Sweet and Sucks!

Sweet and Sucks!

  • WpView
    Reads 10,105
  • WpVote
    Votes 835
  • WpPart
    Parts 17
WpMetadataReadMatureOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Oct 20, 2024
Hidup Meisya Kamantya sudah cukup sulit. Menjadi salah satu aktris paling dibenci senetizen Indonesia, dibilang tidak punya bakat dan hanya modal tampang, kemudian dicap sebagai pelakor. Akan lebih mudah bagi Meisya, apabila ia mundur saja dari dunia entertainment dan menjalani hidup layaknya manusia biasa. Bukannya justru malah mengikuti casting salah satu film layar lebar adaptasi novel terlaris sepanjang masa, yang entah sial atau beruntung, dirinya malah lolos dan dinyatakan sebagai pemeran utama! Belum lagi lawan mainnya adalah aktor laga terkemuka Indonesia yang pernah muncul di film hollywood. Terlebih ternyata pertemuannya dengan pria tersebut menariknya kepada masa lalu terindah yang pernah ada di hidupnya! Pertanyaannya, apakah keputusan Meisya kali ini membawanya ke puncak dunia, atau justru menjerumuskannya ke lubang yang lebih dalam? - Warning: Mental Illness, Self Harm, Suicide, Sexual Content, Bullying
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Presentase Rasa ✔
  • BULLYING MY WIFE
  • Lady Antagonis (TAMAT)
  • MENIKAH KARNA DENDAM (COMPLETED)
  • MISS SUGIONO {END}
  • IDOLA GAMBUS - Bingkai Rindu Alkahfi
  • FAT(E) LOVE
  • My Lovely Fuckboy
  • What's Wrong With You, Boss? (COMPLETED)
  • ANTAGONIS ALVASYA [ON GOING]

Menjelang usia 25 kadang kita dihadapkan oleh banyak hal tentang masa depan. Kesuksesan yang diukur dari jabatan, penghasilan, hingga tentang asmara juga diperhitungkan. Standar masyarakat yang kian hari semakin tak masuk akal untuk diikuti. Hanya saja kita hanya seonggok manusia yang tak bisa merubah segala paradigma yang sudah ada. Memberontak memang bukan gayanya, tapi menuruti semuanya hanya akan membuatnya gila. Persetan dengan standar masyarakat, karena baginya hidup hanya untuk dirinya. Bahagia tak pernah bisa diukur hanya dengan pujian yang diberikan oleh mulut mulut tak beradab. Toh hidup ini juga bukan ajang perlombaan yang siapa cepat dialah pemenangnya. Karena, setiap orang punya ritme masing-masing untuk melalui tahapan. Jadi, jangan terburu-buru karena ketertinggalan yang tak pernah ada. -Kalinda Ardhiona-

More details
WpActionLinkContent Guidelines