Hug Me, Yah

Hug Me, Yah

  • WpView
    Leituras 505
  • WpVote
    Votos 22
  • WpPart
    Capítulos 18
WpMetadataReadMaduroEm andamento
WpMetadataNoticeÚltima atualização qui, nov 6, 2025
Sheila, gadis berusia 17 tahun yang harus dipaksa takdir untuk berdiri kokoh. Menjadi tumpuan sang adik, Renan. Hingga melupakan masa remajanya. Gadis yang harus membanting tulang sejak dini, demi mengejar cita-citanya dan menyekolahkan adiknya. 'Gak papa'. Sheila tidak pernah bermasalah untuk merasakan semuanya. Dia tahu akan takdir hidup setiap manusia. Dia sudah pernah merasa bahagia, amat sangat. Mungkin kali ini roda hidupnya tengah berada di bawah, mungkin kali ini Tuhan ingin menguji kesabarannya. Dan, Sheila sedang berusaha melakukannya sebaik mungkin. Sampai telinganya kembali mendengar suara ini. "Putri Ayah cape ya? Sini Ayah peluk." Ah, Sheila tidak sabar menunggu hari itu tiba.
Todos os Direitos Reservados
Junte-se a maior comunidade de histórias do mundoTenha recomendações personalizadas, guarde as suas histórias favoritas na sua biblioteca e comente e vote para expandir a sua comunidade.
Illustration

Talvez você também goste

  • DI ANTARA DUA KEHIDUPAN (END)
  • New Possessive Family
  • Yang Dulu Melukai,Kini Menyayangi [END]
  • Sheina (Terbit)
  • Sheena [REVISI]
  • Luka yang sama
  • Forever Alone (Sudah Terbit)

"Anak hebat Ayah, kalau sudah besar mau jadi apa?" Suara itu masih terngiang di kepala Syela, lembut dan penuh kasih sayang. Malam itu, ia masih berusia enam tahun, duduk di pangkuan ayahnya yang selalu wangi dengan aroma buku dan kopi. "Dokter, Ayah. Supaya Syela bisa menyembuhkan orang-orang dan membantu banyak orang," jawabnya dengan penuh semangat. Ayahnya tertawa kecil, mengusap kepalanya dengan penuh kebanggaan. "Syela janji ya, suatu hari nanti akan jadi dokter hebat? Ayah janji akan selalu menuntun langkah Syela sampai impian itu terwujud." "Iya, Ayah! Syela janji! Terima kasih, Ayah. Syela sayang Ayah, sampai kapanpun." Janji itu terdengar begitu nyata, seolah hanya terjadi kemarin. Tapi kini, bertahun-tahun setelahnya, Syela hanya bisa menatap kosong ke langit-langit kamar. Ayah tidak lagi di sini. Janji itu, yang dulu terdengar seperti kepastian, kini hanya tinggal kenangan yang menggantung di dara. Syela menarik napas panjang, meremas ujung selimutnya. Sudah bertahun-tahun sejak ia kehilangan sosok yang paling ia cintai. Tapi luka itu tak pernah benar-benar sembuh. "Mana janji Ayah yang akan menuntun langkah Syela?" baca selengkap nya ya! @ssabrinena @syelas.story

Mais detalhes
WpActionLinkDiretrizes de Conteúdo