Senja

Senja

  • WpView
    Reads 12
  • WpVote
    Votes 2
  • WpPart
    Parts 6
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Feb 16, 2023
Ikhlas Satu kata yang mewakili ku saat ini. Apapun yang ku punya harus ku ikhlaskan. Aku Claura Senja Atalarik, si wanita tangguh yang terlihat dari luar namun kenyataanya tak sesuai ekspektasi. Banyak yang ingin menjadi diriku, yang ingin berada di posisi ku, tetapi nyatanya aku adalah aku, aku yang harus merelakan lalu mengikhlaskan apapun yang aku punya satu persatu, mau itu barang ataupun seseorang. Diriku bukan orang yang cepat mengikhlaskan sesuatu apalagi mengikhlaskan seseorang, dan juga diriku tidak menyesal memberinya hanya saja diriku belum ikhlas. Mungkin kebahagiaanku sama seperti namaku yang hanya hadir sesaaat. Claura "Senja" Atalarik Seperti senja yang hanya muncul sesaat, hadirmu juga hanya datang sesaat lalu pergi dengan membawa luka.
All Rights Reserved
#738
duka
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Senja Yang Tak Kembali
  • Saat Semua Sudah Terjadi Dan Penyesalan Datang Terlambat [END]
  • 𝙄𝙧𝙧𝙚𝙥𝙡𝙖𝙘𝙚𝙖𝙗𝙡𝙚 - Sehun x Yoona ✔️
  • Jika esok Tak Pernah Ada
  • DANADYAKSA
  • Cerita di Balik Senja
  • DEAR CAKRAWALA
  • Kinara
  • Lost in Reverie [Moqeel]

Senja selalu punya cara untuk mengingatkanku padanya. Pada warna jingga yang memudar perlahan, pada langit yang semakin gelap, dan pada perasaan yang tak pernah benar-benar pergi. Aku masih mengingatnya dengan jelas- hari pertama aku melihatnya, tawa kecilnya yang ringan, dan caranya berbicara seolah dunia ini adalah tempat yang penuh keajaiban. Aku juga masih ingat saat aku akhirnya mengumpulkan keberanian untuk mengungkapkan perasaanku, hanya untuk mendengar jawaban yang sudah kutakutkan sejak awal. "Aku nggak bisa, Rak... Maaf." Kalimat itü terus terulang di kepalaku, seperti kaset rusak yang tak bisa kuhentikan. Tapi anehnya, aku tetap di sini. Aku tetap bertahan. Mungkin ini bodoh. Mungkin aku hanya menggenggam sesuatu yang seharusnya kulepaskan sejak lama. Tapi, bagaimana caranya melepaskan sesuatu yang sudah menjadi bagian dari diri sendiri? Senja yang pernah menyatukan kami kini menjadi saksi bahwa beberapa hal memang tidak bisa kembali seperti dulu. Namun, meski tak bisa kumiliki, aku masih menyimpan perasaan ini. Bukan untuk berharap, bukan untuk menunggu, tetapi sekadar untuk mengenang bahwa aku pernah mencintai seseorang dengan seluruh hatiku. Dan itu sudah cukup.

More details
WpActionLinkContent Guidelines