Anderak [Dera]

Anderak [Dera]

  • WpView
    Reads 124
  • WpVote
    Votes 5
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, May 21, 2022
[ Edisi Khusus ] Antologi Cerpen Seekor gajah yang terjebak dalam anderak tidak bisa meminjam pemikiran Rumi dalam keputusan menemukan jiwa-jiwa aksara yang anggun; tubuhnya juga terlalu berat untuk meniru Ganjavi terbang bersama larik-larik indah kebebasan seorang Majnun. Biarlah gajah menyanyikan kidungnya sendiri dalam keputusan menikahi frekuensi 20Hz. Rumi dan Ganjavi sekalipun hanya dapat mendengar gelegar gajah mengumpat atau kegirangan; tapi pada kenormalan 20Hz mereka tak bisa memasang telinganya untuk menjadi saksi betapa gajah memilih bersenandung dan melafazkan larik-larik misterius. Tidak ada kewajiban bahwa keindahan harus dimagrurkan; keindahan dapat dirumuskan bahkan oleh lidah yang kelu. Berusahalah untuk memikirkan sesuatu yang horizontal; kebenaran sekalipun dapat terkandung pada bahasa-bahasa yang dianggap salah. Bertanggungjawablah pada metode yang telah diformulasikan. [ Ditulis ] Februari 2022
All Rights Reserved
#318
gajah
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Sailing With You [END]
  • Irreplaceable You [✓]
  • Kenapa Harus Aku?! || Kim Sunoo [END]✓
  • Burned Wound(Diterbitkan)
  • Garis Singgung Dua Dimensi
  • ALZEA (TERBIT)
  • Zargan ; ANNOYING HUSBAND ✔
  • Standing with the Mask
  • Wanita Pilihan

Perjalanan kisah cinta Gara seorang naval architect muda dengan Arunika mahasiswi magang yang bekerja membantunya. Siapa sangka pertemuan takdir itu mengungkap kisah masa lalu yang dipenuhi kesalahpahaman. Akankah bahtera Gara dan Arunika bisa terus berlayar di antara badai yang menerjang ? ..... Ceklek Sontak Gara menoleh. Dengan panik dia berlari namun naas kakinya tergelincir cairan licin di lantai. Tubuh Gara oleng tak seimbang namun dia berhasil menstabilkannya dengan gerakan reflek yang ia lakukan. Arun berkedip-kedip melihat pemandangan di depannya. Dia memang tak asing melihat cowok bertelanjang dada. Ardi sepupunya selalu begitu saat di rumah ketika gerah. Begitupun teman-temannya saat di kelas sehabis pelajaran olah raga. Tapi yang ia lihat kini Gara. Suaminya. Yang masih untouchable. "Mas Gara ngapain nari sambil handukan gitu ?"ceplos Arun menyembunyikan debaran di balik ekspresi heran. "Hah ?! Aku nggak lagi nari, Arun. Ini hampir jatoh" What the hell !!! nari ? Arun ngira gue nari ?! Masa gue tadi gemulai ? Padahal kehormatannya sebagai suami hampir di ujung tanduk begitu. Untung saja dirinya tidak jatuh tengkurap di hadapan Arun. Syukurlah hari ini masih bisa jaim (jaga image) "Oh.." Arun tak ambil pusing dan berjalan mengambil alat pelnya. ..... "Nama urus belakanganlah. Cari ukurannya dulu. Dihitung dirancang dulu. Baru dikasih nama." "No !!! Nggak bisa gituu. Bagi gue kapal itu udah kaya anak. Jadi ya kasih nama dulu baru dirawat dan dibesarkan sepenuh hati" terang Shofi. "Ya kan sebelum anak lahir lo harus bikin dulu. Ngidam dulu. Lahiran dulu. Baru dikasih nama" "Hmmmm....begitu ya" Shofi manggut-manggut membenarkan perkataan Arun. "Eiiiits....bentar-bentar. Bikin dulu ?! Ngidam dulu ?!" Ulang Shofi. "Tumben lo ikutan gak jelas nanggepin metafora gue" heran Shofi. Arun tersadar. Mengalihkan pandangannya dari buku dan menatap lurus Shofi di depannya. "Iya juga." jawabnya singkat dan meneruskan kembali bacaannya dengan cuek.

More details
WpActionLinkContent Guidelines