tiba - tiba terdengar suara perempuan : kamu telponan sama siapa, mas?
Lalu pria itu menjawab : klienku. (dingin, beranjak meninggalkan wanita dengan perut buncit itu)
---------------
Alexa, alexa gue mohon, lo hentiin semua ini, gue janji gue akan ninggalin karel dan dia akan rujuk lagi sama lo, gue yakin dia bisa mencintai lo setelah gue pergi, semua cuma perlu waktu, mbak sasa gue mohon banget, dia ayah dari anak - anak lo mbak. Lo harus mikir juga berapa juta orang yang akan kehilangan pekerjaan cuma karna perasaan kita, mbak (kalo karel pergi, adjaskara company otomatis akan tutup karena karel belum mempersiapkan siapapun untuk menggantikan posisinya). Gue janji gue akan menghilang dari kehidupan kalian tapi please hentiin semua ini. lepasin Karel, mbak. Gue mohon, mbak.
---------------
Tentang seorang wanita yang terpaksa menikah dengan seorang pria, tanpa cinta, hanya balas budi demi warisan. Pria itu sendiri ternyata telah memiliki pasangan hidup, yang dipersatukan karena sebuah tragedi yang ironis dan miris.
Apakah yang akan terjadi pada mereka? Mungkinkah setiap sisi menerima apa yang disebut kebahagiaan? Atau harus ada yang pergi?
Aku nggak pernah menyangka-bahwa setelah bertahun-tahun menikah dengan Dinda, perempuan yang tumbuh bersamaku dalam suka dan luka, hatiku justru bergetar oleh hadirnya Arunika, seorang wanita yang usianya delapan tahun lebih muda dariku. Dan aku? Terjebak di antara rasa bersalah dan perasaan yang tak pernah kuminta hadir.
Awalnya kupikir itu cuma jeda sejenak dari lelahnya hidup. Tapi perasaan itu tumbuh diam-diam, mengakar, dan mulai mengguncang segala yang kukira telah mapan. Arunika datang sebagai angin segar, tapi juga badai yang memporak-porandakan rumahku sendiri.
Lalu waktu berjalan. Arunika pergi. Dan aku kembali berhadapan dengan Dinda-perempuan yang tidak hanya ditinggal, tapi juga dikhianati. Kami belajar berdamai, meski dengan luka yang belum kering. Tapi ketika aku mulai ingin mencintainya lagi, semesta seperti menguji: hadir sosok lelaki lain yang mulai mengisi ruang yang dulu penuh dengan namaku.
Ini bukan kisah tentang siapa yang paling mencinta. Tapi tentang siapa yang memilih tetap tinggal, bahkan setelah semuanya hampir runtuh.