SOLITUDE

SOLITUDE

  • WpView
    Reads 24,498
  • WpVote
    Votes 384
  • WpPart
    Parts 9
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Aug 9, 2022
Terlahir berbeda dengan bayi kebanyakan, gadis ini memiliki kelainan heterochromi (warna mata yang berbeda). Kelahirannya dianggap sebagai pembawa malapetaka dan semua keluarga dan orang-orang terdekat menyebut gadis itu dengan sebutan kutukan monster. "Monster kayak lo gak usah berharap bisa jadi cinderella!" "Pergi aja dari rumah ini bodoh!" "Aku tidak sudi mempunyai anak sepertimu!" "Ngeri banget matanya!" "Matanya keliatan aneh banget." "Dia kayak alien." Umpatan-umpatan serta cacian pedas sudah menjadi hal biasa didengar oleh gadis itu. Sampai tak sedikit orang mengatakan bahwa matanya adalah pembawa kesialan. Kasihan sekali memang. Hingga suatu hari penderitaannya bertambah kala ia mendapatkan serangan dari beberapa siswa-siswi di sekolah terus menerus hingga membuatnya berpikir untuk bunuh diri saja. Tetapi saat ia akan menjalankan rencananya yang tampak sempurna, semuanya menjadi sia-sia kala sesuatu menghalanginya. Atau mungkin seseorang. #Angst #Sad #Bully #Harsh word #15+ #Kekerasan
All Rights Reserved
#378
hancur
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • SUARA BIA (TAMAT)
  • 15th Voltage [Tegangan 15] ✔(COMPLETED)
  • 0°Celcius [End]
  • Paradise
  • Breathe
  • ALEA
  • Antara Cinta dan Lara
  • 3 Dimensi
  • Harapan Bunga Terakhir
  • ADRESTIA (ON GOING)

"Bia, Ibu tahu, ini semua hanya keisenganmu untuk lari dari hukuman. Tapi hukuman tetaplah hukuman, Bia. Kau tidak bisa lari dari itu." Lanjut sang Guru menyadarkan Bia dari lamunannya. Sorot matanya penuh kekecewaan. Tangannya mengepal, mencengkeram erat rok biru yang ia kenakan. Ia merasa tersudut. Tak ada yang mendengarkannya. Tak ada yang memahaminya. Tidak kedua orang tuanya, tidak juga tempat yang konon disebut rumah keduanya. Sekolah. Sedetik kemudian Bia bangkit dari kursi. Mengambil kertas dan pena yang ada. Lugas, ia menuliskan sesuatu dengan tangan kecil yang penuh luka itu. Getar terlihat dari tangannya. Guru itu memandang bertanya-tanya. Namun Bia tak peduli. Ia meletakkan pena itu, lalu dengan cepat melipat kertas itu. Tanpa permisi, Bia meninggalkan ruangan dan sang guru yang masih tak mengerti aksi apa lagi yang akan dilakukan siswi itu. Langkahnya cepat. Tujuannya terhenti pada kotak saran yang usang. Kotak yang terbuat dari kayu itu tampak berdebu dan diselimuti sarang laba-laba. Bia menelan salivanya. Menatap lurus pada kotak itu dengan sedikit sisa-sisa harapan yang ada. *** ⚠️Semua yang ditulis adalah murni imajinasi penulis. Vote dan komentar yang diberikan akan sangat berharga/memberikan semangat penulis untuk membuat kisah selanjutnya. Selamat membaca, semoga terhibur dan terimakasih telah menyempatkan waktu untuk membaca :) ❤️

More details
WpActionLinkContent Guidelines