Story cover for AJENG (COMPLETED) by innaizna
AJENG (COMPLETED)
  • WpView
    LECTURAS 1,213,387
  • WpVote
    Votos 74,540
  • WpPart
    Partes 71
  • WpView
    LECTURAS 1,213,387
  • WpVote
    Votos 74,540
  • WpPart
    Partes 71
Continúa, Has publicado feb 11, 2022
"Kalau pun gue yang ngebunuh cewek sialan itu, gue nggak bakalan ngelakuin secara diam-diam. Gue bakalan bunuh dia didepan lo semua. Gue bukan pecundang yang beraninya main belakang!" Ajeng menunjuk semua orang yang ada disana.

"Seperti kalau gue mau ngebunuh lo,..." Ajeng menunjuk wajah Dela, "Gue akan ngelakuin langsung didepan semua semua orang!" 

Dan tanpa bisa dicegah oleh siapapun, Ajeng dengan cepat menjambak rambut perempuan itu, lalu menariknya menuju tembok. Tak hanya itu, Ajeng juga membenturkan dahi perempuan itu dengan sangat keras. 

Dela berteriak kesakitan, termasuk beberapa orang yang menyaksikan itu.

BRAKK!! 

"ARGHH! SAKIT!" Teriak Dela kesakitan seraya memegang rambutnya yang masih dijambak. 

Ajeng benar-benar sudah berada diluar kendali. 

"Ini karna lo berani nuduh dan nantangin gue, sialan!!" Makinya mengabaikan teriakan kesakitan dari perempuan itu.
Todos los derechos reservados
Tabla de contenidos
Regístrate para añadir AJENG (COMPLETED) a tu biblioteca y recibir actualizaciones
O
#289klasik
Pautas de Contenido
Quizás también te guste
Harapan Bunga Terakhir de safirapebrianaa
21 partes Continúa
"abang!... aku dapet penghargaan loh" Teriak gadis Kecil mengejar lelaki dewasa didepannya lelaki yang di panggil abang itu hanya merespon delikan mata "abang mau kemana?,, " "ara ikut ya" mata itu menyorot tajam bak elang yang akan membunuh gadis mungil yang berdiri di depannya "lo.. bisa diem ga.. " Bulir airmata menggenang di pelupuk iris mata terangnya "ta'ap'i.. ara.. " "shitt' diem." dengan sorot tajam menahan amarah suara itu kembali membuat gadis itu bungkam bersamaan dengan jatuhnya bulir bulir airmata yang dipendam gadis Kecil itu. ⋆ ˚。୨୧˚˚୨୧。˚ ⋆ ' Menyerah ' Satu kata yang slalu berkeliaran dipikiran nya, apakah ia harus menyerah pada titik ini?? sedangkan ribuan pertanyaan Dan harapan masih setia bersemayam dipikiran nya Tidak adil baginya yang tidak tahu menahu titik permasalahanya tapi mengapa ia yang mendapat kesialan ini, satu kata yang slalu tertanam " PEMBUNUH " itulah kata yang slalu orang orang lemparkan pada diri nya... Gadis Kecil yang dulu slalu mengharapkan kasih sayang walau sekedar pelukan, nyatanya itu tidak ia dapatkan sampai kini ia kokoh berdiri sendiri menatap hamparan bintang dilangit dengan tatapan sendu, akankah semesta mendukung nya? _ apakah gadis Kecil itu bisa mewujudkan harapannya? .. _ Atau ia akan kalah akan takdir yang seolah tidak mendukung keinginan nya ? • • • _plagiat dilarang mendekat_ Dilarang garis besar Murni cerita sendiri tanpa Ada campur cerita lain Tahap revisi..... @meesyaa
Quizás también te guste
Slide 1 of 10
Diary Of Rain [END] cover
NERD GIRL [TAMAT] cover
Harapan Bunga Terakhir cover
KEPERGIAN SENJA cover
Rumah Tanpa Atap cover
DI BALIK ANDROMEDA (END/REVISI ULANG)  cover
Persona cover
Fingerprint (Dangerous)✅ cover
Him or him?  cover
Goodbye Alaska [END] cover

Diary Of Rain [END]

25 partes Concluida

Aku beringsut berdiri dan berniat meninggalkan kamar ini secepatnya. Tapi tanganku dicekal olehnya dan langsung ku sentak dengan keras hingga terlepas. "Rain..." panggil Lano namun tak berniat ku hentikan langkah ini ataupun menoleh kebelakang. Namun ketika menyentuh kenop pintu, dua lengan kekar memelukku dari belakang. "Jangan pergi" hembusan nafas yang terasa panas menerpa kulit leherku yang terbuka. Aku memberontak dan memukul-mukul tangannya yang melingkar diperut "Lepas! Lepaskan!!!" teriakku dengan suara parau Bukannya melepas, Lano semakin mengeratkan pelukannya. Tenagaku terkuras habis, sebanyak apapun tenaga yang ku keluarkan untuk lepas dari kukungannya hasilnya tetap sama. Aku masih dalam dekapannya. "Aku benci kau Lano..." Pandanganku memburam seiring mata yang tertutup. Akhirnya aku menyerah dalam pelukannya. Disisa kesadaran aku mendengar suaranya yang nyaris seperti bisikan. "Maaf..."