RAGADIPTA [slow update]

RAGADIPTA [slow update]

  • WpView
    LECTURES 546
  • WpVote
    Votes 363
  • WpPart
    Chapitres 4
WpMetadataReadEn cours d'écriture
WpMetadataNoticeDernière publication lun., janv. 31, 2022
WpInfo
Fiction
Romance
𝐊𝐚𝐮 𝐭𝐚𝐡𝐮, 𝐬𝐞𝐛𝐚𝐛 𝐭𝐫𝐚𝐮𝐦𝐚 𝐚𝐝𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐥𝐮𝐤𝐚 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐞𝐧𝐝𝐚𝐩, 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐤𝐚𝐮 𝐛𝐢𝐚𝐫𝐤𝐚𝐧 𝐭𝐞𝐭𝐚𝐩 𝐦𝐞𝐧𝐞𝐭𝐚𝐩. 𝐏𝐢𝐥𝐢𝐡𝐥𝐚𝐡 𝐩𝐮𝐥𝐢𝐡, 𝐚𝐭𝐚𝐮 𝐥𝐚𝐧𝐣𝐮𝐭𝐤𝐚𝐧 𝐡𝐢𝐧𝐠𝐠𝐚 𝐫𝐢𝐧𝐠𝐤𝐢𝐡. 𝓡 Aruna, dan Ragadipta. Adalah contoh manusia yang hidup dengan berbagai efek dari trauma yang mendera. Dan, mereka selalu punya pilihan, juga kesempatan. Tapi sayangnya, tidak semua pilihan adalah yang terbaik, dan tidak semua kesempatan bisa dimanfaatkan dengan baik.
Tous Droits Réservés
#412
trustissues
WpChevronRight
Rejoignez la plus grande communauté de conteursObtiens des recommandations personnalisées d'histoires, enregistre tes préférées dans ta bibliothèque, commente et vote pour développer ta communauté.
Illustration

Vous aimerez aussi

  • Sudut Luka Nazea
  • JATUH CINTA SETELAH MENIKAH
  • ARUNA Dalam Diam, Aku Tumbuh
  • Berbahagialah Dengan Rumah Barumu
  • Stay Or Gone ✓
  • Game of Hearts [REVISI]
  • Skenario Semesta || Re-publish

"ketakutan terbesar seorang anak adalah perpisahan orang tuanya. Kehilangan mama dan papa sama halnya dengan kehilangan seluruh napas. Enggak ada mama sama papa rasanya sunyi dan hampa, rasanya berkali-kali lipat lebih sakit dari apapun. Dunia juga terasa sudah tidak berarti." ~Queenza Nazea Azalea ˚₊‧꒰ა☁️☁️☁️໒꒱ ‧₊˚ Di ajarkan melangkah, meski tertatih-tatih dan berujung jatuh. Di latih menapaki tangga meski berulang kali terhenti karna lelah. Bagi nazea, hal yang paling menyedihkan adalah ketika dihadapkan dengan kehancuran keluarga. Nazea benci perpisahan. Karena nazea tidak suka di tinggalkan. Nazea benci sendirian, karena nazea kesepian. Namun, apa yang sudah retak, akan tetap pecah. Pada akhirnya, meskipun nazea tidak suka, nazea harus menerima. Ada yang mengangkat tangan tinggi-tinggi seraya menjerit tak sanggup, ada yang menyembunyikan kepedihan sekuat mungkin sembari terus menerus mengulas senyum. Karena hanya diperuntukkan dua pilihan, bertahan atau menyerah? Atau lebih tepatnya, mampukah berdiri di atas ubin keikhlasan? "lagi, dunia kembali mempermainkan hidupku. Namun, sampai kapan?"

Plus d’Infos
WpActionLinkDirectives du Contenu