The Forgotten Masterpiece [S2]

The Forgotten Masterpiece [S2]

  • WpView
    Membaca 2,431
  • WpVote
    Vote 245
  • WpPart
    Bab 43
WpMetadataReadBersambung
WpMetadataNoticePublikasi terakhir Sel, Jul 14, 2026
WpInfo
Fiksi
LGBTQIA+
Langkah-langkah kecil menggema lembut di lorong pameran museum. Lampu-lampu kuning temaram menyinari barisan artefak yang diam, membisu dalam keabadian. Di tengah ruangan utama, berdiri sebuah patung marmer tinggi - seorang perempuan berzirah, tombak di tangan kanan, perisai di kiri. Wajahnya teduh namun kuat, mata kosong menatap jauh melampaui zaman. "Patung apa itu?" tanya seorang anak kecil, suaranya melengking polos dalam ruangan yang sepi. Gadis itu - sekitar akhir tiga puluhan - berdiri tak jauh, memandangi patung dengan pandangan yang lebih dalam dari sekadar kekaguman. Ia menoleh, rambut hitamnya jatuh melewati bahu, lalu menjawab, "Itu seorang dewi." Anak itu menatap ibunya dengan wajah penuh tanya. "Dewi? Siapa namanya?" Senyum tipis muncul di wajah gadis itu, seolah menyambut kenangan yang lama tertidur. "Athena," katanya lirih. "Cantik, bukan?" Jawabannya menggantung di udara, mengisi celah-celah waktu yang sejenak terasa beku. Dalam tatapannya yang diam, museum itu memudar. Bau marmer dan udara dingin AC berganti dengan aroma buku tua, kopi murahan, dan suara tawa muda. Gadis itu - lebih muda beberapa tahun, duduk di antara tumpukan catatan dan lukisan - kembali hadir. Di masa itu, semuanya baru dimulai.
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
#16
womanlovewoman
WpChevronRight
Bergabunglah dengan komunitas bercerita terbesarDapatkan rekomendasi cerita yang dipersonalisasi, simpan cerita favoritmu ke perpustakaan, dan berikan komentar serta vote untuk membangun komunitasmu.
Illustration

anda mungkin juga menyukai

  • Pelan, Tapi Pulang.
  • Between Time and Secrets
  • Kembali Ke Titik Nol [END]
  • THE HEIRESS 1975
  • Husband from the future
  • A Love You
  • I'm Sorry
  • Fake Marriage | GXG
  • Jejak Cinta Dewantara
  • My Queen from Southern Sea

Ada cinta yang tumbuh seperti senja---tidak terburu-buru, tapi perlahan memenuhi langit dengan cahaya yang sulit dilupakan. Cinta itu pernah hidup di antara dua perempuan muda. Satu bersinar seperti sore yang hangat dan memesona---Kiara, anggun, dielu-elukan, dicintai semua pasang mata. Satunya lagi adalah hujan setelah panas Panjang---Dean, tenang, sederhana, dan diam-diam menjadi rumah bagi segalanya untuk pulang. Mereka saling jatuh. Saling berlindung. Saling tumbuh. Hingga satu malam yang tak seharusnya terjadi... memisahkan segalanya. Meremukkan semua cinta yang dibangun dengan kepercayaan. Kesalahan hadir seperti bayangan yang tak bisa dibasuh air mata. Seberapa banyak pun Kiara menangis. Dan cinta itu---meski tak mati---terpaksa dikubur di dada yang tak sanggup lagi berkata. Tahun berganti. Hidup bergerak. Dean sembuh dan tumbuh lebih banyak---sedangkan Kiara terus terpuruk dalam sunyi yang tercipta, namun perlahan ia tetap tumbuh meski ia tak dapat menyembunyikan kehilangannya. Tapi takdir, dengan segala kejailannya, menautkan mereka kembali. Kini, tak ada lagi yang murni. Hanya dua hati yang pernah retak: satu yang terluka karena pengkhianatan, dan satu yang membawa penyesalan. Mereka mencoba meraba serpihan masa lalu, dan bertanya: Bisakah cinta yang pernah kau hancurkan... kembali menjadi tempatmu pulang? Karena ada rasa yang tak pernah benar-benar pergi. Ia hanya menunggu... di tempat yang diam-diam masih kalian sebut rumah. Pelan, Tapi Pulang. "You're as beautiful, as the day i lost you." -K #1 Lesbian 12-07-2025

Detail lengkap
WpActionLinkPanduan Muatan