Bukan Sedih Biasa

Bukan Sedih Biasa

  • WpView
    Reads 20
  • WpVote
    Votes 4
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Jan 30, 2022
Aku mendengar tangisannya sore itu. Tangisan pertamanya ketika menghirup udara dunia. Aku melahirkan anak laki-laki. Rambutnya yang lebat, kulit putih dan wajahnya mirip sekali dengan suamiku. Kulihat nyala lampu operasi yang belum padam menyoroti tubuhku, dan mengatakan pada diriku dengan bangga "Aku kini adalah ibu dengan dua anak, lengkap sudah sepasang laki-laki dan perempuan hadir dalam hidupku." Dia adalah anak keduaku, setelah sebelumnya aku mempunyai seorang anak perempuan cantik, bermata sipit dan berpipi bulat. Aku tahu hamil anak keduaku ketika dia berumur sepuluh bulan. Awalnya aku tidak tahu apakah aku bahagia ataukah sedih dengan hal itu. Di satu sisi aku mendapatkan amanah yang aku syukuri di sisi lain aku tak kuasa menahan rasa sedihku melihat anak perempuanku yang belum puas tidur dibuaianku, sebentar lagi dia harus berbagi dengan adiknya yang baru. Pasti banyak hak-hak dirinya sebagai bayi yang tak akan terpenuhi, termasuk perhatian dan haknya mendapat ASI eksklusif dariku. Tak jarang aku meneteskan air mata ketika dia merengek minta menyusu tetapi aku harus menyapihnya di usianya yang baru sepuluh bulan. Sebelumnya memang aku anggap menyusui dalam keadaan hamilpun tak masalah, tetapi ternyata itu salah, kondisi itu jika dipaksakan ternyata bisa berbahaya bagi janin, karena menyusui ketika hamil dapat menyebabkan kontraksi dan bisa berakibat keguguran, itu yang bidan jelaskan kepadaku.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Shaffira ✔ (KBM & KARYAKARSA)
  • Rumah baru untuk Ibu
  • SELEPAS KAU PERGI (END)
  • ngger adalah vandyku
  • Bukan Istri Bayaran(End)
  • Merried
  • Hanya Sebagai Ibu Pengganti
  • Angel To Raya (END)
  • My Baby Without Father (Di Pindahkan Ke Dreame/Innovel)
  • FOREVER || myg x y/n (END)

Aku menatap lelaki yang duduk di sampingku dengan binar penuh tanya. Kenapa lelaki ini yang ada di sini? Bahkan aku bisa melihat dua anak kecil yang duduk bersama Nenek mereka tak jauh dari tempat duduk kami. Ya Allah apa ini takdirku? Menikah dengan seorang duda yang kukenal beberapa bulan lalu. "Ada apa?" Tanyanya datar. Tidak ada kesan romantis di sini. Kami layaknya pasangan yang terlahir dari proses perjodohan. Dingin, kaku, dan nampak tak tersentuh satu sama lain. "Tidak, saya cuma malu." "Malu karena saya seorang duda yang menikahi kamu? Begitu?" Menggeleng aku menampik semua asumsinya. "Bukan, disini saya tidak pernah menilai orang dari statusnya. Mau duda atau tidak itu bukan hal penting bagi saya. Tapi saya yang seorang guru tidak pernah terlintas dipikiran saya akan berada di situasi seperti ini. Duduk di pelaminan dengan anda, wali murid saya." Bibirnya tersungging ke atas, antara dia bahagia mempersunting diriku atau hal lain aku tidak tahu. "Jangan menilai seperti itu, karena sekarang saya suami kamu. Ingat saya sudah meminta kamu dari Ayah, dan saya sudah melakukan akad di depan ayah kamu." Jawabnya dengan penuh penekanan. Pria yang berada di sampingku inilah yang mengakadku tadi pagi dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan emas sepuluh gram. Dialah pria yang berani memintaku kepada Ayah untuk dijadikan sebagai istrinya. Pria pertama dengan sifat dinginnya yang membuatku berubah status dari lajang menjadi menikah. Ya, dia Rian Wijaya, seorang anggota TNI Angkatan Udara yang menjungkir balikan kehidupanku yang begitu nyaman. Menyandang status sebagai istri di usia muda seperti ini akan membuatku memiliki beban berat apalagi aku harus menjadi ibu sambung yang baik untuk dua anak yang tersenyum ke arahku.

More details
WpActionLinkContent Guidelines