Obálka příběhu pro Karena Dia  od Lijasrgr1234
Karena Dia
  • WpView
    přečtení 439
  • WpVote
    Hlasy 536
  • WpPart
    Části 14
  • WpView
    přečtení 439
  • WpVote
    Hlasy 536
  • WpPart
    Části 14
Rozepsáno, poprvé publikováno úno 12, 2022
Bagaimana jadinya jika cewek pemalas tapi pintar kedatangan cowok baru yang ambis dikelas? merasa tersaingi? oh jelas. 

Nadia yang sebelumnya berkehidupan santai, dihidupnya tidak ada kata belajar dengan keras, karena ya dia terlahir dengan otak diatas rata-rata, dia hanya akan mendengar sekali penjelasan guru matematika didepan papan tulis dan dia akan langsung mengerti dan bisa mengerjakan soal latihan. Itu membuat dia sangat pemalas dan sering tidur dikelas, hal tersebut selalu membuat teman sekelasnya iri terhadapnya, TETAPI itu sebelum... sebelum anak baru yang ambis masuk kedalam kelas XI MIPA1, tapi sepertinya sifat pemalasnya disekolah tetap tidak beruah, kebiasaan tidur dikelas masih sering nadia kerjakan, tetapi sepertinya dia mempunya alasan untuk itu sekarang. 

Gabisa nulis deskripsi (Sorry) karena it's my first story, kalau penasaran langsung baca aja ya:)

Walaupun cerita ini tidak bagus" amat tapi tolong jangan ada yang memplagiati karena ini saya tulis bersih dari imajinasi saya.

[Jangan lupa follow sebelum membaca:)]
Všechna práva vyhrazena
Pro přidání Karena Dia do své knihovny a dostávání aktualizací se zaregistruj
nebo
Pokyny k obsahu
Taky se ti může líbit
GHAVARI  od alghisty_
Části: 11 Rozepsáno
"Heh!! Kalo bukan karena Lo sama temen-temen soglo Lo itu juga gue ngga bakalan jadi ketua OSIS!" Menjadi ketua OSIS hanya karena candaan teman?? Ghava Adimas praharja benar-benar merasa sial. Karena bagaimanapun juga, pada awalnya dia pun membiarkan saja. Dia yakin, bahwa siswa siswi SMA 28 tidaklah mungkin memilihnya? Namun, kenyataannya membuat Ghava stress sendiri. *** "Mana ada kingkong seganteng gue?" Ghava menyugar rambutnya sok keren yang sontak membuat araf yang berada di sampingnya menjambak rambut pemuda itu. "Sakit bangs*t!!" Umpatnya "Shutt up! Ketua OSIS ngga boleh mengumpat, harus jadi contoh dong buat kita-kita" syaheer menyahut sembari cekikikan, tentunya disusul yang lain. Mereka begitu senang menjahili Ghava yang memang sedikit sensi. "Tai!! setan Lo semua! Keluar aja sana!! Gue ngga butuh teman kayak kalian!" *** "Gue rasa, pertemanan kita sampe sini aja," Ghava berujar, air mukanya menunjukkan keseriusan. "Apa va?? Ngga denger gue?" Syaheer pura-pura melebarkan telinganya. Ghava menghela nafasnya "Kita temenan sampe sini aja" ucapnya lagi dengan suara yang lebih keras. "Ha? Wswswswsws?" Kini Araf yang mendekatkan telinganya mendekat pada ghava. "Makanya telinga tuh dibersihin. Congek kan!" Ketus Ghava kesal. *** "Ma! Pokoknya besok aku ngga mau sekolah!" *** "Lagian! Ngapain juga si kalian pada ke sini? Gue tuh udah bilang mama mau ngga masuk sekolah. Malah kalian pada dateng." Lanjut Ghava mengomel. "Kita di suruh Tante Hida by the way" Setia berujar dengan tersenyum manis. "Mana mungkin! Pasti kalian Dateng sendiri, mana cuma numpang makan doang. Ganggu tau ngga!" *** Gadis itu tengah meneduh dibawah pohon beringin yang terletak di samping lapangan. Menengguk minuman dari botol berwarna birunya dengan pelan. "Lo suka cewek kelas sana ya va?"
Taky se ti může líbit
Slide 1 of 7
Misi Kalisa (End) cover
Rannia√ cover
Bendahara Kelas [Completed] cover
Kelas A [End] cover
ALATAS cover
GHAVARI  cover
My First Love [END] cover

Misi Kalisa (End)

Části: 47 Dokončeno

"Ngapain lo!" Suara seseorang menyadarkanku, membuatku berbalik lalu menatapnya intens. Cowok belagu lagi. "Menurut lo, gue ngapain disini?" Ucapku setelah satu detik mencoba setenang mungkin. Dia menatap langit langit perpustakaan. Lalu menatapku kembali. "Lo ngadem kan," ucapnya dingin. Dia bukan bertanya, lebih tepatnya nuduh. "Sotoy banget lo!" Ucapku ketus tapi masih kategori pelan. "Aneh aja. Cewek kaya lo meluangkan waktu di perpus, apalagi sekarang nyari buku di rak matematika," ucapnya datar. "Emang kenapa?" Sahutku mulai kebawa emosi. Dia tersenyum miring. "Nggak pantes!" Ucapnya sambil mengeja. Lalu meninggalkanku dengan tersenyum devil. "Kenzo," panggilku berhasil membuatnya menoleh. Risih banget pertama kali manggil namanya. "Keren doang ya muka lo, tapi mulut lo busuk!" Mampus lo! Sakit hati sakit hati lo. Bodo amat dah. "Jadi gue keren?" "What?" Aku shock mendengarnya. "Thanks ya," ucapnya tersenyum sekilas sebelum benar benar meninggalkanku.