Destiny

Destiny

  • WpView
    Reads 7
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Jan 19, 2022
Sorban putih milikmu yang melambai akibat tiupan angin itu membuat mataku terpana. Petang ini, hari terakhir aku dapat mendengar suara merdu dari balik pintu rumah. Wajah putih bersinar milikmu akan menjadi memori paling berharga yang aku punya. Namun bukan itu yang menjadi sebab syukur paling keras yang aku langitkan pada Tuhan. Tetapi pertemuan denganmulah, yang membuat jiwa kejiku tersadar dan kembali pulang. Musholla, Mukena, serta muhasabah yang Kau berikan padaku disetiap subuh tiba. Maka ketika esok hari mentari menampakkan jingganya, aku tidak akan lagi menemukanmu disana. "Jangan kembali ke jalan yang rusak itu, Zahra." ucapmu ketika aku akan menaiki kereta menuju kota selanjutnya. Anggukan singkatku menjadi perpisahan paling indah bersama kepingan kenang di pukul lima petang. Sampai jumpa, aku harap aku masih bisa melihat dirimu di pertemuan selanjutnya.
All Rights Reserved
#112
yusuf
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • 1 Rupa 2 Jiwa
  • The Love Story" Kurus & Mancung"
  • PORTRAIT ☑
  • ''' REGRET AND HOPE ''' [ SELESAI, END]  Fajri Un1ty And Member Un1ty
  • Catatan Hijrah
  • Takdir untuk Zura[on going]
  • Cinta Dua Hati [REVISI]
  • Surat Untuk Takdir [ ON GOING ]
  • Arta & Azkia
  • Mafia Husband (Alexander Reiner)

[Completed] *Brugghh!!* Suara pintu kamar yang aku banting dengan keras. Aku benar-benar tidak bisa mengontrol diriku jika aku kembali mengingatnya. Wanita itu... Dia sudah mengingatkanku kembali pada seseorang yang sangat aku benci. Tidak, aku salah. Bukan wanita itu, tapi kerudung panjang yang ia kenakan. Aku benci semua itu, aku benci melihat kerudung! Semua itu hanya membuatku kembali tersiksa. "Tidak.... Tolong jangan lakukan itu.. Kumohon jangan pukul kami.... Aaaa... Kumohon hentikan... Ampun!! Jangan sakiti kami... Aaaaa... Kumohon hentikan ini.... Hiks hiks.... Tidak.... Jangan...... Aaaa..." Entah kenapa, suara itu terus terdengar ditelingaku. Kenapa suara itu tak pernah mau hilang dari pendengaranku? Itu benar-benar membuatku kembali terluka. Aku benci dia! Aku benci!

More details
WpActionLinkContent Guidelines