Jae!
  • WpView
    Reads 5
  • WpVote
    Votes 2
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Apr 24, 2022
WpInfo
Fiction
Fantasy
"Saya akan pergi kesuatu tempat, jadi kau pulang saja." Pria tua itu setengah membungkuk, "Baik tuan." Setelah melihat pria tua itu pergi, ia berdiri kemudian keluar dari ruangan nya, "Apakah saya memperkerjakan kalian hanya untuk mengurusi kehidupan orang lain?!" Semua karyawan disana mulai panik, lalu kembali kemejanya masing masing, ia menyipitkan matanya, lalu pergi. "Gue heran deh, bos kita ganteng, mapan. Kurangnya cuman satu, sifatnya persis iblis," bisik salah satu karyawan itu. Pria itu berbalik, kemudian tersenyum simrik, "Kamu. Saya pecat!"
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Being a Good Papa [ End ]
  • Transmigrasi Arion Barendra [Hiatus]
  • Queen (End)
  • Paradise
  • Black Xmas {SoraMafu} [AtR Story]
  • ANDARE
  • Long Our Love
  • Aku Bertransmigrasi Ke Dunia Naruto?!

Apa penyesalan dalam hidup yang pernah kalian alami? Kalau Arthan ditanya seperti itu, maka dia akan menjawab ; Menjadi pria yang tidak berguna, sekaligus ayah yang gagal. Setidaknya Arthan ingin sekali dalam hidupnya, dia melakukan hal-hal yang membuat keluarganya bahagia. Namun, hidup yang hanya sekali itu, dia habiskan untuk hal-hal yang sesat. Berjudi, mengabaikan anaknya setelah ditinggal mati oleh istri, dan terlilit hutang hingga rentenir terus berdatangan. Lantas, pada malam dia dikejar oleh rentenir dan anaknya, Alberix, disandera oleh rentenir, Arthan tertabrak truk dan tubuhnya terhempas begitu saja di aspal, hingga aspal itu digenangi oleh darahnya yang menyebar kemana-mana. Malam dimana penyesalan terus berdatangan. Lalu, dengan begitu saja, Arthan menutup mata dengan perasaan bersalah yang menumpuk di dalam dada. Hingga ketika ia membuka mata, bukan alam Barzah lah yang ia lihat, tetapi wajah anaknya yang datar saat sedang melakukan sarapan bersama. Arthan spontan menyeletuk, "Alberuk?" Alberix langsung bombastic side eyes. "Alberix, pa. Not Alberuk, apalagi beruk."

More details
WpActionLinkContent Guidelines