Tere Liye Tia (END)

Tere Liye Tia (END)

  • WpView
    Reads 687
  • WpVote
    Votes 45
  • WpPart
    Parts 26
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Mar 17, 2022
WpInfo
Fiction
Romance
"Gelapku akan lebih indah jika Tia dapat menangkap indahnya surya." Raga mengangkat pipi Adhira, menatap bola mata istrinya dengan dalam-dalam. "Gelap dalam dinginnya tembok sengsara?" tanya Adhira dengan penuh penegasan. "Sengsara untuk Tia? Tidak ada sengsara untuk Tia, Dhira. Akan lebih sengsaranya aku jika melihat anak manis itu tak mampu menaiki tangga masa depannya dengan percaya diri." Lagi dan lagi, Raga meyakinkan Adhira. Sungguh hancurnya Adhira kini, anak atau suami yang ia pilih?
All Rights Reserved
#11
tere
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Katanya Jadi Anak Terakhir Enak - WOONHAK [Terinspirasi dari kisah nyata]
  • A Contracted Heart (END)
  •  Saranghae Bos
  • Angel To Raya (END)
  • Truth (Edisi Revisi)
  • The Billionaire's Bride | END
  • Senja di Akhir Batas
  • Ada Kembar Empat Di Balik Selimut
  • SARAGA
  • Cinta Dan Kasih Sayang (Writing Temporarily Suspended)

Sejak hari itu, ayah tak pernah lagi menginjakkan kaki ke rumah. Tapi bayangannya masih menempel di tiap sudut di kursi kayu ruang makan, di seragam kerja yang masih tergantung di lemari, bahkan di kepala Wilano yang mulai sulit membedakan antara rindu dan benci. Dan suatu sore, saat langit menggantung kelabu dan gerimis turun perlahan, ledakan itu terjadi. "Gue bakal ke rumah Ayah bentar, mau ngobrol langsung," kata Rian pelan, mengambil jaketnya di gantungan. Suaranya hati-hati, tapi cukup untuk membakar emosi Seno yang sejak pagi sudah seperti bom waktu. "Ngapain lo ke sana?! LO PILIH DIA?!" Semua yang ada di ruang tengah menoleh. Suara Seno menggelegar, membuat udara di rumah seperti bergetar. Rian menoleh cepat, matanya melebar tak percaya. "Gue cuma mau bicara, Sen. Dia tetap ayah gue juga. Lo gak bisa larang gue ketemu orang yang selama ini ngerawat gue!" sahut Rian, nadanya naik. "Dia bukan ayah lo. Dia pengkhianat. Dan siapa pun yang masih mau bela dia... gak layak tinggal di sini." Suasana berubah tegang. Jaya berdiri setengah badan, siap menengahi kalau sewaktu-waktu keadaan makin memanas. Theo mengerutkan alis, tapi tetap tak banyak bicara. Wilano menatap semuanya dengan mata membesar. Dia tak mengerti, mengapa semuanya harus sejauh ini. Leon, yang sedari tadi diam, berdiri perlahan. "Kalau lo pikir begitu... gue ikut Bang Rian."

More details
WpActionLinkContent Guidelines