Story cover for H O M E by lalaizy
H O M E
  • WpView
    Reads 646
  • WpVote
    Votes 32
  • WpPart
    Parts 27
  • WpView
    Reads 646
  • WpVote
    Votes 32
  • WpPart
    Parts 27
Ongoing, First published Jan 21, 2022
Flavio pikir Jayden, wakil ketua nya itu tidak punya tujuan dan arah hidup. Lelaki itu hanya membuang-buang waktu di masa mudanya, dimana ia hanya tertawa sana sini dan menghamburkan uang yang dimilikinya. Cowok itu juga masih terus berusaha mendekati Flavio, namun Flavio juga berusaha keras untuk melawan perasaannya yang merasakan hal yang sama dengan Jayden. Perempuan itu tidak ingin terlibat dengan lelaki manapun karena baginya tidak ada satu pun pria baik dan tulus di muka bumi ini. Semua sama saja, hanya lintah darat yang tidak tahu diri. Namun, Flavio tidak tahu apa yang terjadi di hidup Jayden. Cowok itu mungkin menjadi orang yang lebih menderita ketimbang dirinya. 

Bagi Jayden, Flavio itu rumahnya. Cowok itu juga ingin menjadi sandaran bagi perempuan ambisius itu. Meskipun sangat berdebar, Jayden suka perasaan nyaman ketika berada di dekat Flavio. Cewek itu memiliki postur tubuh tinggi kurus, rambut sebahu, mata yang lebar dan juga kulit putih bersih. Kehilangan semuanya sudah Jayden rasakan, tapi tolong jangan perempuan ini. Jayden sangat ingin memilikinya. Ia juga tidak tahu apa alasannya. Ia tidak masalah jika Flavio mengabaikan dirinya, tapi apa cewek itu akan terus menganggap dirinya hanya seorang laki-laki lemah dan tidak berguna? Padahal, Jayden begitu ingin menjadi tempat Flavio berkeluh kesah, tempat bersandar, dan menjadi rumah yang nyaman bagi perempuan itu.
All Rights Reserved
Sign up to add H O M E to your library and receive updates
or
#100jaeminnct
Content Guidelines
You may also like
Fraternity; Jae & Matt ✓ by tulisanayspcy
24 parts Complete Mature
Jaeden Almero dan Matteo Aldrich. Dua laki-laki dengan nama yang berbeda namun bersaudara. Di mana Jae dan Matt hanya berbeda empat tahun. Mereka pernah menuntut ilmu di Universitas yang sama yaitu, Boxton University --Management Business. Kini keduanya sudah bekerja di Axton Grup --Perusahaan terbesar kedua di Asia milik sang Ayah. Matt selalu berusaha agar mampu melampaui sang kakak beda Ibu tersebut. Ya, Jae terlahir dari istri pertama sang Ayah. Sedangkan Matt putra tunggal dari istri kedua. Tapi mereka berdua tinggal di atap yang sama. Walau Matt lebih muda dari Jae, ia harus bekerja keras karena statusnya yang sebagai putra dari istri kedua. Di mana ia diwajibkan ekstra berusaha untuk mencapai apa yang ia inginkan. Padahal itu berlaku juga bagi Jae. Jaeden Almero, walaupun terlahir dari istri pertama tapi tak semua yang ia inginkan dapat dengan mudah dia dapatkan. Harus ada pengorbanan atas apa yang ia perjuangkan. Salah satunya hidup di kota, jauh dari sang Ibu. Mereka berdua bagaikan mutiara dalam keluarga tersebut. Bagaimana tidak? Keduanya termasuk anak-anak dari kalangan konglomerat yang sukses atas prestasi dan kerja keras masing-masing, tidak seperti kebanyakan yang bergantung atas nama keluarga atau orang tua mereka. Buktinya, dari sejak dini mereka berdua sudah belajar bagaimana caranya mengurus perusahaan dengan baik. Tentunya dibimbing langsung oleh Darren Haven Axton, sang Ayah. "Kau memang terlahir dari Ibu yang berbeda, tapi kau tetap saudaraku terlepas dari persaingan kita selama ini. Jadi... tetaplah kuat." Kalimat pertama yang Jae lontarkan pada Matt, si saingan nomor satunya. Juga perasaan tulus yang Jae berikan pada saudaranya itu. Sebab tak ada yang tahu kalau Matt mengidap penyakit mematikan, selain Jae. "Aku hanya ingin dikenang sebagai orang yang berguna. Itu saja." Cover by im_bwanana
It's Always Been You✔️  by WinterAurora00
44 parts Complete
