"Kalau pun gue yang ngebunuh cewek sialan itu, gue nggak bakalan ngelakuin secara diam-diam. Gue bakalan bunuh dia didepan lo semua. Gue bukan pecundang yang beraninya main belakang!" Ajeng menunjuk semua orang yang ada disana.
"Seperti kalau gue mau ngebunuh lo,..." Ajeng menunjuk wajah Dela, "Gue akan ngelakuin langsung didepan semua semua orang!"
Dan tanpa bisa dicegah oleh siapapun, Ajeng dengan cepat menjambak rambut perempuan itu, lalu menariknya menuju tembok. Tak hanya itu, Ajeng juga membenturkan dahi perempuan itu dengan sangat keras.
Dela berteriak kesakitan, termasuk beberapa orang yang menyaksikan itu.
BRAKK!!
"ARGHH! SAKIT!" Teriak Dela kesakitan seraya memegang rambutnya yang masih dijambak.
Ajeng benar-benar sudah berada diluar kendali.
"Ini karna lo berani nuduh dan nantangin gue, sialan!!" Makinya mengabaikan teriakan kesakitan dari perempuan itu.
Aku beringsut berdiri dan berniat meninggalkan kamar ini secepatnya. Tapi tanganku dicekal olehnya dan langsung ku sentak dengan keras hingga terlepas.
"Rain..." panggil Lano namun tak berniat ku hentikan langkah ini ataupun menoleh kebelakang.
Namun ketika menyentuh kenop pintu, dua lengan kekar memelukku dari belakang.
"Jangan pergi" hembusan nafas yang terasa panas menerpa kulit leherku yang terbuka.
Aku memberontak dan memukul-mukul tangannya yang melingkar diperut "Lepas! Lepaskan!!!" teriakku dengan suara parau
Bukannya melepas, Lano semakin mengeratkan pelukannya. Tenagaku terkuras habis, sebanyak apapun tenaga yang ku keluarkan untuk lepas dari kukungannya hasilnya tetap sama. Aku masih dalam dekapannya.
"Aku benci kau Lano..."
Pandanganku memburam seiring mata yang tertutup. Akhirnya aku menyerah dalam pelukannya. Disisa kesadaran aku mendengar suaranya yang nyaris seperti bisikan.
"Maaf..."