Nightmare

Nightmare

  • WpView
    Reads 7
  • WpVote
    Votes 7
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Feb 2, 2022
WpInfo
Fanfic
Miraculous Ladybug
Ceria, namanya. Cewek introvert yang selalu merasa sendirian di tengah keramaian. Tak ada seorang pun yang bisa ia jadikan 'Teman.' Memang begitu tak pantas, jika disandingkan dengan nama pemberian dari kedua orang tuanya. Sebut saja, 'Ceria.' Bahkan hidupnya benar-benar menyesakkan. Menjadi anak broken home yang tak pernah merasakan suasana indah dalam rumah. Sering kali ia berpikir bahwa hidup hanya sebuah mimpi buruk yang takdir ciptakan untuknya. Ketika banyak orang terlihat bahagia. Justru Ceria sibuk dengan perasaannya yang terluka. Kini hanya impian dan harapan yang mampu membuatnya bertahan hidup sampai detik ini. Setidaknya jika semua impiannya bisa teraih, ia bisa menghilang dari bumi ini. Setelah menciptakan satu senyuman yang berarti. Tapi_ °°°°°°°°°°°°°°°°°°°° Note: Ini bukan cerita pertama yang aku buat. Tapi aku masih harus banyak belajar. Semoga kalian terhibur ya :D
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Gadis Tteokbokki & Cowok Mochaccino (DITERBITKAN)
  • RUANG DEPRESI [ END ]
  • Menyerah atau Bertahan?
  • About Naskala [on going]
  • Nayara [ TERBIT ]
  • Beri aku kesempatan sekali saja
  • Tikungunya

SEGERA DITERBITKAN Sebenarnya ini adalah idenya Liaa. Entah apa yang merasuki otaknya kali ini, sehingga memintaku untuk menulis. Aku tidak pandai merangkai kata-kata, apalagi menyelesaikan suatu cerita. Tidak seperti Liaa yang sangat menikmati saat-saat merangkai setiap paragraf dalam mengembangkan idenya. Bersenandika, mengolah diksi, menulis berbagai tema, dan menuntut pancaindra agar lebih peka. Bila satu paragraf saja membuatku termenung berlama-lama, apalagi satu novel yang sampai beratus-ratus halaman tebalnya. Aku bisa gila, Liaa. Namun, gadisku yang cerewet dan berambisi besar itu pasti akan memprotes, "Kamu pasti bisa, kok, jangan pesimis, deh! Belum apa-apa udah ngeluh. Nulis itu gampang, cuma kamunya aja yang gak mau usaha!" Begitulah Liaa, dia 'illfeel' dengan orang yang angkat tangan sebelum berjuang. Alih-alih memotivasi, malah muncrat juga omelannya. "Iya, Liaa. Jangan ngambek, aku cium, nih!" Ancamanku membuat pipinya seketika memerah bak kepiting rebus. Aku sangat buruk dalam mengembangkan ide cerita. Jauh dibanding Liaa yang bisa menyelesaikan dua novel sekaligus. Ya, novel-novel itu adalah kisah kami yang dia tulis. Tugasku cukup diam dan jangan membuatnya marah. Jika tidak, Liaa akan berhenti menulis dan mengomel seperti ibu-ibu kostan. Karena sejatinya waktu terbaik untuk menulis adalah 'mood' yang baik.

More details
WpActionLinkContent Guidelines