Question Mark

Question Mark

  • WpView
    Reads 13
  • WpVote
    Votes 7
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Jan 1, 2025
Dia menyentuh bandul kalungnya, mengusap ukiran huruf H pada kalung, membuat permata merah berbentuk mawar kecil pada bagian atas ukiran bersinar kedip. Tungkai kaki yang melangkah maju membuat targetnya berusaha mundur menjauh. Entah orang itu bodoh atau otaknya tidak bisa bekerja dengan benar saking takutnya, dia tetap berusaha mundur walau tubuhnya sudah mentok bersentuhan dengan kaca cermin dibelakangnya. Atau mungkin dia berharap kaca cermin itu secara tiba-tiba berubah menjadi black hole lalu menelannya? entahlah, yang jelas usaha orang itu sangat sia-sia. Kaki kanannya menginjak kaki kiri Dayat, tidak kuat, tapi cukup menghentikan lelaki itu terus bergerak walau badannya malah semakin bergetar. Dia membungkuk, mencengkeram kuat rahang Dayat dengan tangan kirinya, lalu mendongak paksa kepala lelaki itu agar menatapnya. Sementara tangan kanannya dia gunakan untuk mengambil pisau lipat dari dalam saku hoodie-nya, membuka mata pisau lalu mengarahkannya pada mata kiri Dayat. "Here we go,--
All Rights Reserved
#801
detektif
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Diary Of Rain [END]
  • ADIKARA ELUSIF (END)
  • Moncake : Murder in Dreaming (Moncake Prime Cases Batch 1)
  • The Killer [END]
  • Him or him?
  • [END] High School of Mystery: Cinereous Case
  • KURO BARA ( The Black Rosses )
  • DI BALIK ANDROMEDA (END/REVISI ULANG)
  • Detective Vina
  • Legend of The Death Angel (LoDA)

Aku beringsut berdiri dan berniat meninggalkan kamar ini secepatnya. Tapi tanganku dicekal olehnya dan langsung ku sentak dengan keras hingga terlepas. "Rain..." panggil Lano namun tak berniat ku hentikan langkah ini ataupun menoleh kebelakang. Namun ketika menyentuh kenop pintu, dua lengan kekar memelukku dari belakang. "Jangan pergi" hembusan nafas yang terasa panas menerpa kulit leherku yang terbuka. Aku memberontak dan memukul-mukul tangannya yang melingkar diperut "Lepas! Lepaskan!!!" teriakku dengan suara parau Bukannya melepas, Lano semakin mengeratkan pelukannya. Tenagaku terkuras habis, sebanyak apapun tenaga yang ku keluarkan untuk lepas dari kukungannya hasilnya tetap sama. Aku masih dalam dekapannya. "Aku benci kau Lano..." Pandanganku memburam seiring mata yang tertutup. Akhirnya aku menyerah dalam pelukannya. Disisa kesadaran aku mendengar suaranya yang nyaris seperti bisikan. "Maaf..."

More details
WpActionLinkContent Guidelines