Sebatas Formalitas

Sebatas Formalitas

  • WpView
    Reads 1,042
  • WpVote
    Votes 164
  • WpPart
    Parts 12
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Oct 30, 2023
WpInfo
Fiction
Romance
"Takdir aku dan kamu adalah sebuah pertemuan. Sebab kamu dapat mengajarkan aku arti sebuah keluarga sesungguhnya, mungkin sampai jenjang pendidikan tertinggi pun aku tidak akan menemukan ilmu itu." ~Damian Pratama Aditomo "Kamu bukan sebuah alasan untuk aku mendapatkan kecukupan materi, tetapi kamu sebuah alasan untuk aku bisa menjadi diri sendiri." ~Lembayung Senja ____________________________________________________ Hal itu membuat Senja menggerutu kesal dan ia mengalihkan tatapannya ke arah lain. "Terserah bapak mau anggap saya apa, tapi saya ingatkan bapak itu sudah keterlaluan kepada saya. Bapak dengan mudahnya menawarkan sebuah pernikahan kepada saya. Apalagi dengan pernikahan kontrak seperti itu, saya sebagai perempuan nggak bisa menerima hal itu." Damian kembali tersenyum. "Iya, nggak usah marah gitu. Saya cuma bercanda, nggak mungkin juga saya menawarkan pernikahan kepada orang yang baru saja saya temui." Senja mengangguk paham dan ia memilih diam saja. "Sebatas formalitas aja nggak masalah juga rasanya, jelas-jelas saling menguntungkan, bukan?" Kembali Damian mengatakan hal itu dan membuat Senja menatapnya dengan bingung. "Jadi bapak masih membicarakan hal itu?"
All Rights Reserved
#160
karyawan
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Cerita di Balik Senja
  • After We Got Married
  • Silent, Please! (Re-up)
  • Rindu
  • AUDREY
  • Where's Home
  • Bad Papa
  • i hate you bossy!
  • Oddly Coupley (Complete)

"Senjanya bagus banget," suara gadis kecil yang sedang berdiri menatap langit yang berwarna oranye dengan angin yang menyapu pelan wajahnya. "Ayah... Ayah lihat! Langit nya bagus banget," Jawab gadis kecil itu dengan senyum bak bulan sabit pada wajahnya. Laki-laki berbadan tegap dengan struktur wajah yang tidak jauh dengan gadis kecil di hadapannya, kini berjongkok untuk menyamakan tingginya dengan gadis itu. Lebih tepatnya, mereka adalah sosok ayah dan seorang anak. "Senja, Senja tahu, kenapa ayah memberi nama Senja, itu 'Senja'?" mendengar pertanyaan yang tidak bisa di jangkau oleh pikiran anak kecil yang bernama senja itu, ia hanya menggeleng. Lalu, ia bertanya " memangnya kenapa ayah?" Tanya Senja pada sang Ayah. "Karena Senja itu indah, dia juga ikhlas, dan dia selalu mengingatkan ayah pada almarhum ibu kamu, Senja." Senja mengerutkan alisnya, ia bingung dengan apa yang ayahnya ucapkan. "Senja masih nggak tahu maksud ayah." "Nggak papa sayang, saat ini Senja memang belum mengerti. Tapi nanti, Ayah yakin kamu pasti mengerti maksud ayah. Oke Langit Senja?" "Oke ayah!" Senja memeluk Ayah nya dengan erar tanpa sekat sedikitpun.

More details
WpActionLinkContent Guidelines