Riddle Of My Life

Riddle Of My Life

  • WpView
    Reads 16
  • WpVote
    Votes 3
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadMatureComplete Thu, Feb 17, 2022
WpInfo
Fiction
Romance
Apa jadinya jika tiba tiba ada orang yang mengaku bahwa dia bisa meramal masa depan kalian? Bukankah kalian akan berfikir bahwa itu adalah sesuatu yang aneh? Dan bagaimana aku tidak kaget saat orang itu malah berbicara buruk tentang masa depan diriku. Dari mulai aku mengalami kecelakaan lah, teman-temanku yang penghianat, nikah dengan suami yang tukang selingkuh, dan dia mengatakan bahwa orang tuaku palsu. Hai, itu sungguh karangan yang sangat buruk. Dan aku yakin aku tak akan pernah mempercayai ramalan-ramalan yang diberikannya untukku. Lagi pula mana ada di zaman yang begitu canggih abad ini masih ada orang yang mempercayai hal hal seperti itu. Walaupun aku menjadi sedikit was-was si. Hanya sedikit. Iya benar, hanya sedikit saja. Bukannya aku percaya, namun menjadi lebih waspada bukankah itu lebih baik?
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Memories in Moon
  • Caliorate: The Wilted Gardenia
  • Sefrekuensi {ON GOING}
  • Forbidden Love
  • Istri Sah Ikky [B×B]
  • BYE, MANTAN! (TAMAT)
  • Dua yang Satu [kumpulan cerpen]
  • ALVIN (On Going)
  • INCANTO (Tamat)
  • Eliinaa

Gadis ini menundukkan kepala membiarkan kucuran air membelai surainya. Hujan terus menggiringku untuk bermimpi, takala ia terus menyusuri tubuhku dari rambut, hingga ujung kaki. Aku hanya diam, air ini sedikit membuat ku tenang. Aku takut, aku gelisah. Aku ingin berteriak memaki keadaan. Memaki diriku. Hujan, akan kah dirimu marah jika ku maki dengan isak ku? Akankah dirimu menerima rasa takut ku? Trauma ku? Semua kegelisahan ku? Rasa tidak percaya ku akan diri ku sendiri? Adakah yang bisa menerimaku? Bulan, jika kau jadi aku, akankah tetap setegar dirimu? Apakah hujan adalah wujud kekecewaan mu pada diri sendiri? Apakah awan yang menutupi mu adalah caramu untuk menghilang? Akankah menghilang adalah wujud lelah mu? Bersembunyi dibalik awan, apakah itu bentuk ketakutan mu seperti aku takut menghadapi kenyataan? Boleh aku jadi dirimu? Jarang di lihat mata, di nanti sebelum purnama namun di sukai saat sempurna. Bulan, pernah kah kau takut akan cacian manusia yang begitu kejam? Bahkan, bintang yang dapat kau gapai bisa saja mencela mu. Rambu dari mereka selalu menusuk nurani. Hilang akal ku, hilang kepercayaan ku. Masih normalkah jika ku bilang ingin menghilang? Masih terimakah kau jika ku bilang mereka harus lenyap?

More details
WpActionLinkContent Guidelines