Astral

Astral

  • WpView
    Reads 26
  • WpVote
    Votes 3
  • WpPart
    Parts 5
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Feb 12, 2022
No human being lives eternally, even though he has a conscience, his behavior is not necessarily like a conscience, his ego which always makes that behavior makes a human do something wrong. good and bad, a heart that cannot lie will make humans into creatures full of confusion about their behavior. Menceritakan kehidupan dimasa kini, dimulai dari kehidupan normal sampai sudah sangat buruk, In the world there are no good people, all people are the same, only different beliefs and uniqueness, namun, terkadang hati manusia sangat tidak senonoh, dunia itu hanya bahan cobaan dan yang abadi itu diakhirat. Cr cover : pinterest ilustrasion cerita menggambarkan kehidupan manusia , cerita hanya fiksi belaka jika ada kesamaan mohon di maklumkan karna ketidak sengajaan atau semacamnya
(CC) Attrib. NonComm. ShareAlike
#57
ilmupengetahuan
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • "Biarlah: Sebuah Kisah Tentang Sunyi dan Luka"
  • Kelamkari
  • Horibble Woman (END)
  • Behind The Smile (TERBIT)
  • BAD?! It's Me!{END}
  • CATATAN HARIANKU
  • I'M ANTAGONIS [END]
  • Isi Kepala

Hidup adalah panggung, dan setiap orang mengenakan topeng. Beberapa topeng begitu sempurna hingga bahkan pemakainya lupa wajah aslinya. Tawa bisa menjadi tirai, senyum bisa menjadi ilusi, dan kata-kata "Aku baik-baik saja" bisa menjadi kebohongan yang paling menyakitkan. Ini adalah kisah tentang seseorang yang menjalani hari-hari seperti biasa, seperti semua orang lainnya. Ia tertawa bersama teman-temannya, membantu keluarganya, mengisi waktunya dengan hobi, dan menjalani hidup seperti yang seharusnya. Tapi di balik semua itu, ada kehampaan yang tak terjelaskan, ada luka yang tak terlihat, ada pertanyaan yang tak pernah terjawab. Bagaimana rasanya hidup tanpa benar-benar merasa hidup? Bagaimana rasanya berjalan di dunia ini, tetapi tidak pernah benar-benar berpijak? Dan bagaimana jika, suatu hari, semuanya terasa terlalu berat untuk dilanjutkan? "Biarlah" bukan hanya sebuah cerita. Ini adalah perjalanan di antara cahaya dan kegelapan, kebahagiaan yang palsu dan kesedihan yang nyata, antara eksistensi dan kehampaan. Ini adalah kisah yang mungkin terlalu dekat dengan kenyataan-dan mungkin, terlalu sulit untuk diabaikan.

More details
WpActionLinkContent Guidelines