Si Sulung Aria

Si Sulung Aria

  • WpView
    Reads 10
  • WpVote
    Votes 8
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Jan 3, 2022
Si sulung Aria. Si serba bisa Aria Si pintar Aria. Si sempurna Aria. "Aria kamu harus bisa ini!" "Aria, kenapa begini. Seharusnya kamu nggak boleh salah yang ini" Mereka menuntut Aria sempurna, karena memang harusnya Aria sempurna. Aria adalah anak sulung dalam keluarganya. Ketika Ibunya sakit, kehidupannya perlahan berubah. Hingga Aria harus merelakan kehidupannya ketika Ibunya meninggal dunia. Aria si sulung diberikan tekanan dan tanggung jawab yang besar dalam hidupnya. Aria harus bisa ini, Aria harus bisa itu. Tanpa orang lain sadari, sebenarnya Aria kesulitan. Dipaksa berdiri tegap, Aria sebenarnya bungkuk. Di saat semua orang bersandar padanya, Aria tidak memiliki tempat bersandar. Dengan semua usaha yang dilakukannya, Aria bahkan tidak mendapatkan penghargaannya. Padahal yang diinginkan oleh Aria hanyalah kalimat penghargaan dan pelukan hangat dari keluarga dan orang sekitarnya. Aria ingin dihargai karena usahanya. Aria ingin dihargai karena sudah mengalah.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • ALYA
  • Assalammualaikum, Ustadz [END]
  • troublemaker VS ketos! ✔
  • Go To Jannah With My Husband [ ON GOING ]
  • Pelukan Untuk Aira
  • I MUST BE PERFECT?
  • save me
  • Di Balik Niqab [TERBIT]
  • Constellations From The Room
  • Almost Us
ALYA

Alya melangkah menuju sekolah dengan langkah pelan. Jalanan pagi itu sepi, hanya suara burung berkicau yang menemani. Biasanya, ia akan berangkat lebih awal untuk membaca buku di perpustakaan, tapi hari ini hatinya terasa berat. Sesampainya di sekolah, suasana berbeda jauh dari rumahnya. Di sini, Alya bukanlah anak yang diabaikan. Ia dikenal sebagai murid berprestasi, ketua klub sains, dan siswa yang sering membawa nama sekolah ke ajang perlombaan. Teman-teman dan guru-guru menghormatinya. Saat ia memasuki kelas, seorang temannya, Dinda, langsung menghampirinya. "Alya! Kamu udah siap buat ujian hari ini? Kayaknya ini bakal susah banget!" kata Dinda panik. Alya tersenyum kecil. "Aku sudah belajar semalam. Semoga saja bisa mengerjakan dengan baik." Dinda menghela napas. "Duh, enak banget jadi kamu. Pinter, rajin, selalu menang lomba. Orang tuamu pasti bangga banget, ya!" Ucapan itu membuat senyum Alya menegang. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Haruskah ia mengatakan yang sebenarnya? Bahwa tidak peduli berapa banyak piala yang ia menangkan, orang tuanya tidak pernah benar-benar peduli? Alya hanya tertawa kecil. "Iya, semoga saja." Gmn kelanjutan nya? Langsung baca aj yaa See you, semoga suka sama ceritanya >_- Dilarang keras plagiat karya gw⚠️

More details
WpActionLinkContent Guidelines