That's Me Clarissa

That's Me Clarissa

  • WpView
    LECTURAS 6
  • WpVote
    Votos 7
  • WpPart
    Partes 7
WpMetadataReadContinúa
WpMetadataNoticeÚltima publicación lun, feb 7, 2022
"kenapa lagi mbak?" "mas saya minta no rekeningnya deh, nanti saya transfer uangnya" "ngga usahlah mbak lagian cuma 20.000 anggap saja saya sedekah kepada orang yang membutuhkan" balasnya membuat clarissa cengo, tak percaya dengan perkataan si cowo. "duluan ya mbak, lain kali jangan lupa bawa uang cash" ucap si cowo sambil berlalu pergi tanpa tau bahwa clarissa sedang menahan emosinya agar tidak meledak. Berawal dari hal yang tak terduga, bagaimana jadinya akhir kisah mereka.
Todos los derechos reservados
#90
clarissa
WpChevronRight
Únete a la comunidad narrativa más grandeObtén recomendaciones personalizadas de historias, guarda tus favoritas en tu biblioteca, y comenta y vota para hacer crecer tu comunidad.
Illustration

Quizás también te guste

  • FARZAA
  • ME AND MY SECRET (Hiatus)
  • 𝐎𝐁𝐒𝐄𝐒𝐒𝐈𝐎𝐍 [ 𝚂𝚕𝚘𝚠 𝚄𝚙𝚍𝚊𝚝𝚎 ]
  • CLARISSA [ On Going ]
  • Lady Antagonis (TAMAT)
  • Confession (告白 小说) [END]
  • Maura √ (Tamat - Karyakarsa)
  • Antagonis Kesayangan Ku! END ✔️
  • JANUARGHA
  • [BL] Sudden Omega
FARZAA

"Kenapa di nama panggilan lo, huruf 'A' yang terakhirnya ada dua?", kata gadis itu sambil menengok orang yang ditanyanya barusan, yang kini tengah berada di sampingnya. Ia sempat kaget dengan pertanyaan yang dilontarkan gadis yang berada di sampingnya itu. Pasalnya hanya dia yang memerhatikan namanya dan berani bertanya kepadanya. "Ngapain lo mikirin nama gue? Gak penting banget." Jawab Farzaa akhirnya, tanpa melihat ke arah lawan bicaranya. Gue pokoknya harus tahu, guamamnya dalam hati. "Eh iya sih, yang penting kan, kita bisa menghasilkan uang, kita punya uang, dan kita juga bisa menikmati uang kita." gadis itu tertawa sebelum mengucapkan kalimatnya yang baru ia lontarkan. Ia sungguh tidak percaya dengan apa yang ia dengar dari gadis itu barusan, tapi ia bersikap seolah biasa saja dan berkata "Gak semua orang bahagia karena uang. Dan gak seharusnya juga lo terus jadiin seolah-olah uang adalah segalanya dan uang sebagai pemeran utama dalam kehidupan lo". Gue harus ubah cara pikir lo, batinnya. Sebelum gadis itu menjawab, ia melanjutkan perkataannya. "Uang itu salah satunya. Bukan satu-satunya", ia tersenyum dan berbicara setenang mungkin. "Lalu apa?", balasnya dengan gugup setelah mendengar penuturan laki-laki di sampingnya, yang ia sendiri tidak menyangka tanggapannya akan seperti itu. "..."

Más detalles
WpActionLinkPautas de Contenido