• BERBURU RINDU •

• BERBURU RINDU •

  • WpView
    LECTURAS 5
  • WpVote
    Votos 1
  • WpPart
    Partes 1
WpMetadataReadContinúa
WpMetadataNoticeÚltima publicación mié, ene 26, 2022
WpInfo
No ficción
Berburu Rindu : Kisah ku dengan Sang Pencipta secangkir teh for all the reader's Dikala terbitnya rembulan malam Hatiku makin tenggelam di kelam malam Menepis angan tentang dunia Yang seharian suntuk menggulat menguasai jiwa Yang raganya sudah habis termakan dusta Buah kerja anak cucu belis Hingga esok pun masih terlena Ronanya aku sudah lemah Apa-apa yang telah diperbuat Belum membungakan Sang Khalik Hati ini sudah menghitam ghoibnya Benar memang ghoib Sayang memang hamba rendahan Terlalu kotor untuk mendapatkan keistimewaan (melihat itu) Tapi manusia yang sewajarnya Ingat Tuhan jika sudah tersiksa Memohon dunia seakan kekal didalamnya Padahal memohon akhirat lebih mulia Ya memang malam-malam ku di dunia Waktunya aku untuk menyesal Sayang selalu lupa esok harinya Kisah ku akan membawamu melihat betapa hinanya aku, bukan untuk merendahkan diri, ambil saja pelajarannya, karena apa yang telah aku kerjakan begitu sia-sia. Aku berharap jalanmu lurus-lurus saja. Jangan lupakan Tuhanmu, dalam keadaan terburuk maupun terbaik dirimu. Tempat kembali mu adalah Dia, bukan sahabat mu, keluarga mu, maupun dunia mu. Mereka bukan pemilik mu maupun kekekalan, jadi kembalilah. Karena rindumu akan teramat jatuh jika tidak kau pegang. Karena rindumu teramat jauh jika kau diam. Maka cari rindu-Nya, berburulah hingga habis harimu di dekap-Nya. ~Eryyl
Todos los derechos reservados
Únete a la comunidad narrativa más grandeObtén recomendaciones personalizadas de historias, guarda tus favoritas en tu biblioteca, y comenta y vota para hacer crecer tu comunidad.
Illustration

Quizás también te guste

  • "ARGON" Untukmu Bidadari Hatiku
  • Sudut pandang (felisha)
  • PLUVIOPHILE: The Reason I Like Rain? [ON GOING]
  • save me
  • Aksara Bercerita
  • 𝐎𝐁𝐒𝐄𝐒𝐒𝐈𝐎𝐍 [ 𝚂𝚕𝚘𝚠 𝚄𝚙𝚍𝚊𝚝𝚎 ]
  • Said Bismillah if you love me
  • RAESHA (Revisi)

semua kisahku bermula saat pertama engkau hadir dihadapan mataku. wajah itu tak pernah hilang dari bayangan anganku. selalu menghanyut senyummu dalam kalbuku. semua kisah puisi hanya menggambarkan tentang keindahan dirimu. tak pernah bosan tanganku menulis untukmu. tak pernah lelah jemariku melukiskan indahnya parasmu. sinar mentari,tiupan angin,desiran rumput,kemersik daun,kicauan burung,gemercik air, bag menggambarkan pesona indah parasmu. alunan seruling bambu,senduh dentingan gitar, terus mengiringi merdu suaramu dalam relung hatiku. tak pernah lupa selalu terngiang dalam kepalaku " bang Ar!". setiap saat, setiap hari, aku berusaha selalu ada untukmu. menjagamu sekeras apa pun, membimbingmu sejauh apa pun, menuntunmu sesulit apa pun. bagai sepasang merpati yang selalu terbang beriringan, bagai sepasang kelinci yang selalu melompat bersamaan. namun, aku hanyalah akar untukmu. yang menopangmu, menjaga agar kau tetap berdiri.namun, aku hanyalah aliran air untukmu. yang menjadi wadah untukmu berenang semakin jauh. senyummu adalah bahagia untukku, namun tangismu bukanlah sedihku. karena aku harus kuat untuk membuatmu tersenyum sepanjang hari. hingga kau melantunkan suara merdumu "bang Ar!". namun, bagai dentuman guntur di siang bolong, bagai derasnya hujan di panas terik. semua berubah karena ke egoisanku. karenaku, bunga yang indah mekar kini layu dan gugur. karenaku, angin sepoi peniup melodi kini menjadi badai topan yang ganas. yang tinggal hanya dentingan pedang yang beradu, hanya desingan peluru yang memburu. saling membekas luka, menyayat sembilu dalam relung hati. menjatuhkan merpati, membinasakan kelinci, menumpahkan darah di sepanjang perjalanan yang tersisa. kini hanya ada akar tanpa pohon, air tanpa ikan, dan selembar kertas putih. kini yang terbakar hanya amarah yang mengatakan "tolong jauhi aku!".

Más detalles
WpActionLinkPautas de Contenido