Tak Seirama

Tak Seirama

  • WpView
    LECTURAS 24
  • WpVote
    Votos 2
  • WpPart
    Partes 2
WpMetadataReadContinúa
WpMetadataNoticeÚltima publicación vie, mar 11, 2022
"Apa aku terlalu banyak harapan ya byan? Sampe aku ga percaya sama kenyataan sekarang". Ucap Naura membuka percakapan. Naura lurus memandang kedepan menunggu byan berani untuk berbicara dengannya. " Engga Nau! Kamu ga begitu cuman, harapan kamu terlalu tinggi buat aku, yang gak sesempurna itu ". Ucap byan dengan penyesalan. Kini suasana taman sangat sepi seperti mereka berdua yang tak berucap apa apa hanya tengah sibuk dengan pikiran masing-masing. "Makasih byan buat semuanya" Naura kini menatap byan dengan dalam tanpa air mata. Naura mengikhlaskannya meski kini Naura berusaha sekuat tenaga untuk tegar Naura melepas byan. Cari bahagianya kamu! Ucap Naura dalam hati.
Todos los derechos reservados
Únete a la comunidad narrativa más grandeObtén recomendaciones personalizadas de historias, guarda tus favoritas en tu biblioteca, y comenta y vota para hacer crecer tu comunidad.
Illustration

Quizás también te guste

  • SENJA DI PUNCAK TANGKILING
  • "Keajaiban 39 Hari"
  • Benang Senja
  • GADIS TOMBOY (New)
  • KISAH KITA (END)
  • Aku Kamu Dan Jarak
  • Kebodohanmu Akhir Cerita Kita (TELAH TERBIT)

"Jangan menatapku". Abrar masih dengan mata terpejam "Kenapa ?" " Nanti kau bisa lupa pada pacar mu". "Pfffffpfffff" Awinda mengantupkan kedua bibirnya mencegahnya tertawa lebar. "Kau benar ". " Jadi kau sudah punya pacar". " Kau mengintrogasi ku ". Kini Awinda membalasnya. Abrar menelan Salivanya. Terdiam dalam senyapnya. Ia tak ingin melanjutkan pertanyaan apapun. Karena jika ia banyak tahu kenyataan, maka bisa jadi hal - hal pahit yang akan ia dapatkan. Hidup mengajarkannya untuk sering menerima kenyataan pahit ketimbang mengharapkan sesuatu yang ternyata hanya sebatas angan dan impian. "Cepat tidur". "Belum mengantuk" sahutnya cepat. " Kenapa kau biarkan aku mengambil baju dan celana mu padahal kamu punya tenda ini. ? Bodoh ". " Ambil lah apapun yang kau mau dari ku". " Sejak kapan kau menjadi buaya ? " " Setelah masuk kedalam lubang tanah dan bertemu ratu buaya ". Awinda mencubit perut Abrar. Sehingga ia menggelinjang nyeri dan meminta ampun. Ia meraih tangan Awinda dari perutnya dan meletakkannya didadanya. " Tidurlah, ini peringatan ku yang terakhir". Perlakuan Abrar membuatnya meringis, kini Abrar juga mulai mengamcamnya. Berusaha memejamkan mata dan perasaan hangat itu kembali menjalar ulu hatinya. Ia kesulitan untuk menarik nafas namun ia mencoba menghirup udara lewat mulutnya lalu mengeluarkan kembali perlahan. " Kau kedinginan ? " Abrar membuka suara, " Hmmm " "Kau bisa terkena hipotermia dan sulit bernafas".

Más detalles
WpActionLinkPautas de Contenido