Winter, gadis skater serba bisa dari Thunder Clan, merasa seperti terjebak dalam mimpi buruk ketika papanya tiba-tiba meminta, atau lebih tepatnya memaksanya untuk bekerja sebagai asisten rumah tangga di rumah keluarga teman orang tuanya. "Kalau adek nggak mau, papa bakal bakar semua deck yang rapi tertata di kamar adek sampai jadi abu." Ancaman itu langsung menusuk hati Winter. Deck-deck itu bukan sekadar papan luncur. Mereka adalah bagian dari dirinya, saksi setiap kompetisi dan penopang semangatnya. Mana mungkin ia membiarkannya jadi korban amukan sang papa? Dengan terpaksa, ia pun menyanggupi pekerjaan itu meski artinya harus membagi waktu antara kuliah di Universitas Kwangya dan mengurus rumah keluarga majikannya. Merawat empat anak di rumah itu sebenarnya bukan tantangan besar untuk Winter. Ia bisa dengan mudah mengatasi kelakuan si kembar usil, Jisung dan Ningning yang berusia tujuh belas tahun, juga kepolosan Sakuya yang berusia sebelas tahun dan si kecil Ian yang baru enam tahun. Semua terasa terkendali kecuali satu hal: Jaemin, si sulung yang tampaknya menjadikan Winter sebagai target utama untuk mencari-cari kesalahan. "Bener kamu jago masak? Yakin nggak bakal mati kalau makan masakan kamu?" "Otaknya pinter atau nggak sih? Sayang banget masa muda kebuang percuma. Kamu nggak minat nyambung kuliah?" "Baru pagi-pagi aja udah ngilang. Kamu ke mana emang?" Sumpah, kalau saja Jaemin bukan anak majikannya, Winter sudah lama melibas pria itu dengan deck kesayangannya. Menyebalkan bukan main. Namun, di balik semua adu mulut dan tatapan sinis itu, ada sesuatu yang samar. Perasaan yang pelan-pelan menyusup, tapi tak mungkin mereka akui. Di tengah kesibukan menjadi mahasiswa sekaligus satu-satunya gadis di Thunder Clan, mampukah Winter bertahan menghadapi kelakuan Jaemin yang seakan bisa meruntuhkan dunia? Dan apa yang akan terjadi ketika Jisung, Ningning, Sakuya dan Ian mulai menganggap Winter sebagai kakak mereka sendiri?
Dua cangkir satu Meja  by byjulieeeee
52 parts Complete
Dua cangkir di satu meja. Salah satunya kopi hitam yang mulai dingin, satunya lagi teh hangat yang baru diseduh. Sama seperti mereka-dua orang yang dulu satu keluarga, kini seperti orang asing di bawah atap yang sama. Dewa sudah terbiasa hidup sendiri. Ia bisa makan mi instan kapan saja tanpa ada yang mengomentari. Bisa pulang larut tanpa ada yang menunggu. Bisa menjalani hari-harinya tanpa merasa harus menjelaskan apa pun kepada siapa pun. Lalu datang ayahnya, yang entah sejak kapan mulai mengatur ulang dunianya. Mengajaknya makan bersama, menyeduhkan teh di pagi hari, bahkan diam-diam mengganti mi instan dengan sesuatu yang lebih bergizi. Dewa tidak mengerti-apa yang sebenarnya diinginkan ayahnya? Kenapa setelah tujuh tahun pergi, kini ia kembali dan bertingkah seolah-olah segalanya masih bisa diperbaiki? Di sisi lain, ada Nira, seseorang yang selalu ada untuknya. Tapi kini, ia merasa semakin jauh. Hubungan yang dulu terasa nyaman perlahan berubah menjadi sesuatu yang penuh pertanyaan. Di antara meja makan yang dulu selalu sepi, dua cangkir yang tak pernah sama, dan sepiring mi instan yang akhirnya tak lagi dimakan sendirian, Dewa harus menghadapi sesuatu yang selama ini selalu ia hindari: apa arti pulang yang sebenarnya? Slow fic Sudah selesai ditulis sampai ending, sudah dipublikasikan pula semuanya. Sebab, aku tidak suka menunggu. Jadi, aku tidak akan membuatmu menunggu. 48 bab secara total. Bacalah jika menurutmu layak dibaca, tinggalkan jika menurutmu membosankan. Terima kasih sudah meluangkan waktumu yang berharga. by Tigajully 2025
Fractured Cheerfulness (On Going) by Baperterussss
24 parts Ongoing
