HANATHAR [END]

HANATHAR [END]

  • WpView
    Reads 707,507
  • WpVote
    Votes 47,592
  • WpPart
    Parts 53
WpMetadataReadComplete Sat, Dec 23, 2023
Menjalani hidup dengan seorang ketua perkumpulan ternama yang banyak dikagumi orang banyak bukanlah salah satu hal yang pernah terlintas di pikiran Hana. Tidak pernah terlintas sedikitpun di pikirannya untuk bisa menjadi istri sekaligus teman hidup lelaki tampan bernama Alvanendra Nathar Armaghan. Begitu juga dengan sebaliknya. Tidak pernah sama sekali terlintas di pikiran Nathar untuk bisa menjadi suami dari perempuan sholeha seperti Hanania Hazzafa Naeswari. Nathar tidak menyukai Hana, begitu juga sebaliknya. Keduanya tidak saling mencintai namun terikat dalam suatu hubungan yang halal. Semuanya terjadi begitu cepat. Nathar terpaksa harus menikah dengan Hana karena permintaan dari keluarganya. Bagaimana mungkin Nathar bisa mencintai Hana sedangkan dirinya sendiri sudah mencintai orang lain. Dan bagaimana mungkin Hana bisa mencintai Nathar sedangkan sifat dan kelakuan Nathar sama sekali tidak mencerminkan sosok lelaki sholeh yang Hana minta dalam setiap doanya. "Tanpa disadari mungkin kita berdua pernah dipertemukan di suatu tempat, tapi kita tidak menyadarinya. Kamu tidak pernah mencariku dan aku juga tidak pernah mencarimu. Tapi siapa sangka, Allah SWT yang mempertemukan dan menyatukan kita dalam ikatan yang halal seperti sekarang ini." - Alvanendra Nathar Armaghan & Hanania Hazzafa Naeswari -
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Air Mata Cinta Di Teras Surga ( SELESAI )
  • SERIBU HADITS✓
  • Indahnya Persahabatan Menuju Cinta (SEDANG DI REVISI).
  • You're My Alhamdulillah
  • Ikhtiar Menjemput Cinta [REVISI + END]
  • Anta Habibi Ya Zawji
  • MAS WILDAN [END]
  • Jika Takdir Telah Ditentukan
  • Saat Cinta Membawa Ke Surga
  • Cinta Sejati

Malam ini, beberapa hari setelah aku kembali dari Arab Saudi, aku bersama ayah dan ibuku datang ke rumah salah seorang kerabat ayah untuk bersilaturrahmi di hari raya, dalih kami. Padahal, yang sebenarnya adalah kami memiliki maksud dan tujuan yang lebih utama dari bersilaturrahmi di hari raya, yakni untuk melihat gadis yang diinginkan ibu menjadi calon istriku. "Naira. Naira Salsabila nama lengkapnya. Naira ini adalah putri kandung kami." Begitu ayah gadis yang ingin kulihat itu memperkenalkan putri beliau kepadaku, dan kepada ibu dan ayahku, saat Naira, sapaan si gadis berhijab orange muda, menyajikan teh untuk kami yang sedang bertamu ke rumahnya. Naira, gadis berumur dua puluh tahun itu perlahan mulai mencuri pandanganku. Wajah putih lembut. Pipi yang merona. Tatapan matanya yang sendu. Senyum tipis yang mengunci bibir. Sikapnya yang santun. Pandangan yang senantiasa terkurung sungkan. Semua hal yang sungguh indah lagi anggun di mataku tersebut, seakan tak membiarkan hatiku untuk ragu pada niat suciku terhadapnya. Bahkan, sedikitpun keraguan tak ada bayangan akan tumbuh.

More details
WpActionLinkContent Guidelines