Story cover for SILAM  by Nurjanah115
SILAM
  • WpView
    Reads 139
  • WpVote
    Votes 58
  • WpPart
    Parts 15
  • WpView
    Reads 139
  • WpVote
    Votes 58
  • WpPart
    Parts 15
Ongoing, First published Feb 20, 2022
~~PROLOG~~


Semilir angin senja membelai lembut pipi mulus nan putih yang basah karena air mata. Entah sudah berapa lama netra itu terus menangis, yang kian lama terasa makin sesak. Dinginnya angin tak dihiraukannya, yang ia ingin hanya menangis, menumpahkan semua rasa sakitnya.

Netranya terus menatap luasnya danau yang begitu tenang, duduk disebuah bangku putih bersih seorang diri. Menahan sesak, untuk tak kembali menangis, tapi nihil air mata itu tetap lolos membasahi pipinya. 

"Kamu tega." lirihnya. 
 tetap awas menatap air tenang yang telah menelan sebuah cincin yang selama ini indah di jari manisnya.

"Kenapa kamu gak bilang dari dulu Van? Kenapa baru sekarang? 5 tahun kita bersama, tapi ini yang kamu berikan?" beberapa pertanyaan terlontar dari bibir mungilnya. "Aku benci kamu Devano Enandra!!" 

"Chel jangan!" tanpa aba dan tak bisa dicegah, gadis dengan rambut panjang itu melepas cincin dari jari manisnya dan melemparkannya ke dasar danau.

Lututnya tak bisa menopang lagi bobot tubuhnya, ia luruh jatuh ke tanah, dengan terisak pilu menunduk begitu dalam.

"Rachel." 

"Aku benci kamu Vano!" teriaknya sembari menepis kasar tangan lelaki jangkung yang selama ini menemani hari-harinya. "Aku mau kamu pergi! Pergi dari hadapanku!" sambungnya dengan penuh penekanan disetiap kata.

"Aku minta maaf Chel, maafkan aku jika ini membuatmu terluka, aku pergi." 

"Hikss ... hikss."

