku Digaris terdepan
  • ANDAI AKU PUNYA KESEMPATAN LAGI (TAMAT)

Namaku Alya. Dan aku tidak pernah menyangka bahwa langkah kakiku suatu hari akan menggantikan jejak perempuan paling kuat yang pernah aku kenal: kakakku, Alisa. Sudah hampir setahun aku tinggal di rumah besar bercat abu muda itu, rumah yang dulunya hanya aku singgahi saat libur semester atau ketika merindukan masakan kakakku. Tapi sejak Alisa divonis kanker paru-paru stadium lanjut, rumah itu menjadi dunia baruku. Aku memilih cuti kuliah, meninggalkan kosan kecilku di Jogja, dan kembali ke kota ini-demi merawatnya. Aku masih ingat hari ketika pertama kali datang kembali ke rumah itu. Anak-anak Alisa, Rani dan Dafa, langsung berlari memelukku. Rani sudah kelas dua SD, dan Dafa masih TK. Mereka belum tahu betapa besar badai yang sedang menunggu kami semua. Dan di tengah rumah itu, ada sosok pria yang paling jarang bicara: Rayhan. Suami Alisa. Kakak iparku. Ia selalu tenang. Terlalu tenang, bahkan saat Alisa harus masuk rumah sakit untuk ketiga kalinya bulan itu. Ekspresinya nyaris tidak berubah-datar, kaku, dan kadang membuatku bertanya-tanya apakah ia benar-benar mencintai kakakku atau hanya hidup berdampingan karena kebiasaan. "Mas Rayhan, teh hangatnya," kataku malam itu, sambil meletakkan cangkir di meja. Ia hanya menoleh sekilas. "Makasih." Lalu kembali tenggelam di balik layar laptopnya. Begitulah Rayhan. Ia tidak pernah kasar, tidak pernah marah, tidak pernah meninggikan suara. Tapi juga tidak pernah benar-benar hadir. Ia adalah tipe laki-laki yang, entah kenapa, membuat dada terasa sesak hanya karena terlalu hening. Sementara itu, kondisi Alisa kian memburuk. Berat badannya turun drastis, rambutnya mulai rontok karena kemoterapi, dan batuknya sering berdarah. Tapi ia tetap tersenyum. Tetap berusaha mencatat tugas-tugas sekolah Rani, tetap memeluk Dafa sebelum tidur. Suatu malam, saat aku menemaninya di kamar, Alisa mem

More details
WpActionLinkContent Guidelines