Tiga Pilihan (On Going)

Tiga Pilihan (On Going)

  • WpView
    Reads 2,187
  • WpVote
    Votes 1,383
  • WpPart
    Parts 20
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Jun 27, 2022
⚠️[YANG LIHAT CERITA INI HARAP MAMPIR DAN JANGAN LUPA FOLLOW KALOK SEMPAT]⚠️ ••• "Setiap hari waktu terus berputar ingatan dan kenangan selalu terbentuk dalam pikiranku". ••• "Kita tidak bisa menjamin sampai kapan hidup di dunia ini bisa saja nanti tidak lagi di sini. Karena hidup dan mati hanya tuhan yang tau". ••• "Selalu tersenyum pada hal diri sendiri terasa menderita ,tapi semua bila di jalani dengan senyuman pasti makin terasa tenang". "Jangan buat sekeliling yang kau sayangi ikut kawatir hadapi dengan senyuman manis mu". ••• Pesan di dalam buku daily di tulis oleh: ~Aina Putri Astrilia~
All Rights Reserved
#113
ipa
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • SUARA BIA (TAMAT)
  • 𝓐𝓷𝓽𝓪𝓰𝓸𝓷𝓲𝓼 𝓕𝓪𝓶𝓲𝓵𝔂
  • SARLA
  • NADIRAEFAL
  • SAD LIFE (TAHAP REVISI)
  • Devara [Proses Terbit]
  • [Revenge] Confidential 2 (END)
  • TERUNGKAP ATAU TERPERANGKAP  (END)
  • KIARA [End]

"Bia, Ibu tahu, ini semua hanya keisenganmu untuk lari dari hukuman. Tapi hukuman tetaplah hukuman, Bia. Kau tidak bisa lari dari itu." Lanjut sang Guru menyadarkan Bia dari lamunannya. Sorot matanya penuh kekecewaan. Tangannya mengepal, mencengkeram erat rok biru yang ia kenakan. Ia merasa tersudut. Tak ada yang mendengarkannya. Tak ada yang memahaminya. Tidak kedua orang tuanya, tidak juga tempat yang konon disebut rumah keduanya. Sekolah. Sedetik kemudian Bia bangkit dari kursi. Mengambil kertas dan pena yang ada. Lugas, ia menuliskan sesuatu dengan tangan kecil yang penuh luka itu. Getar terlihat dari tangannya. Guru itu memandang bertanya-tanya. Namun Bia tak peduli. Ia meletakkan pena itu, lalu dengan cepat melipat kertas itu. Tanpa permisi, Bia meninggalkan ruangan dan sang guru yang masih tak mengerti aksi apa lagi yang akan dilakukan siswi itu. Langkahnya cepat. Tujuannya terhenti pada kotak saran yang usang. Kotak yang terbuat dari kayu itu tampak berdebu dan diselimuti sarang laba-laba. Bia menelan salivanya. Menatap lurus pada kotak itu dengan sedikit sisa-sisa harapan yang ada. *** ⚠️Semua yang ditulis adalah murni imajinasi penulis. Vote dan komentar yang diberikan akan sangat berharga/memberikan semangat penulis untuk membuat kisah selanjutnya. Selamat membaca, semoga terhibur dan terimakasih telah menyempatkan waktu untuk membaca :) ❤️

More details
WpActionLinkContent Guidelines