Best Friend (01)

Best Friend (01)

  • WpView
    Membaca 8,314
  • WpVote
    Vote 1,132
  • WpPart
    Bab 27
WpMetadataReadBersambung
WpMetadataNoticePublikasi terakhir Sel, Agt 23, 2022
Ini kisah tentang persahabatan antara Haikal Nugraha dan Jendra Gumelar. Mereka bersahabat sejak masih kecil dan selalu bersama-sama. Dimana ada Haikal, disitu ada Jendra. Tak jarang orang lain mengira mereka berdua itu kembar, karena selalu menempel seperti lintah. Disini menceritakan keseharian Haikal dan Jendra. Tentang kesabaran Haikal menghadapi sahabatnya yang absurd, dan Jendra yang tidak berhenti bertingkah. Ah, jangan lupakan si Reno yang juga ikut-ikutan bertingkah! Sahabat atau saudara kembar? •Tanpa konflik •Cerita ringan •Bukan bxb
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
#255
kembar
WpChevronRight
Bergabunglah dengan komunitas bercerita terbesarDapatkan rekomendasi cerita yang dipersonalisasi, simpan cerita favoritmu ke perpustakaan, dan berikan komentar serta vote untuk membangun komunitasmu.
Illustration

anda mungkin juga menyukai

  • Air Mata Di Pintu November (TERBIT) ✓
  • [✓]Twins : Haechan dan Jaemin
  • TWINS | Nomin ✓
  • Halo, Aku Sena.
  • Precious✓
  • Homesick [END]
  • Salam untuk senja [SUDAH TERBIT]
  • At a Glance (NOREN)
  • HILDAN'S STORY

Novel bisa dibeli di Shopee Jaehana_Store BAGIAN KEDUA SAPTA HARSA VERSI NOVEL || KLANDESTIN UNIVERSE "Kenapa lo jahat sama gue! Kenapa kemarin lo pergi? Kenapa? Kenapa lo ninggalin gue? Kenapa lo tega, Jen?" Haikal tak bisa lagi menahan kesedihan yang telah menumpuk di dalam dirinya. Jendral hanya tertawa kecil. "Lo ngomong apasih, Kal? Gue nggak pergi ke mana-mana, kita kan selalu sama-sama. Gue mana pernah ninggalin lo. Ayo ikut, gabung sama yang lain." Ia menarik tangan Haikal, mengajaknya berlari menuju sisi lain dari air mancur itu. Di sana, semua anggota Klandestin berkumpul. Beberapa duduk di atas ayunan yang berderit pelan, ayunan tersebut dihiasi dengan lampu-lampu kecil yang mengelilinginya. "Bang Haikal! Kenapa telat? Kita nungguin loh!" seru Cakra. "Kal, sini, ada mainan yang cocok buat lo," tambah Reihan. Namun, Haikal menggeleng. Ia justru menggenggam erat tangan Jendral di sampingnya. "Kenapa, Mbul? Main sana," Jendral menatapnya dengan heran. Haikal menggeleng lagi, kali ini dengan lebih kuat. "Gue takut," bisiknya, suaranya hampir tak terdengar. "Takut?" Jendral tertawa, seolah-olah hal itu adalah lelucon. "Seorang Haikal takut?" Haikal mengangguk, menahan diri untuk tidak menangis. "Gue takut kalo genggaman tangan gue lepas, lo bakalan pergi."

Detail lengkap
WpActionLinkPanduan Muatan