Story cover for Dua Cincin by sweetyhand
Dua Cincin
  • WpView
    Reads 917
  • WpVote
    Votes 70
  • WpPart
    Parts 8
  • WpView
    Reads 917
  • WpVote
    Votes 70
  • WpPart
    Parts 8
Ongoing, First published Jan 30, 2022
Mature
"Sudah pulang Mas?" Miranda mendekati suaminya, meraih bawaan yang Bumi pegang. 
Embun melihat di hadapannya, Bumi sedang mencium wanita cantik dengan penuh kelembutan. Wanita itu belum melihat kearah Embun. Karena terhalang tubuh tinggi Bumi. Embun merasakan tubuhnya sedikit gugup dan gemetar, ia takut jika istri Bumi marah padanya seperti yang Embun lihat di tv milik tetangganya. Saat Bumi bergeser dan duduk di sofa yang sudah pasti empuk, karena Embun bisa melihatnya sofa itu begitu tebal dan pasti lembut. Wanita yang menghadap Bumi tadi memandang Embun dengan dahi berkerut. Wanita itu menatap seorang gadis yang ternyata berada di belakang Bumi. Miranda memandang Embun dengan tatapan yang tidak bisa Embun jabarkan. Karena Miranda memandang Embun dari atas hingga ke bawah, begitu seterusnya.
"Loh, kamu bawa pembantu baru buat aku, Mas?" tanya Miranda sambil menilai penampilan gadis yang terlihat kampungan. Miranda menoleh memandang suaminya yang tampak kelelahan. Bumi menatap Embun dan Miranda bergantian.
"Bukan, dia Embun. Aku sudah menikahinya! Embun, ini Miranda, istriku!" Miranda menatap terkejut, kearah gadis kampung bernama Embun, yang Bumi kenalkan padanya sebagai madunya. Ia beralih memandang suaminya dengan tatap marah.
All Rights Reserved
Sign up to add Dua Cincin to your library and receive updates
or
Content Guidelines
You may also like
Masa Itu ✔ (Tamat di Karyakarsa)  by AnisWiji
9 parts Complete
"Nggak ada perempuan yang baik yang mau sama pasangan orang!" Teriak Keira menatap sengit ke arah Bagas. "Kei!" Teriak Bagas membalas teriakan Keira. Disini Bagas yang salah, bukan perempuan kecil yang tengah ia gandeng bahkan perempuan kecil itu sekarang ketakutan bersembunyi di belakang tubuh Bagas. "Apa karena pernikahan kita berawal dari perjodohan kamu bisa seenak jidatnya membawa dia pulang?" Tangan Bagas yang bebesa memijat keningnya, ia tahu jika masa lalunya akan terkuak juga. Bagas disini bukan tidak menghargai Keira tapi ia tidak tahu hal apa yang harus ia lakukan. "Pelankan suara kamu Kei. Dia tidak bersalah." Pinta Bagas dengan nada sedikit mengiba. "Lantas kenapa dia ada disini? Kemana jal*ng kamu itu?" Keira sadar saat ia menikahi Bagas, Bagas memang masih memiliki kekasih. Tapi tidak harus membawa ekornya ke dalam pernikahan yang baru menginjak usia empat tahun ini, bukan? "Keira, stop bicara kasar. Lebih baik kamu masuk kamar. Aku mau mengantar Lala ke kamarnya." Putus Bagas dengan melangkah masuk ke dalam kamar yang dulunya ditempati tamu. "Kamu memang kelewatan Mas. Aku sadar jika aku belum bisa memberikan kamu anak, tapi jangan pakai cara seperti ini." Selesai mengatakan itu Keira bergegas ke kamar utama, ia membanting pintu sekerasnya. Langkahnya menyapu ruangan yang banyak memberi kenangan manis dengan Bagas, kedua tangannya mengambil koper dan menyiapkan beberapa barang yang akan ia bawa pulang. Harga dirinya sangat tinggi, jadi saat Bagas membawa anak itu kesini maka dirinyalah yang harus pergi. "Apa-apaan kamu, Kei." Bagas yang selesai menidurkan Lala sontak terperanjat dengan keadaan kamar tidurnya yang sudah seperti kapal pecah. Jangan tanyakan apa yang dilakukan Keira. Melangkah keluar, ia mengusap sisa air matanya. "Aku mau pergi dari sini, dan kamar ini seperti ini sama seperti hatiku."
