Cahaya Dalam Kegelapanku

Cahaya Dalam Kegelapanku

  • WpView
    LECTURAS 28
  • WpVote
    Votos 3
  • WpPart
    Partes 1
WpMetadataReadContinúa
WpMetadataNoticeÚltima publicación sáb, mar 5, 2022
"Aku ga bakal menyukai apalagi mencintai dirimu seumur hidupku" ~Gavriel Mahendra "Mari kita liat nanti, ku harap kau tidak akan menyesal dengan perkataan mu hari ini, perkataan yang sering kau ucapkan" ~Aneisha Daviandra Aneisha Daviandra, seorang gadis malang yang terkena luka bakar di wajahnya pada saat ia kecil, ketika ia membantu seorang anak kecil yang hampir seumuran dengannya keluar dari kebakaran. Sehingga wajahnya terdapat luka bekas bakar tersebut dan semua orang selalu mengejeknya orang jelek dan berburuk rupa. Sehingga saat wajahnya sudah sembuh ia memilih untuk merahasiakannya dengan cara membuat luka palsu yang mirip dengan luka lamanya dan ia mempunyai alasan yang kuat mengapa memilih merahasiakan kesembuhan wajahnya dari semua orang bahkan dari keluarganya juga. Yang mengetahui wajahnya telah sembuh hanyalah sahabatnya, sahabat yang selalu menemani di mana pun ia berada dan dalam keadaan apapun. Suatu hari, ia dijodohkan dengan anak dari sahabat ayahnya. Pemuda yang dijodohkan dengannya terkenal dengan sifat dingin dan kejamnya. Bagaimanakah nasib Aneisha setelah menikahi pemuda tersebut? Apakah Aneisha dapat mencairkan es batu tersebut dan apakah wajahnya yang sudah sembuh dapat ia sembunyikan dari pemuda tersebut? Apakah alasan Aneisha merahasiakan kesembuhan wajahnya dari keluarganya??
Todos los derechos reservados
#13
lukahati
WpChevronRight
Únete a la comunidad narrativa más grandeObtén recomendaciones personalizadas de historias, guarda tus favoritas en tu biblioteca, y comenta y vota para hacer crecer tu comunidad.
Illustration

Quizás también te guste

  • Prenuptial Agreement
  • Let Me Love You Longer
  • Lembayung Cinta di Langit Senja
  • Cita-Cita Terhalang Luka,Larentya
  • DIA PERGI?!
  • KEPERGIAN SENJA
  • ARIEANNA
  • REIAR
  • Andira [End]

"Tya, kapan kamu akan menikah?" tanya sang ayah. "Nanti, Yah, kalau sudah ada jodohnya," jawaban ringan itu yang selalu menjadi andalan Adistya. "Iya kapan?" tanya kembali ayahnya yang sepertinya tak sabar menginginkan sang putri untuk segera menikah. "Sabar kali, Yah, toh jodoh gak akan ke mana." "Jodoh memang tidak akan ke mana, tapi kalau gak ke mana-mana kapan dapat jodohnya." Kutipan itulah yang selalu ayahnya ucapkan. Membuat Adistya memutar bola matanya bosan. Ayahnya itu gemar menanyakan perihal jodohnya apalagi mengingat usianya yang sudah menginjak angka 27, usia yang sudah cukup matang untuk membina rumah tangga sampai ayahnya gemar sekali mencarikan jodoh yang untungnya tidak pernah berhasil. Adistya lelah begitupun dengan sang ayah, sampai akhirnya sebuah kesepakatan mereka buat untuk perjodohan terakhir Adistya. Kebebasan sudah ada di depan mata, tapi harapan itu harus gagal karena dengan lancangnya kepala Adistya mengangguk mengkhianati hatinya.

Más detalles
WpActionLinkPautas de Contenido