"Lo beneran bego, Fin. Gimana sih, gini aja lo ga ngerti-ngerti?" Satria menggelengkan kepala frustasi. Alfina cuma bisa cengengesan. "Jangan bosen ngajarin gue, ya." Di balik senyum yang tak pernah hilang, Alfina Adzra Wardana adalah anak yang terjebak di antara dua dunia. Dunia di mana dia terlihat ceria, ekstrovert, dan penuh semangat. Tapi ketika bel tanda pelajaran berbunyi, dia lebih memilih untuk menghindar daripada berhadapan dengan angka, rumus, atau teori-teori yang malah bikin pusing. Matematika? Ekonomi? Hanya kata-kata kosong yang dia coba terjemahkan dengan senyum yang terus dipaksakan. Satria, cowok yang dipaksa jadi tutor pribadi Alfina, udah sampai titik frustasi. "Lo bener-bener bego!" katanya, meskipun di balik itu, dia enggak bisa menahan rasa kagum pada dunia Alfina yang penuh warna dan seni. Karena ada satu hal yang Alfina tahu dengan pasti: dunia seni adalah tempat dia bisa bersinar. Setiap goresan kuas di kanvas adalah tempat dia bisa bebas, tanpa perlu penilaian orang lain. Tapi di rumah dan di sekolah, ada satu sosok yang terus dibandingkan dengan Alfina-adiknya Thalita, yang cerdas dan selalu jadi juara kelas. Alfina merasa dirinya selalu kalah. Di balik kebingungannya dan perasaan tak cukup, Alfina mencoba menemukan cara agar bisa berjuang untuk dirinya sendiri. Tapi, apakah itu cukup? Dan di tengah semua itu, apakah Satria, yang frustrasi mengajar, bisa melihat potensi besar dalam diri Alfina yang selama ini dia abaikan? Apakah Alfina bisa melepaskan diri dari bayang-bayang adiknya? Apakah Satria bisa melihat lebih dari sekadar kegagalannya?
You may also like
Slide 1 of 10
Fraternity; Jae & Matt ✓ cover
Bersamamu cover
Karakter Sampingan (Haechan) cover
Falling Apart (Spin Off Alverissa)  cover
Kesan Terakhir [END] cover
IM SO GLAD YOU LOVE ME [END] cover
Dalam Diam, Aku Pamit [ TAMAT ] cover
It's Always Been You✔️  cover
Dua cangkir satu Meja  cover
Fractured Cheerfulness (On Going) cover

Fraternity; Jae & Matt ✓

24 parts Complete Mature

Jaeden Almero dan Matteo Aldrich. Dua laki-laki dengan nama yang berbeda namun bersaudara. Di mana Jae dan Matt hanya berbeda empat tahun. Mereka pernah menuntut ilmu di Universitas yang sama yaitu, Boxton University --Management Business. Kini keduanya sudah bekerja di Axton Grup --Perusahaan terbesar kedua di Asia milik sang Ayah. Matt selalu berusaha agar mampu melampaui sang kakak beda Ibu tersebut. Ya, Jae terlahir dari istri pertama sang Ayah. Sedangkan Matt putra tunggal dari istri kedua. Tapi mereka berdua tinggal di atap yang sama. Walau Matt lebih muda dari Jae, ia harus bekerja keras karena statusnya yang sebagai putra dari istri kedua. Di mana ia diwajibkan ekstra berusaha untuk mencapai apa yang ia inginkan. Padahal itu berlaku juga bagi Jae. Jaeden Almero, walaupun terlahir dari istri pertama tapi tak semua yang ia inginkan dapat dengan mudah dia dapatkan. Harus ada pengorbanan atas apa yang ia perjuangkan. Salah satunya hidup di kota, jauh dari sang Ibu. Mereka berdua bagaikan mutiara dalam keluarga tersebut. Bagaimana tidak? Keduanya termasuk anak-anak dari kalangan konglomerat yang sukses atas prestasi dan kerja keras masing-masing, tidak seperti kebanyakan yang bergantung atas nama keluarga atau orang tua mereka. Buktinya, dari sejak dini mereka berdua sudah belajar bagaimana caranya mengurus perusahaan dengan baik. Tentunya dibimbing langsung oleh Darren Haven Axton, sang Ayah. "Kau memang terlahir dari Ibu yang berbeda, tapi kau tetap saudaraku terlepas dari persaingan kita selama ini. Jadi... tetaplah kuat." Kalimat pertama yang Jae lontarkan pada Matt, si saingan nomor satunya. Juga perasaan tulus yang Jae berikan pada saudaranya itu. Sebab tak ada yang tahu kalau Matt mengidap penyakit mematikan, selain Jae. "Aku hanya ingin dikenang sebagai orang yang berguna. Itu saja." Cover by im_bwanana