Istikharah Cinta

Istikharah Cinta

  • WpView
    Reads 196
  • WpVote
    Votes 21
  • WpPart
    Parts 5
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Dec 11, 2023
"Tanyakan pada Tuhan mu Salma. Bolehkan aku yang bukan umat-Nya, tetapi mencintai hamba-Nya." Tubuhku menegang kaku. Sudah waktunya kah? Aku belum siap ya Allah. Aku tidak ingin menyakitinya. Tapi mengapa dia dengan lugas mengatakan perasaanya padaku. Sebelumnya tidak pernah. Apa yang harus ku jawab. " لَـكُمْ دِيْنُكُمْ وَلِيَ دِيْن "Untukmu agamamu, dan untukku agamaku." Q.S Al-Kafirun Ayat 6. Agama kita jelas berbeda Marteen, dan kamu tahu itu. Tolong jangan menempatkan ku pada situasi yang sulit." "Kamu hanya tinggal mengatakan ya, atau tidak. Tidak ada yang menyulitkanmu." "Jangan membuatku terpaksa menyakitimu yang nantinya hanya akan membuat mu membenciku. Aku tidak ingin persahabatan kita berempat rusak hanya karena kamu menaruh hati padaku." "Apa yang salah dengan mencintai seseorang?" Tubuhku bergetar. Tuhan aku ingin menangis. "Jalan mu yang salah. Banyak wanita yang jauh lebih baik daripada aku. Yang seiman dengan mu. Yang bisa bersanding dengan mu dan pastinya bukan aku. Aku selalu berdo'a semoga kamu mendapat yang terbaik." "Tapi bagiku kamu yang terbaik. Tidak akan ada yang bisa menggantikanmu di hatiku." Aku menetralkan nafas ku yang tidak beraturan. Tenggorokan ku terasa tercekat karena menahan tangis sedari tadi. "Terkadang Tuhan menguji umat-Nya dengan cinta beda agama. Hanya untuk memastikan apakah umat-nya lebih mencintai pencipta-Nya. Atau ciptaan-Nya." Aku sedikit takut melihat Marteen yang mengepal kan tanganya di bangku halte. Apa dia ingin menyakitiku? Tidak! Marteen bukan orang yang seperti itu. Aku sedikit bernafas lega karena Marteen tidak membalas perkataan ku. Ya Allah, semoga Marteen sadar bahwa perasaanya selama ini untuk ku adalah sebuah kesalahan. Mana orang yang akan menjemputku? Mengapa lama sekali? "Bisakah kamu bilang pada Tuhan mu Salma? Aku hanya mencintai hamba-Nya. Bukan merebut dari-Nya." Hatiku kembali berdesir mendengar kata-kata lirih yang Marteen ucapkan.
All Rights Reserved
#433
kocak
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Tsuroyya; Mengejar Mentari di bawah Purnama
  • Kita Beda Tuhan [TAMAT]
  • Kusebut Namanya Dalam Akad
  • Laskar Pemimpi || NCT Dream (on going)
  • The Story Of Aghea
  • Dia dan Doa
  • di akhir perang
  • Sebuah Usaha Mencintai [TAMAT]
  • Air Mata Cinta
  • Saya Mencintaimu Karena Allah [Sudah Terbit]

kita pasti pernah merasakan friendzone. kata orang, tidak mungkin dalam hubungan persahabatan antara laki-laki dan perempuan tidak ada yang menyimpan rasa. entah salah satu atau bahkan kedunya. "Jika memang dia jawaban atas doa-doamu, bukankah kau memang harus menerimanya, Lif?" "Lalu, bagaimana jika ternyata aku menyebut nama lain dalam doa-doaku?" "Apa nama lain itu namaku, Lif?" dengan suara yang begitu lirih ia bertanya Gadis itu mengangguk, "Lif, aku memang menaruh harap padamu. Aku juga menyebut namamu disetiap sujudku. Namun, ada hal lain yang membuat aku tidak bisa melanjutkan harapanku" "Kalimatmu justru tidak memberikan jawaban apa-apa, Ham. Aku kecewa, kau terlalu pengecut. Aku benci itu" Haruskah Alif berbalik arah? Meninggalkan semua yang berkaitan dengan citanya dan memilih hati yang membuatnya menjadi perempuan istimewa? Namun kenyatan yang ia jumpai begitu memilukan. Hatinya mungkin bisa ia genggam, namun tidak dengan hari-hari di masa depannya. Jangan berliku macam apalagi yang harus ia tempuh? Apakah logikanya lemah setelah itu? Seperti perempuan kebanyakan, akankah ia mengandalkan perasannya? Mari simak kisahnya Salam Friendzone LA_IN

More details
WpActionLinkContent Guidelines