Benteng Waktu sang Takdir | On Going

Benteng Waktu sang Takdir | On Going

  • WpView
    Reads 190
  • WpVote
    Votes 86
  • WpPart
    Parts 4
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Apr 10, 2022
Kamu... "Adalah wujud nyata dari adanya rasa Rasa akan hadirnya rindu yang terhalang waktu Dengan waktu yang ternyata adalah jalannya takdirku Mengenai kamu yang hanya terlintas lewat waktu Ini nyata... Tapi kamu belum kujumpai jua Akan kah takdir baik menghampiriku Mempersatukan aku denganmu Dalam ikatan suci yang mereka sebut dengan cinta" 'Salam rindu dariku yang tak pernah kamu tau tertanda dariku V' *** "Jadi apa keputusanmu?" "Sudah sholat istikhoroh?" "Kamu bingung karna kamu menyukai orang lain bukan?" *** "Aku bisa mencarinya sendiri Pah" ucap seorang lelaki yang terdengar frustasi dengan perbincangan ini. "Bukan soal kamu bisa atau enggak" ucap sang Papa juga pusing dengan keadaannya. "Lalu apa?" "Ini prihal amanah nak" ucapnya menjeda "tanpa papa kasih tau kamu pasti tau kalau menyangkut amanah itu bagaimana?" ucapnya penuh harap pada sang anak untuk mengerti keadannya. *** Yukk yang penasaran gimana cerita sebenernya langsung baca😊😊 Jangan lupa follow, lalu vote and comen ya guyss
All Rights Reserved
#562
takdir
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Ternyata Takdirku adalah Kamu
  • Di Balik Niqab [TERBIT]
  • You are in my past and my future [END]
  • Takdir cinta berawal masjid ( TAMAT )
  • [SB I] Terperangkap Dalam Tanya [COMPLETED]
  • [END] Blind Rainbow
  • Skenario Allah✔[End]
  • RAHSYA UNTUK NAURA
  • Perihal Mengikhlaskanmu [TAMAT]

JANGAN LUPA FOLLOW YA... terimakasih sudah mampir Ada cinta yang tidak perlu diumbar, cukup diam-diam mendoakan dari kejauhan. Karena kadang, mencintai yang paling dalam adalah saat memilih untuk menjauh. Aku, Cilla, gadis biasa yang sebentar lagi akan memulai hidup baru di UIN Rafah. Di usia delapan belas ini, hidupku seperti perjalanan kereta yang tak pernah berhenti di stasiun yang sama dua kali. Termasuk stasiun bernama Arsan. Dia pernah singgah. Pernah menjadi alasan senyumku setiap pagi. Pernah menjadi orang yang paling aku percaya. Tapi kami memilih pergi. Bukan karena tidak saling mencintai, tapi karena tahu: terlalu dekat bisa membuat segalanya salah arah. Kami memilih menjaga, meski harus saling menjauh. Dan kini, setelah waktu membawa kami ke dunia yang berbeda... Aku masih menyebut namanya dalam sujud terakhirku. Sementara aku tak tahu, apakah dia juga menyebut namaku saat langitnya mendung dan hatinya sunyi. Mungkin kami sedang menguji takdir. Atau... mungkin takdir sedang menguji kami. Karena jika benar cinta ini suci, maka tak perlu digenggam erat untuk dimiliki. Cukup dipercayakan kepada Allah. Dan jika suatu hari aku kembali bertemu dengannya, aku ingin bertanya satu hal: "Masihkah kamu menganggapku takdirmu, seperti dulu?"

More details
WpActionLinkContent Guidelines