Limit (Infinity 2)

Limit (Infinity 2)

  • WpView
    Reads 767
  • WpVote
    Votes 157
  • WpPart
    Parts 11
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Sep 28, 2025
"Ada batas diantara kita yang tidak bisa aku robohkan sampai kapanpun." -Lavanya Carolyn. "Kalo cari imam di masjid. Jangan ngelirik yang di gereja," sindir Archakra pada gadis yang tengah duduk menunggu kekasihnya selesai beribadah. Lavanya terdiam. "katanya mau nyari imam di masjid, kok sekarang malah ngelirik yang di gereja Lavanya?!" Perkataan Arca membuat dia teringat kejadian dulu saat mengantar Archakra ke masjid. "Yang seiman enggak ngasih hati. Tapi yang enggak seiman malah ngasih hati." ucap Vanya asal. "Yang enggak seiman emang bisa ngasih hati, tapi akan tetap berujung dengan perpisahan yang akan menyakiti hati." timpal Archakra . Kehidupan Lavanya Carolyn selalu tidak berjalan mulus. Padahal Sagara selalu memperlakukan Lavanya seperti seorang ratu. Dia sangat menyayangi gadis itu lebih dari gadis itu menyayanginya. Namun, Archakra Jonathan kembali hadir dalam kehidupan Lavanya. Hadir diantara hubungan Lavanya dan Sagara yang selama satu tahun ini baik-baik saja. Jadi, bagaimana kisah Lavanya Carolyn kali ini? Akankah dia bersama Sagara yang jelas berbeda dengannya. Atau kembali bersama Archakra Jonathan teman yang pernah dia cintai?
All Rights Reserved
#531
tekateki
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Sailing With You [END]
  • RAYYA & REVAL (completed)
  • VALESA (END)
  • My Aunt My Hero [END].
  • ARSHAKA (END)
  • Langit Yang Merenggut Cinta
  • Ana Uhibbuka Fillah ( TAMAT  )
  • Aarav's (TAMAT)
  • Romansa Mayor [ TERBIT ]

Perjalanan kisah cinta Gara seorang naval architect muda dengan Arunika mahasiswi magang yang bekerja membantunya. Siapa sangka pertemuan takdir itu mengungkap kisah masa lalu yang dipenuhi kesalahpahaman. Akankah bahtera Gara dan Arunika bisa terus berlayar di antara badai yang menerjang ? ..... Ceklek Sontak Gara menoleh. Dengan panik dia berlari namun naas kakinya tergelincir cairan licin di lantai. Tubuh Gara oleng tak seimbang namun dia berhasil menstabilkannya dengan gerakan reflek yang ia lakukan. Arun berkedip-kedip melihat pemandangan di depannya. Dia memang tak asing melihat cowok bertelanjang dada. Ardi sepupunya selalu begitu saat di rumah ketika gerah. Begitupun teman-temannya saat di kelas sehabis pelajaran olah raga. Tapi yang ia lihat kini Gara. Suaminya. Yang masih untouchable. "Mas Gara ngapain nari sambil handukan gitu ?"ceplos Arun menyembunyikan debaran di balik ekspresi heran. "Hah ?! Aku nggak lagi nari, Arun. Ini hampir jatoh" What the hell !!! nari ? Arun ngira gue nari ?! Masa gue tadi gemulai ? Padahal kehormatannya sebagai suami hampir di ujung tanduk begitu. Untung saja dirinya tidak jatuh tengkurap di hadapan Arun. Syukurlah hari ini masih bisa jaim (jaga image) "Oh.." Arun tak ambil pusing dan berjalan mengambil alat pelnya. ..... "Nama urus belakanganlah. Cari ukurannya dulu. Dihitung dirancang dulu. Baru dikasih nama." "No !!! Nggak bisa gituu. Bagi gue kapal itu udah kaya anak. Jadi ya kasih nama dulu baru dirawat dan dibesarkan sepenuh hati" terang Shofi. "Ya kan sebelum anak lahir lo harus bikin dulu. Ngidam dulu. Lahiran dulu. Baru dikasih nama" "Hmmmm....begitu ya" Shofi manggut-manggut membenarkan perkataan Arun. "Eiiiits....bentar-bentar. Bikin dulu ?! Ngidam dulu ?!" Ulang Shofi. "Tumben lo ikutan gak jelas nanggepin metafora gue" heran Shofi. Arun tersadar. Mengalihkan pandangannya dari buku dan menatap lurus Shofi di depannya. "Iya juga." jawabnya singkat dan meneruskan kembali bacaannya dengan cuek.

More details
WpActionLinkContent Guidelines