Rendezvous

Rendezvous

  • WpView
    Reads 15
  • WpVote
    Votes 1
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadComplete Fri, Jan 21, 2022
Rumah, satu kata tapi memiliki banyak sekali makna. Farras Ananta menyebut dia sebagai, rumah. Sebenarnya, untaian kata tidak akan cukup untuk mendeskripsikan sosok yang satu ini. Bagaikan rumah, dia selalu menjadi tempat ternyaman untuk pulang, dia selalu menjadi tempat teraman untuk berbagi segala hal. Dia yang selalu memberikan sesuatu yang terbaik hanya untuk membuat orang tersenyum. Dia selalu berusaha agar orang di sekitarnya bahagia. Bahkan dia lebih teduh daripada angin pantai, dia lebih hangat daripada sinar matahari. Semua kehangatan yang dia berikan, kalah hangatnya dengan sang surya. Dia sebagai pengganti matahari, yang selalu menyinari hari orang-orang yang dia sayangi. Seperti bintang yang selalu menemani sang bulan setiap hari. Dia seperti lilin yang menyala, menemani seseorang disaat kegelapan menyelimuti hidup orang itu, dia bersinar terang. Dia layaknya sampul buku, menyelimuti agar buku itu tidak tergores, agar buku itu tidak kusut. Dia orang yang hebat, mungkin Tuhan menciptakan dia saat Tuhan sedang tersenyum.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • COMPLICATED (21+)
  • ANATHAN  || END
  • Ananta
  • Desir Arah
  • ENIGMA : When We Are { TERBIT }
  • Hai, Jodoh!! (End)
  • TELL ME SOMETHING I DON'T KNOW (ON GOING)
  • Aku Padamu Ya Ukhti (Selesai)
  • save me
  • Ananta&Dunianya[✓]

WARNING!! CERITA INI MENGANDUNG KATA KATA KASAR. TIDAk DISARANKAN DIBACA OLEH USIA UNDER 17. JUGA TIDAK MENGUSUNG AGAMA MANAPUN. JUST RELAX & ENJOY THE STORY. *** Kehadiran Umar di rumahnya ternyata membawa dampak buruk bagi rumah tangga Alena dan Rohan. Tanpa sepengetahuan Rohan, Umar ternyata memiliki niatan untuk memiliki Alena yang notabene adalah menantunya. "Jangan mendekat atau aku akan berteriak!" Ancam Alena saat Umar mendesaknya ke tembok. "Teriak saja kalau berani." Tantang Umar yang tak gentar dengan ancaman Alena. Justru ia malah semakin berani dengan mencium Alena dan membawanya masuk ke dalam kamarnya.

More details
WpActionLinkContent Guidelines