Dangerous Human

Dangerous Human

  • WpView
    Reads 334
  • WpVote
    Votes 52
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Jan 24, 2022
Bunyi piano yang berada dikamar Brilsa mulai berdentingan, dan akhirnya Brilsa tau kalau dentingan itu lama-lama berubah menjadi instrumen sebuah lagu berjudul Time to say goodbye Dan akhirnya Brilsa malah tertidur pulas karena mendengar dentingan bunyi piano yang begitu indah, seolah menjadi lagu pengantar tidur baginya ditengah hujan deras Pria itu menghentikan gerakan jemarinya yang bergerak lincah memainkan piano kemudian bangkit berdiri mendekati pujaan hatinya yang sudah terlelap " Cantik sekali, harus ada yang sepertimu tapi versi mini" gumam pria itu sembari tersenyum miring dan mengusap penuh hati-hati pada pipi SEBELUM BACA CERITANYA JANGAN LUPA VOTE, COMENT + FOLLOW
All Rights Reserved
#969
ceritapendek
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • The Ducibella 【End】
  • 07.12
  • Destined for me 2
  • My Sugar Daddy(END)
  • Lara yang tak kunjung USAI ||•ondah•||
  •  Ex  (Completed)
  • Tentang Dirimu yang hilang
  • DEVANO ( sedang di Revisi)
  • River Flows In U √
  • Toxic Relationship

"Bisa gak berhenti ngerokok?" Suara Lea terdengar ringan, tapi sorot matanya menyimpan keteguhan. Alfan berdiri menyandar di motornya, satu tangan memegang rokok, asap melayang malas di udara. Tatapannya turun pelan ke arah Lea, seperti sedang menilai apakah pertanyaannya layak dijawab. "Gak." Jawabnya singkat, datar-tapi justru itu yang bikin suara itu terdengar dalam dan berbahaya. Lea menghela napas. "Bisa, kalau lo mau." Alfan tertawa kecil, bukan karena lucu. Lebih ke tawa dingin, berbahaya, kayak singa yang diganggu pas lagi malas. "Masalahnya," katanya sambil membuang rokok ke tanah, menginjaknya perlahan dengan sepatu, "gue gak pernah punya kemauan buat berhenti dari sesuatu yang nikmat." Lea menatapnya, masih mencoba logika. "Terus lo maunya apa?" Alfan maju. Satu langkah. Dua langkah. Sampai Lea harus mendongak. Sampai napasnya kehabisan ruang. Tangan cowok itu naik, menangkup tengkuk Lea, kuat, tapi gak kasar-lebih ke 'lo gak akan bisa kabur sekarang'. "Maunya?" bisik Alfan, dekat banget. Nafasnya panas, suaranya rendah dan dalam. "Your Lips." Lea menelan ludah, tubuhnya menegang. Tapi dia gak bergerak, gak bisa. "Gue berhenti ngerokok... kalau setiap malam bisa candu sama lo." Alfan mendekatkan bibirnya ke telinga Lea, napasnya mengiris kulit. "Kalau tiap kali gue pengen rokok, gantinya lo yang gue isep." Bisikannya brutal. Jelas. Tanpa sensor. Lalu dia mundur pelan, tapi sorot matanya masih mengunci Lea. "Deal?" ...... Content warning(s) : alcohol; smoking; harsh words; dirty jokes; dirty pick up lines; intimate skin contact; kissing, etc Cover by Pinterest

More details
WpActionLinkContent Guidelines