Sebatas Formalitas

Sebatas Formalitas

  • WpView
    Reads 1,042
  • WpVote
    Votes 164
  • WpPart
    Parts 12
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Oct 30, 2023
WpInfo
Fiction
Romance
"Takdir aku dan kamu adalah sebuah pertemuan. Sebab kamu dapat mengajarkan aku arti sebuah keluarga sesungguhnya, mungkin sampai jenjang pendidikan tertinggi pun aku tidak akan menemukan ilmu itu." ~Damian Pratama Aditomo "Kamu bukan sebuah alasan untuk aku mendapatkan kecukupan materi, tetapi kamu sebuah alasan untuk aku bisa menjadi diri sendiri." ~Lembayung Senja ____________________________________________________ Hal itu membuat Senja menggerutu kesal dan ia mengalihkan tatapannya ke arah lain. "Terserah bapak mau anggap saya apa, tapi saya ingatkan bapak itu sudah keterlaluan kepada saya. Bapak dengan mudahnya menawarkan sebuah pernikahan kepada saya. Apalagi dengan pernikahan kontrak seperti itu, saya sebagai perempuan nggak bisa menerima hal itu." Damian kembali tersenyum. "Iya, nggak usah marah gitu. Saya cuma bercanda, nggak mungkin juga saya menawarkan pernikahan kepada orang yang baru saja saya temui." Senja mengangguk paham dan ia memilih diam saja. "Sebatas formalitas aja nggak masalah juga rasanya, jelas-jelas saling menguntungkan, bukan?" Kembali Damian mengatakan hal itu dan membuat Senja menatapnya dengan bingung. "Jadi bapak masih membicarakan hal itu?"
All Rights Reserved
#200
karyawan
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Don't call it love!
  • Na Jaemin : Crazy Rich Jaemin [Completed]
  • ℝ𝔼𝕍𝔸𝕃ℤ𝔼ℕ 𝔸𝔼ℝ𝕃𝔸ℕ𝔾𝔾𝔸 //𝑅𝑒𝑣𝑖𝑠𝑖\\
  • Cerita di Balik Senja
  • Langkah Seiring (END+EXTRA PART)
  • JODOH salah ngomong
  • Oddly Coupley (Complete)
  • i hate you bossy!
  • Silent, Please! (Re-up)
  • Derita Istri Kedua Dosen

Semesta rasanya tidak berpihak pada Cyntia. Tidak hanya perusahaannya yang sedang berada dibawah roda kehidupan, tetapi neneknya sakit dan terus memaksanya menikah. Orang yang ia cintai dan mencintainya pun hilang tak ada kabar. Tak ada pertolongan rasanya. Pada akhirnya pilihan terburuk muncul. Ah, mungkin tak bisa disebut pilihan. Ia harus melakukan itu dengan terpaksa. Pria yang melukiskan kehidupan kelamnya pun muncul. Konyol rasanya saat pria itu mengajaknya menikah. *** Aku tak tahu apa itu cinta. Bahkan, saat ini bagiku itu satu kata yang abstrak luar biasa. Baginya rasa yang terasa itu cinta, tetapi mengapa rasanya merusak jiwa raga. Bagiku itu bukan cinta, melainkan suatu rasa yang amat hampa. Akhirnya satu kata menjadi beda makna. "Bukankah kau sangat membenciku?" Tanyaku. Ia diam, tanpa menatap mataku. Secara tak sadar aku tersenyum sinis padanya dan aku berusaha menahan rasa kesalku. "Apakah melemparkan susu basi ke wajahku adalah bentuk rasa suka?" Aku mengungkit masa lalu. Matanya pun mulai menatap mataku. Aku takut dengan wajah itu. Di bawah meja tersembunyi tangan gemetarku. Mataku berpura-pura tegar saat bertemu matanya itu. Aku berusaha bicara meski lidahku terasa kelu. Aku berusaha berdiri tegak meski kakiku tak berdaya. Waktunya pergi dari hadapannya. Aku akan katakan terakhir kalinya. "Jangan sebut itu cinta!" "Aku melamarmu bukan karena cinta. Bukankah, seharusnya kau yang memohon padaku agar kita bisa memanfaatkan satu sama lain?"

More details
WpActionLinkContent Guidelines