Extraordinary Ten One

Extraordinary Ten One

  • WpView
    Reads 16
  • WpVote
    Votes 2
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Jan 2, 2022
10-1 cuma kelas biasa yang ada di SMANSA. Yah sejujurnya tidak terlalu biasa saja, kami hanya sedikit berbeda dari kelas lainnya, itupun anggapan beberapa pihak. Beberapa guru dan murid kelas lain menganggap kami lebih 'spesial' dibandingkan yang lainnya, alasannya sederhana saja, karena kami masuk ke sekolah melalui 'jalur khusus' yang tidak semua orang bisa melaluinya. Karena itu mereka seakan-akan meletakkan kami pada tingkat yang berbeda dengan yang lain. Padahal jika melihat kelas tetangga, 10-1 bukanlah kelas yang paling sempurna, kami akui masih banyak anak yang lebih berbakat dan eksis daripada kami. Jika dibandingkan dengan mereka, 10-1 seakan hanya pinggiran martabak, tapi martabaknya super spesial tentunya.
All Rights Reserved
#439
classmates
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • CLASS F
  • Certainty [REVISI & TERBIT]
  • Ke : Kurikulum Kakak Kelas (Completed)
  • Class X Family
  • My Class
  • IPA VS IPS [END]
  • Asam Manis Putih Abu(Edisi kelas purba)
  • IPA & IPS
  • Einstein ✔ ✔
CLASS F

Kelas F di mata penghuni sekolah : 1. Kumpulan anak dengan IQ jongkok. 2. Penghuni tetap ranking 20 terbawah di jurusannya. 3. Solidaritas dalam kelas nilainya F alias fana. Nyaris tidak pernah tercipta. 4. Trouble maker alias parasit sekolah. 5. Para pemilik masa depan kurang jelas. Perihal pernyataan di atas fakta atau bukan, itu tergantung cara kalian memandangnya. Yang jelas, anak-anak itu tidak peduli, atau memilih untuk masa bodoh dengan penilaian manusia-manusia yang merasa dirinya lebih baik dari orang lain. Mereka tidak peduli dengan nilai ulangan yang tidak mencapai KKM, dengan materi pelajaran yang diberikan guru, dengan PR yg harus dikumpulkan tepat waktu, dengan tata tertib dan aturan yang tidak boleh dilanggar, juga tentang ujian nasional yang katanya menentukan masa depan. Hingga suatu hari, sang wali kelas terancam dipecat karena dianggap gagal mendidik mereka. Hanya ada dua pilihan yang bisa dilakukan anak-anak itu. Menjadi egois atau peduli. °°° A/n. Cerita ini ditulis sebagai salah satu bentuk kampanye #IndonesiaMembaca dengan bertemakan Teen Literature. #TeenlitIndonesia @teenlitindonesia

More details
WpActionLinkContent Guidelines