Aku Padamu Ya Ukhti (Selesai) by NurHanifah064
80 parts Complete
"Memalukan." ujar Azzam sinis, tatapannya datar. Asya tersentak, senyumnya memudar, ada apalagi dengan suaminya. Kenapa sikapnya selalu berubah. Apa katanya tadi 'memalukan' apa maksudnya. "Ma-maksud mas apa?" tanya Asya bingung. "Jangan pura-pura tidak tahu." sinis Azzam. Asya mengerutkan keningnya. "Asya gak ngerti, maksudnya apa. Asya buat salah lagi?" jawabnya lirih. "Kenapa kamu itu gak bisa sadar diri." ujar Azzam dengan nada dingin. Asya menunduk dalam, "Kalo mas gak bilang Asya juga gak tahu." jawab Asya, suaranya mulai bergetar. Azzam mengusap wajahnya kasar, segera ia beristigfar. Takut syetan menguasai dirinya ketika marah. Dan melakukan hal-hal yang tidak diinginkan. "Tadi kamu pulang sama siapa?" tanya Azzam, matanya menyorot tajam. Asya yang melihat itu pun mulai takut. Ia lupa memberi tahu Azzam tentang itu, dan ... darimana Azzam tahu hal ini. Astagfirullah kenapa ia selalu saja ceroboh. "Gak bisa jawab, kan." sindir Azzam. Ia berjalan ke dalam kamar dan menutup pintu dengan keras. Asya segera tersadar dan menyusul langkah Azzam. "Mas Asya bisa jelasin." pekik Asya dari luar kamar, ia menggedor-gedor pintu namun tak digubris oleh Azzam. "Mas Azzam salah paham, Asya bisa jelasin. Itu semua gak kayak yang mas pikirin." ucap Asya dari luar. Hening. "Mas," panggil Asya mulai pasrah. Sepertinya Azzam benar-benar marah, ini semua karena kecerobohannya sendiri. Menyalahkan Fahmi juga bukan pembenaran, karena ia membantunya untuk menjalankan amanah. Cover by Nurhanifah
Foggy Road (Completed 🌻) by rereeonni
43 parts Complete
[Melodrama] Dicintai dan mencintai tidak menjamin bahwa kita akan selalu bahagia. Terkadang cinta malah membawa kita pada jalan yang berkabut. Kita tidak bisa melihat keadaan dengan jelas mana yang baik dan mana yang buruk. Reina, merasa hidupnya sudah sangat lengkap. Dirinya sedang berada di puncak karier. Kebahagiaannya kian lengkap saat dia menikah dengan lelaki yang sangat dicintainya. Rumah tangganya yang telah memasuki usia 1,5 tahun itu sangat baik-baik saja. Hingga suatu ketika, Raffan, suaminya membawa kabut dalam jalan pernikahan mereka. Arumi, sahabatnya sekaligus wanita masa lalu Raffan hadir kembali di tengah-tengah mereka. Mampukah Reina menemukan cahaya untuk melewati jalanan yang berkabut itu? Ataukah dia akan mencari jalan lain? "Maksud kamu apa mas?" Reina menatap Raffan untuk meminta penjelasan. "Dia istriku, aku sudah menikahinya" ucap lelaki itu dengan tertunduk. Dia tidak mampu menatap wajah istrinya itu. Reina tertawa sumbang "Menikah? Kamu bercanda kan mas? ini ga lucu tau" Reina berusaha menyangkal ucapan Raffan. "Tidak Rein, memang benar apa yang dikatakan oleh sahabatmu, Arum memang istriku" jawaban Raffan sontak membuat Reina menarik kerah suaminya. Air mata menerobos keluar tanpa permisi dari netra wanita itu "Kamu pasti bercanda kan Mas. Jawab aku! Kamu pasti bercanda! Ini bohong kan!" ucapnya disertai isakan. Highest Rank (6 Maret 2021)🏅 #1 Menikah #1 Menyakiti #1 Tegar #1 Cintakedua #1 Mendua #1 Wanitakedua #1 Suami #1 Madu #1 Marriedstory #1 Duacinta #1 Wanitalain #1 Pelakor #1 Poligami #1 Cintasendiri #1 Istrikedua Completed 16 Januari 2021. 🌼rereeonni, 2020.
