Default Title - Airmatabulan

Default Title - Airmatabulan

  • WpView
    Reads 3
  • WpVote
    Votes 1
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadMatureComplete Tue, Feb 1, 2022
Mentari sepertinya tak ingin menampakan akan sinarnya, senja yang ku tunggupun tak kunjung menepi, biasanya dirimu datang dan pergi namun sekarang hadirmu tak kunjung ku temui, Ku langkahkan kaki dalam setiap bait kerinduan akan hadirmu, dengan angin yang mengulang kembali masa itu, dedaunan menemani setiap langkah ku sedang hujan menyambut atas kedatangan ku, ku lalui setiap langkah, ku susuri semua tentang mu, hingga aku berada dalam akhir dari kisah dan pembatas antara kita. Selamat jalan orang baik, semoga mendapat ganti yang lebih baik dari masa yang begtu kejam, semoga bahagia dan tenang menyertai mu,
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Why you Comeback
  • BIANGLALA SENJA
  • Hampa(TAMAT)✔
  • Naturaloves
  • Kisah Kita Dan Hujan
  • Untuk Dimas (End) REVISI
  • dimana janji tersebut
  • "ARGON" Untukmu Bidadari Hatiku
  • Hai masa lalu.
  • 雨 (𝐡𝐮𝐣𝐚𝐧)

"Kenapa kamu balik lagi? dan tadi kamu bilang apa? mau perjuangin aku? Udah nggak ada guna nya" ujar gadis itu dengan penuh penekanan kepada pemuda yang bernama lengkap Gemilang Pratama. "Kasih aku kesempatan sekali lagi Sa. Aku minta maaf atas semua hal yang terjadi dulu. Aku bakal jelasin semuanya...aku janji bakal buat kamu jauh lebih bahagia kali ini," Ujar Tama lirih dan penuh permohonan. Tangan Tama berusaha untuk memegang pergelangan tangan gadis yang ia panggil, 'Sa'. Namanya Dia Carissa, kerap kali dipanggil Sasa. Namun, tangan Tama justru ditepis oleh Sasa. Sasa menatap Tama dengan sorot mata yang tak bisa dijelaskan. Kekecewaan, kebencian, kerinduan, kecemasan, bercampur aduk dalam sorot mata Sasa. "Ga ada satupun kesempatan yang pantas aku berikan lagi ke kamu. Aku sangat berharap kamu MATI", ujar Sasa dan berlalu meninggalkan Tama dengan tergesa-gesa. Tama hanya bisa menatap kepergian Sasa dengan terpaku, pemuda itu terpaku pada kata terakhir yang dilontarkan oleh Sasa. MATI

More details
WpActionLinkContent Guidelines