LengGiAl
  • WpView
    Reads 3
  • WpVote
    Votes 1
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Jan 9, 2022
Pagi, waktu awal memulai hari dan melanjutkan kehidupan, sang surya pun tampak mengapung dalam indahnya, cahayanya yang terang sekarang hanya remang - remang, langit biru itu tertutupi abu - abu dan hitamnya awan, rintik air mulai berjatuhan dengan guntur yang saling bertabrakan. Seorang anak kecil sedang menatap keluar dari jendela kamar inap yang mewah dengan baju kebesaran yang sederhana namun terlihat menyakitkan, matanya memandang jauh ke atas seakan ia melihat sesuatu keindahan sebelah tangan mungil nan lucunya terangkat untuk menyentuh rintiknya hujan, mata biru lautnya berbinar dengan senyuman yang mengembang namun matanya menyiratkan kesedihan, air mata sebening kristal pun tak bisa terbendung menetes bersamaan dengan hujan namun senyum itu tak pernah memudar. Lengkara Gionathan Alderick nama yang begitu indah selaras dengan pemilik, namanya tak seindah dunianya dan impianya yang tak mungkin bisa ia raih. Tangan itu tak kunjung ia turunkan, ia menangis tanpa suara, ingin meraung namun apa guna? Tenagapun tak ada hanya sakit dan lemas yang dirasa, ia begitu kecil namun tekadnya begitu besar dan berambisi, ia hanya anak kecil yang lemah namun begitu kuat. Ia menurunkan tangannya dan mengusap kedua matanya dengan kasar. Ia mengernyit, pusing itu kembali menyerang, penglihatan pun semakin kabur dan rumit, ia kembali ke brankar dengan tergopoh-gopoh, tapi percuma tenaganya semakin menghilang dan sakitnya makin bertambah. Ia bisa apa! Ia hanya anak kecil!! Pasrah yang ia bisa, tubuh mungilnya ambruk dan berahir dengan gelap, bersamaan dengan seseorang berjas masuk bersama beberapa orang. cerita gabut yang paling aku suka dan juga khayalanku saat aku mau tidur, beda banget kan sama orang orang wkwk.
All Rights Reserved
#302
iloveyou
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Katanya Jadi Anak Terakhir Enak - WOONHAK [Terinspirasi dari kisah nyata]
  • Satintail
  • Siapa Kau, Mama? - 𝐍𝐚𝐡𝐲𝐮𝐜𝐤
  • ADIKARA ELUSIF (END)
  • The Last Birthday With You
  • ★BABY ZION★
  • Lara yang tak kunjung USAI ||•ondah•||

Sejak hari itu, ayah tak pernah lagi menginjakkan kaki ke rumah. Tapi bayangannya masih menempel di tiap sudut di kursi kayu ruang makan, di seragam kerja yang masih tergantung di lemari, bahkan di kepala Wilano yang mulai sulit membedakan antara rindu dan benci. Dan suatu sore, saat langit menggantung kelabu dan gerimis turun perlahan, ledakan itu terjadi. "Gue bakal ke rumah Ayah bentar, mau ngobrol langsung," kata Rian pelan, mengambil jaketnya di gantungan. Suaranya hati-hati, tapi cukup untuk membakar emosi Seno yang sejak pagi sudah seperti bom waktu. "Ngapain lo ke sana?! LO PILIH DIA?!" Semua yang ada di ruang tengah menoleh. Suara Seno menggelegar, membuat udara di rumah seperti bergetar. Rian menoleh cepat, matanya melebar tak percaya. "Gue cuma mau bicara, Sen. Dia tetap ayah gue juga. Lo gak bisa larang gue ketemu orang yang selama ini ngerawat gue!" sahut Rian, nadanya naik. "Dia bukan ayah lo. Dia pengkhianat. Dan siapa pun yang masih mau bela dia... gak layak tinggal di sini." Suasana berubah tegang. Jaya berdiri setengah badan, siap menengahi kalau sewaktu-waktu keadaan makin memanas. Theo mengerutkan alis, tapi tetap tak banyak bicara. Wilano menatap semuanya dengan mata membesar. Dia tak mengerti, mengapa semuanya harus sejauh ini. Leon, yang sedari tadi diam, berdiri perlahan. "Kalau lo pikir begitu... gue ikut Bang Rian."

More details
WpActionLinkContent Guidelines