We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
Penantian Di Ujung Gang

Penantian Di Ujung Gang

  • WpView
    Reads 289
  • WpVote
    Votes 110
  • WpPart
    Parts 12
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Apr 2, 2022
WpInfo
Fiction
Social Themes
"Menunggu itu gak akan membosankan kalau kita menikmatinya. Menikmati apapun yang terjadi dan mencatat apa yang kamu lihat dan rasakan saat itu. Makanya kemanapun pena dan buku bisa jadi benda berharga." Sekarang aku tahu maksud ucapan mama waktu itu. Karena perjalanan hidup akan abadi dalam tulisan. Bahkan hal pahit pun akan menjadi alasan tersenyum ketika dibaca nanti. Dan warna kemerahan di atas padang rumput yang dihiasi manusia, salah satu sudut taman yang menyaksikan berpasang-pasang bahagia menari ria, menjadi saksi penaku bercerita tentang papa, cinta, dan trauma.
All Rights Reserved
#780
cintadalamdiam
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Puing luka
  • Mengagumimu Karna Allah
  • Keluarga di Ujung Senja
  • Setia Di Hati (Selesai)
  • TIME will TELL {On Going}
  • Learning in Progress (Boboiboy x Yaya)

"Malam itu menjadi awal dari mimpi buruk yang tak pernah ia bayangkan." Aluna kehilangan segalanya dalam satu malam-rasa aman, harga diri, dan harapan. Ia hancur oleh luka yang tak terlihat mata, tapi mengoyak jiwanya habis-habisan. Kehamilan yang datang dari pemerkosaan membuatnya ingin menyerah. Namun dalam reruntuhan hidupnya, ada dua hal yang terus menahannya agar tetap berdiri: keluarga yang tak pernah berhenti mencintai, dan janin kecil dalam rahimnya yang menjadi alasan untuk bertahan. Sejak itu, Aluna membenci laki-laki. Ketakutannya begitu dalam, hingga setiap tatapan dan suara laki-laki bisa membuat tubuhnya gemetar. Tapi ia tidak bisa menolak kehadiran laki-laki itu-sosok yang bertanggung jawab, yang tak pernah pergi, yang terus mengirim bunga, hadiah, dan surat-surat haru berisi penyesalan serta doa. "Aku tahu aku tak bisa menghapus malam itu. Tapi setiap langkah yang kamu ambil hari ini, adalah langkah keberanian luar biasa. Kamu tidak sendirian." - A. Hari demi hari, tembok kebekuan di hati Aluna mulai retak. Bukan karena dia lupa, bukan karena dia memaafkan dengan mudah, tapi karena perlahan, ia mulai membuka diri terhadap kemungkinan: bahwa tidak semua luka harus berdarah selamanya. Akankah Aluna mampu menghadapi masa lalunya? Mampukah ia membiarkan seseorang masuk ke dalam hidupnya lagi-meski dari kejauhan? Sebuah kisah tentang luka, keberanian, dan cinta yang lahir dari kehancuran. Untukmu yang sedang berjuang: kamu tidak sendirian.

More details
WpActionLinkContent Guidelines