Ngga Sholat si!

Ngga Sholat si!

  • WpView
    Reads 23
  • WpVote
    Votes 4
  • WpPart
    Parts 4
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Dec 31, 2022
Kadang, suatu hal yang sepele belum tentu sepele di mata pencipta. Tapi kalau barang wajib disepelekan, beh.. ngga usah ikut-ikutan deh. Ntar kalian jadi hilang arah kayak geng HUROKU loh. *Kuy lah kepo atau ngga kepo, klik "baca" gass ajaa [pemaksaan]. Cerita ini itu cerita kebanyakan humornya daripada horornya. Humornya tuh pas banget deh buat kalian yang lagi depresot seperti saya [cry]. Terus nih teruss.. yang horor juga pas banget buat kalian yang lagi takut menghadapi kenyataan bahwa udah jarang sholat, sekalinya sholat request Chindo [saya menertawakan kelean semwuaa]
All Rights Reserved
#9
sigma
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Tolong, Aku Masih di Sini
  • Prambanan Obsession (END)
  • Dandelion
  • Inside You
  • Dark Tales From Deep In The KEBUN DJENGKOL (TAMAT)
  • Penguasa Alam Ghaib
  • Aku Tidak Ingin Seperti Ini
  • SINGASARI, I'm Coming! (END)
  • ARFA (Arka Fauza) END

Mereka bilang, jangan pernah main ke hutan itu saat matahari mulai turun. Bukan karena hewan buas. Bukan juga karena tersesat. Tapi karena... tak semua yang berdiam di sana adalah manusia. Di balik pepohonan yang menjulang dan semak berduri, ada satu rumah kosong. Sudah lama tak ditinggali, katanya. Tapi kadang- lampunya menyala. Tirai bergerak. Dan suara tawa terdengar di malam hari. Warga desa memilih bungkam. Anak-anak yang bertanya dibungkam dengan dongeng-dongeng: "Rumah itu milik orang kaya yang pindah ke luar negeri." "Sudah tak ada apa-apa di sana." "Jangan percaya cerita aneh-aneh." Tapi wajah mereka selalu tegang saat menyebutnya. Dan tak ada satu pun yang berani menjejakkan kaki ke tanah itu. Sampai akhirnya, pada suatu sore, Tujuh anak muda tertawa di antara rerimbun hutan, memainkan petak umpet tanpa tahu batas. Langit mulai redup. Angin berubah dingin. Dan salah satu dari mereka... menghilang.

More details
WpActionLinkContent Guidelines