Sepertiga Malam Bersama Allah by syitaganteng
7 parts Complete
Menceritakan tentang POLIGAMI. Sepasang kekasih yang sudah menikah selama tiga tahun tapi belum memiliki ke turunan. padahal mereka sudah berusaha. tapi... mungkin Allah belum mempercayai mereka dalam hal tersebut. Setahun setelahnya sang istri mengalami sakit parah, yang menyebabkan keluarga kecil itu tak bisa memiliki keturunan. Tak akan ada tangis bayi di rumah mereka. Tak ada bukti cinta yang nyata antar mereka. Tak ada yang akan tidur di sela-sela mereka. Tak akan ada yang membuat mereka tertawa dan tersenyum. Tak ada malaikat di rumah mereka. Semua itu tak akan ada... Sampai kapan semua nya akan berakhir. kanker rahim. sebuah penyakit yang tak mudah untuk di musnahkan. bahkan sang suami yang berprofesi sebagai seorang dokter umum pun tak bisa berbuat apa-apa selain meminta dan berdoa pada sang maha kuasa. Allah SWT. Terlebih lagi dengan sang mertua yang masih saja keukeuh ingin menimang bayi dari mereka. Akan kaj semuanya berjalan dengan baik? akan kah rumah tangga mereka terpecah belah dengan adanya pernyataan tersebut?... HIJRAH CINTA KU... "seharusnya kamu dengar apa kata ibu kamu. menikah lah lagi mas? aku mohon! aku juga ingin melihat ada tangis bayi di rumah kita, walau pun bukan aku yang melahirkannya mas!" wanita itu kian terisak oleh keadaan. keadaan macam apa ini? kenapa dia sama sekali tak mendapatkan keadilan dalam hal ini? di saat semua orang bisa memiliki keturunan dengan mudahnya, mengapa ia tidak?
You may also like
Slide 1 of 9
Masa Itu ✔ (Tamat di Karyakarsa)  cover
DI DUAKAN KEMUDIAN AKU DI DEWIKAN cover
Suamiku Amnesia (REPOST) cover
Aku Padamu Ya Ukhti (Selesai) cover
Foggy Road (Completed 🌻) cover
The Secret Miranda [END] cover
My Home ✔ (KARYAKARSA) cover
Sepertiga Malam Bersama Allah cover
Diantara mereka cover

Masa Itu ✔ (Tamat di Karyakarsa)

9 parts Complete

"Nggak ada perempuan yang baik yang mau sama pasangan orang!" Teriak Keira menatap sengit ke arah Bagas. "Kei!" Teriak Bagas membalas teriakan Keira. Disini Bagas yang salah, bukan perempuan kecil yang tengah ia gandeng bahkan perempuan kecil itu sekarang ketakutan bersembunyi di belakang tubuh Bagas. "Apa karena pernikahan kita berawal dari perjodohan kamu bisa seenak jidatnya membawa dia pulang?" Tangan Bagas yang bebesa memijat keningnya, ia tahu jika masa lalunya akan terkuak juga. Bagas disini bukan tidak menghargai Keira tapi ia tidak tahu hal apa yang harus ia lakukan. "Pelankan suara kamu Kei. Dia tidak bersalah." Pinta Bagas dengan nada sedikit mengiba. "Lantas kenapa dia ada disini? Kemana jal*ng kamu itu?" Keira sadar saat ia menikahi Bagas, Bagas memang masih memiliki kekasih. Tapi tidak harus membawa ekornya ke dalam pernikahan yang baru menginjak usia empat tahun ini, bukan? "Keira, stop bicara kasar. Lebih baik kamu masuk kamar. Aku mau mengantar Lala ke kamarnya." Putus Bagas dengan melangkah masuk ke dalam kamar yang dulunya ditempati tamu. "Kamu memang kelewatan Mas. Aku sadar jika aku belum bisa memberikan kamu anak, tapi jangan pakai cara seperti ini." Selesai mengatakan itu Keira bergegas ke kamar utama, ia membanting pintu sekerasnya. Langkahnya menyapu ruangan yang banyak memberi kenangan manis dengan Bagas, kedua tangannya mengambil koper dan menyiapkan beberapa barang yang akan ia bawa pulang. Harga dirinya sangat tinggi, jadi saat Bagas membawa anak itu kesini maka dirinyalah yang harus pergi. "Apa-apaan kamu, Kei." Bagas yang selesai menidurkan Lala sontak terperanjat dengan keadaan kamar tidurnya yang sudah seperti kapal pecah. Jangan tanyakan apa yang dilakukan Keira. Melangkah keluar, ia mengusap sisa air matanya. "Aku mau pergi dari sini, dan kamar ini seperti ini sama seperti hatiku."