Pelet Sang Suami (END)

Pelet Sang Suami (END)

  • WpView
    Reads 6,348
  • WpVote
    Votes 177
  • WpPart
    Parts 22
WpMetadataReadMatureComplete Thu, Oct 31, 2024
Sepasang muda mudi tengah asik menikmati terbenamnya matahari di tepi pantai. Sang lelaki ingin mengungkapkan perasaannya kala itu, tetapi sang wanita malah memberikan sebuah kertas dengan ukiran tinta emas terbungkus plastik. Itu undangan pernikahan sang wanita dengan laki-laki lain. Yah.. Aku akan menikah dengan laki-laki yang baru ku kenal. Entah kenapa aku bisa langsung menerima begitu saja pinangannya saat itu. Apakah cinta datang secepat itu? Ada apa di balik semua ini. Terasa seperti mimpi kalau besok aku akan menjadi istri laki-laki itu.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Misteri- US
  • REYSA [Reyvan & Sarah] [END]
  • Zeyna's Life
  • Awan Hiasan [terbit]
  • AVASKAR
  • Bukan Istri Bayaran(End)
  • Selamat Datang Cinta
  • Aku, Kamu dan Hujan
  • Meraih Cinta mantan Istri

Suatu hari kita dipertemukan oleh hujan, di bawah hujan, kita saling pandang. Kau ibarat payung, membuatku merasa teduh setiap kali dingin mengigilkan. Kita adalah sepasang rindu tanpa ikatan. Seringkali aku membatin, haruskah ku tanyakan perihal rasamu, mengapa kau selalu ada memenuhi segala kebutuhanku. Tuhan teramat baik. Tanpa waktu yang lama, kita akhirnya dipertemukam lagi, kali ini pertemuan yang sangat romantis. Kau memintaku menjadi pendamping hidupmu. Aku merasa beruntung, masih bernafas hingga detik ini. Tidak secuilpun, bahwa hidup bersamamu akan menjadi sebuah kenyataan. Lagi - lagi Tuhan teramat baik, dia berikan aku kesempatan membina keluarga sederhana bersamamu, bukan lagi hujan yang menciptakan romantisnya, namun pelukanmu adalah sebuah keromantisan yang setiap saat ku rasakan. Baru sejenak, karena Tuhan begitu sayang kepadaku. Sepulang dari Honeymoon, Tuhan menguji dengan perpisahan kita setelah honeymoon yang terasa begitu manis. Ingin ku sesali hari itu, andaikan saja begitu bathinku selalu bersuara. Namun, aku tidak ingin menjadi manusia yang tidak tahu diri. Sekarang aku hanya bisa mengikhlaskan, sembari menunggu benihmu yang tumbuh di perutku bisa menatap dunia. Aku tak sanggup lagi membaca deary yang ku pegang saat ini, yang ternyata adalah deary ibuku sendiri. Perlahan semuanya berlalu. Aku kehilangan arah dan tujuan. Semua berubah, kehidupanku. Hingga pada akhirnya, aku tersadarkan. Bahwa tidak ada surat ibu ke koran, tiada deary, tidak ada ibu angkat yang jahat, juga tidak ada kisah cintaku bersama Alex. Orang yang ku benci selama ini adalah ibu, perempuan yang melahirkanku. Perempuan yang masih bisa menatapku dengan penuh cinta, disaat suaminya, Ayahku. Harus meregang nyawanya karenaku. Semua ulahku, andai saja aku mendengarkan permintaan ibu untuk tidak menjalin hubungan dengan Arkan, ini tidak terjadi. Pasien skizofrenia ! Aku melangkah gontai, mengikuti langkah kaki perawat yang memanggilku.

More details
WpActionLinkContent Guidelines