Alnara dan Ilusi

Alnara dan Ilusi

  • WpView
    GELESEN 14
  • WpVote
    Stimmen 10
  • WpPart
    Teile 6
WpMetadataReadLaufend
WpMetadataNoticeZuletzt aktualisiert Do., Juli 14, 2022
WpInfo
Belletristik
Romantik
Prolog Sama halnya dengan malam yang selalu gelap jika tidak ada penerang, begitu juga hidup seorang Alnara Mahesa yang gelap gulita jika tidak ada penerang. Hidupnya hanya akan berwarna jika ada orang-orang disekitarnya. Jika mereka hilang maka hidup Alnara akan sunyi. Ini kisah Alnara Mahesa bersama ilusinya sendiri, sang gadis pemimpi yang mengharapkan kebahagian. Alnara gadis bertopeng kebahagiaan itu yang selalu berharap ceritanya berakhir bahagia, Alnara yang mencintai hujan dengan sederhana, Alnara si penikmat sudut ruangan.
Alle Rechte vorbehalten
Werde Teil der größten Geschichtenerzähler-CommunityErhalte personalisierte Geschichtenempfehlungen, speichere deine Favoriten in deiner Bibliothek und kommentiere und stimme ab, um deine Community zu vergrößern.
Illustration

Vielleicht gefällt dir auch

  • Erlangga
  • INVISIBLE WOUNDS: Transmigrasi Jiwa
  • PELANGI
  • Hujan dan Sebuket Dandelion
  • ALUNA
  • Anara: Pergi tanpa benar-benar pergi
  • TRANSMIGRASI 3 SAHABAT (TAMAT)
  • RAYGARA (SELESAI)
  • Naura & Lukanya
Erlangga

Erlang selalu berpikir bahwa cinta adalah sesuatu yang bisa ia genggam erat. Bahwa ketika dua orang saling mencintai, mereka akan tetap bertahan, apa pun yang terjadi. Tapi nyatanya, itu hanya keyakinan naif yang perlahan hancur di hadapannya. Pacarnya pergi karena dia sudah menemukan yang baru. Semua janji, semua rencana masa depan, semuanya runtuh dalam sekejap. Erlang hanya bisa menatap kepergiannya, bertanya dalam hati, "Apa aku kurang baik?" Belum juga ia berdamai dengan kehilangan itu, takdir menamparnya lebih keras. Sahabatnya, satu-satunya orang yang mengerti dia tanpa banyak bicara, pergi-bukan karena memilih, tapi karena kehidupan memutuskan demikian. Kali ini, kepergian itu benar-benar untuk selamanya. Tidak ada kesempatan untuk meminta maaf, tidak ada lagi tawa yang bisa dibagi. Ditinggalkan oleh orang yang ia cintai, kehilangan orang yang selalu ada untuknya-Erlang berpikir, mungkinkah ia memang ditakdirkan untuk sendiri? Namun, di tengah kehancurannya, ada satu orang yang tetap di sisinya. Seseorang yang tak banyak bicara, tapi selalu tahu kapan harus mendengar. Sahabat yang tidak pernah menjanjikan apa pun, tapi selalu ada tanpa diminta. Dan dari sana, tanpa Erlang sadari, luka yang ia pikir tak akan sembuh perlahan mulai menemukan cahaya. Cinta yang ia kira sudah mati, ternyata masih punya kesempatan untuk hidup kembali. Apakah Erlang siap membuka hatinya lagi? Atau masa lalu akan terus menghantuinya?

Mehr Details
WpActionLinkInhaltsrichtlinien