Ragan
  • WpView
    Reads 23
  • WpVote
    Votes 12
  • WpPart
    Parts 5
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Sep 29, 2022
WpInfo
Fiction
Romance
Ambar memilih duduk di kursi yang ada di dekat ruang musik. Dia capek. Kakinya pegal. Dan dia sangat haus. Ambar celingukan berharap ada orang yang dapat dia tanyai. "Kalau ada yang lewat dan itu cewe gue jadiin sahabat. Kalau cowok gue jadiin pacar deh." Ambar terkekeh mendengar ucapannya sendiri. Kata-kata itu dia kutip dari sinetron yang ditontonnya tadi malam bersama bundanya. "Seriusan ini gak ada yang lewat? Apa ini tandanya gak ada yang mau jadi sahabat atau pacar gue?" monolog Ambar. Pasalnya, di sinetron yang dia tonton, selepas mengucapkan kalimat itu pasti ada saja yang lewat. Ambar terkekeh, "Ya itu kan sinetron. Udah di setting. Gitu aja percaya. Dasar Ambar." Dia merasa heran dengan dirinya sendiri. Mudah sekali percaya dengan hal seperti itu. Tidak disangka. Bagai malaikat penyelamat dari ujung lorong terlihat seorang siswa berjalan ke arahnya. Ambar menghentikan tawanya, matanya membulat sempurna. Dia merasa terkejut, lantaran ada orang yang lewat dan itu laki-laki. Catat. Laki-laki. Hei apakah dia harus menepati ucapannya barusan? "Ya ampun, itu beneran orang? Duh, masa gue harus jadiin dia pacar." Ujarnya pada dirinya. Akankah Ambar menjadikan sosok laki-laki tersebut sebagai pacarnya? Penasaran dengan lanjutan ceritanya? Yukk buruan baca. Enjoy:)
All Rights Reserved
#64
umum
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • BarraKilla
  • Angelista Geavano [Completed]
  • You are My Destiny (Completed)
  • Agga? Sucks! (SELESAI)
  • Senior
  • Naughty Nanny
  • Rahellitha
  • Gue Jadi Istri Muda ?
  • Arsyilazka
  • THE CLIMB [Completed]

LENGKAP! Follow akun ini sebelum baca🐧 Warning! Peringatan! Cerita ini bisa membuat kalian mengumpat, menangis, dan tertawa (jika satu SELERA)🍭 "Barr, aku juga nggak tahu kenapa Raden nyium aku." "Shit! Diem, Bego!" "Maaf." "Tahu nggak, kenapa gue nerima lo jadi pacar gue? Padahal lo yang nembak gue duluan di UKS dengan nggak punya malunya." "...." "Lo itu menyedihkan, Killa. Sangat menyedihkan. Gue selama ini cuma.... kasihan sama elo." "Barra, dada aku sakit." "See? Lo minta dikasihani lagi?" "Maaf." "Dan lo selalu mengatakan maaf biar lo semakin dikasihani." "Barra, kamu beneran mau aku pergi?" "Lo masih mau di sini? Nggak tahu diri banget. Habis ciuman sama suami orang, masih mau sama gue. Karena cuma gue yang bisa ngasih lo segalanya. Gue jijik sama elo." "Makasih, ya, udah mau jadi pacar Killa. Udah mau bahagiain Killa. Hehehe. Kita akhirnya pisah." "Gue nggak mau lihat lo lagi." "Hehehe." "...." "Barrabas Mahesa, makasih udah pernah jadi yang terbaik buat Killa." I loved, and I loved and I lost you. I loved, and I loved and I lost you. I loved, and I loved and I lost you. Titik tertinggi mencintai adalah tahu diri untuk menerima sebuah kehilangan. "Barra, kenapa cara kamu mencintai aku kayak gini?" • Demi kenyamanan Anda saat membaca, disarankan memfollow akun penulis terlebih dahulu. • Dilarang memperbanyak sebagian atau seluruh isi dalam cerita ini tanpa izin tertulis dari penulis. Semua yang ada dalam cerita ini murni hasil pikir penulis, maaf jika ada kesamaan nama, tempat, karakter, dan sebangsa itu. Selamat membaca!

More details
WpActionLinkContent Guidelines