Merayakan Diri Sendiri

Merayakan Diri Sendiri

  • WpView
    Reads 6
  • WpVote
    Votes 2
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Jan 14, 2022
WpInfo
Fiction
Romance
What I should put here? perasaanku? harapanku? atau sebaiknya ku tulis terserah saja? jika kamu mengira, cerita ini kisah dongeng dengan akhir yang bahagia, tidak untuk ceritaku. Tuhan memang tidak adil menurutku, saya dengan segala serapah kesedihanku sendiri. kau tahu bagaimana rasanya mati rasa? di suatu pagi kamu terbangun dengan perasaan begitu kosong, hampa tidak bertenaga. Bahkan untuk mengucapkan selamat pagi saja tidak berselera. padahal semuanya baik, tidak ada yang salah, keadaan telah membuatmu berdamai tapi tetap saja hatimu rumpang , matamu keruh, harapanmu mati. seperti ini perasaanku saat ini harapanku? Saya ingin berlalu, tanpa ingin lagi mengulang waktu, menggutuki diri karena begitu bodoh, saya begitu lelah memohon maaf tanpa balas. harapanku hanya ingin waktu membawaku menemukannya sekedar mengucap maaf sebagai Sorai perpisahan yang paling baik. Dan terakhir untuk semua mata yang begitu pemerhati, untuk tangan yang begitu peduli, dan untuk pundak yang pernah kamu tawarkan untuk bersandar, dan untuk hati yang pernah dengan cuma-cuma menjadi milikku. maaf aku begitu pengecut. __Elmatiana Jingga
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • ABOUT ME : Aku Ingin Istirahat
  • Sekali Lagi (End)
  • Our way (Key&Asya) [End]
  • Maaf' (Revisi)
  • ASMARALOKA
  • Semu [Completed]
  • Truth After Love, Kiara and Zaki (Tamat)
  • ALONE

"Kamu harus mendapatkan nilai sempurna." Ucap papaku dengan suara tegas, seolah-olah aku tak punya pilihan selain menjadi sempurna di matanya. "Kamu harus selalu mengalah dengan kakakmu." Ucap mamaku tanpa ragu dan menuntut. Bagi mama, akulah yang harus mengerti kakak dan mengalah jika bertengkar dengan kakak entah kakak yang benar atau salah. "Ini semua salahmu! Andai saja aku tak memiliki adik sepertimu!" Ucap kakakku dengan mata penuh kebencian, seakan keberadaanku adalah kutukan yang merusak hidupnya. "Kakakmu itu sudah sangat menderita, jadi kamu harus mengerti dia." Ucap nenekku, seperti akulah yang membuat kakak semakin menderita. "kamu mah enak! kamu pintar dan punya orangtua kaya!! Ga ada yang kurang dari hidupmu." Ucap salah satu teman perempuanku dengan nada iri, tanpa tahu betapa sepinya hidupku. "kamu beda banget sama kakakmu ya. Kakak mu cantik banget, tapi kamu? Jelek parah." Ucap salah satu teman laki-lakiku sambil tertawa, seolah aku hanyalah lelucon menyedihkan di matanya. "Terima kasih... Kamu selalu menjadi pendengar yang baik." Ucap sahabatku dengan nada lembut, tapi entah kenapa kata-katanya terasa seperti pengingat bahwa aku hanya ada untuk mendengar, bukan untuk didengar. Lalu, kakek menatapku. Matanya teduh, penuh kasih, berbeda dari yang lain. "Apa kamu benar-benar baik-baik saja, cucuku?" Ucap kakekku, satu-satunya suara yang terdengar tulus di antara semua itu. Aku ingin menangis. Aku ingin berteriak bahwa aku tidak baik-baik saja. Aku ingin mengatakan bahwa aku lelah, bahwa aku tak tahu harus bagaimana lagi. Tapi aku tersenyum lebar pada kakekku. Aku menahan air mataku agar tak jatuh, karena aku tahu... air mata tidak akan mengubah apa pun. "Aku baik-baik saja." Ucapku dengan nada ceria yang ku paksakan, seperti biasa. • Hasil karya sendiri • bahasa baku dan non baku • maaf kalau ada kesamaan tempat, nama, dsb dalam cerita *** Happy_Reading ***

More details
WpActionLinkContent Guidelines