Hening, hanya isak tangis seorang gadis yang terdengar di tengah luasnya tepian danau.
All Rights Reserved
Sign up to add SILAM to your library and receive updates
or
Content Guidelines
You may also like
BarraKilla by novaadhita
64 parts Complete
LENGKAP! Follow akun ini sebelum baca🐧 Warning! Peringatan! Cerita ini bisa membuat kalian mengumpat, menangis, dan tertawa (jika satu SELERA)🍭 "Barr, aku juga nggak tahu kenapa Raden nyium aku." "Shit! Diem, Bego!" "Maaf." "Tahu nggak, kenapa gue nerima lo jadi pacar gue? Padahal lo yang nembak gue duluan di UKS dengan nggak punya malunya." "...." "Lo itu menyedihkan, Killa. Sangat menyedihkan. Gue selama ini cuma.... kasihan sama elo." "Barra, dada aku sakit." "See? Lo minta dikasihani lagi?" "Maaf." "Dan lo selalu mengatakan maaf biar lo semakin dikasihani." "Barra, kamu beneran mau aku pergi?" "Lo masih mau di sini? Nggak tahu diri banget. Habis ciuman sama suami orang, masih mau sama gue. Karena cuma gue yang bisa ngasih lo segalanya. Gue jijik sama elo." "Makasih, ya, udah mau jadi pacar Killa. Udah mau bahagiain Killa. Hehehe. Kita akhirnya pisah." "Gue nggak mau lihat lo lagi." "Hehehe." "...." "Barrabas Mahesa, makasih udah pernah jadi yang terbaik buat Killa." I loved, and I loved and I lost you. I loved, and I loved and I lost you. I loved, and I loved and I lost you. Titik tertinggi mencintai adalah tahu diri untuk menerima sebuah kehilangan. "Barra, kenapa cara kamu mencintai aku kayak gini?" • Demi kenyamanan Anda saat membaca, disarankan memfollow akun penulis terlebih dahulu. • Dilarang memperbanyak sebagian atau seluruh isi dalam cerita ini tanpa izin tertulis dari penulis. Semua yang ada dalam cerita ini murni hasil pikir penulis, maaf jika ada kesamaan nama, tempat, karakter, dan sebangsa itu. Selamat membaca!
Pada Senja, Kita Bertemu di Batavia. by Nai_Juny
21 parts Ongoing
PROLOG Cinta? Sebuah kata yang berulang kali terdengar, tetapi tak pernah benar-benar ia mengerti. Bagi Halira, hidup bukanlah dongeng dengan akhir bahagia, melainkan jalan panjang yang dipenuhi kesenjangan dan luka yang diwariskan sejak lahir. Ia tumbuh di antara batas-batas yang tak bisa ia pilih, dalam keluarga yang lebih mengenal garis darah daripada kasih sayang. Dan Sabiru, sahabat yang selama ini ia yakini sebagai tempatnya pulang, perlahan menjauh. Ia tak pernah menghakimi, tetapi diam-diam merasakan batas yang semakin nyata-sebuah jurang tak kasatmata yang perlahan menelannya menjadi bayangan, menjadi asing di dunia yang seharusnya memeluknya. Lalu, pada suatu senja yang membawa angin laut dengan aroma asin yang tajam, Halira menemukan sosok itu. Leyden van Reinjes. Seorang lelaki yang tampak seperti pahatan dewa, dengan sorot mata biru sedingin lautan yang menyimpan rahasia di kedalamannya. Seorang letnan jenderal yang lahir dan dibesarkan dalam kemewahan yang mengajarkan bahwa kesempurnaan adalah harga diri, bahwa luka adalah aib, dan bahwa cinta hanyalah mitos murahan bagi mereka yang lemah. Di antara mereka, sehelai selendang melayang, terbawa angin sebelum menyentuh wajah Leyden dan akhirnya terseret ombak, menghilang tanpa jejak. Halira menatapnya dengan kesal. Leyden hanya diam, membalas tatapannya. Tak ada yang menyangka bahwa pertemuan itu akan menjadi awal dari kisah yang lebih dari sekadar luka, lebih dari sekadar cinta yang dilarang. Karena setelah hari itu, senja tak pernah lagi sama.
Zenna Story by Senaaraini
37 parts Ongoing
Zenna Story Bertepuk sebelah tangan memang sakit, tapi apa lah daya ku jika dia memang bukan ditakdirkan untukku. Percuma saja jika dia hadir hanya untuk singgah bukan menetap. Aku bukan tempatnya pulang dan aku bukan rumahnya. **** "Tolong kasih aku kesempatan buat menebus semuanya selama ini" Ujarnya ditengah derasnya hujan. Gadis itu tak menjawabnya, ia tetap diam sambil menunduk. "Tolong jangan diam aja, jawab aku!" Ujarnya lagi. "Aku gak bisa, aku udah mati rasa!" Balasnya masih dengan menundukkan kepalanya. Air mata yang menetes tersamarkan oleh tetesan air hujan yang deras. "Jangan bilang gitu, aku bakal nungguin kamu sampai kapanpun itu!" "AKU UDAH MATI RASA ZEE! JANGAN GANGGU HIDUP AKU LAGI!" Sentaknya, dengan air mata yang membanjiri pipinya. "Nggak, kita bisa perbaiki hubungan kita pelan-pelan Sheina! "Maaf, kehadiran kamu dihidupku selama ini cukup menyakitkan buat aku Ze! "Jauhi aku, jangan ganggu aku lagi, aku pamit pergi!" "Hikss.. hiks.. hikss.." kakinya ambruk begitu saja ia sudah lemas, tidak tahu harus melakukan apa lagi. Gadis yang selama ini mengaguminya diam-diam kini telah pergi meninggalkannya. Satu kesalahan berujung fatal, ia tidak pernah menyadari ada seseorang yang begitu tulus mencintai dan menyayanginya, namun selalu ia sia-siakan dan tak pernah ia perhatikan. Hingga saat ia menyadari perasaannya, ternyata gadis ini malah sudah tidak memiliki rasa untuknya. Sakit. **** ~ Jika memang memendam rasa kepadamu begitu sulit dan menyakitkan, tapi mengapa hatiku enggan tuk menyerah saat ini ~ **** Teman-temannya bisa mulai membaca lagi ya, Kelanjutan dari kisah Sheino sudah up kembali yang pasti akan semakin seru cerita kedepannya. Up setiap hari Kamis ya! Ada perubahan judul ya gais! Jangan lupa follow akun ini dan Share cerita ini!
Amor Eterno  by Sa_ra_da22_620Nakata
4 parts Complete
"Lo mau hubungan kita jadi kayak apa, Harlen?" Qila menghentakkan tangan pria itu, lalu menoleh cepat dengan sorot mata tajam. Suaranya bergetar-bukan karena takut, tapi karena menahan amarah yang sudah terlalu lama disimpan. "Aku... aku pengin hubungan kita jadi lebih serius," jawab Harlen pelan, nadanya seperti memohon. "Serius?" Qila tertawa miris. "Serius kayak gimana? Kayak lo yang tiba-tiba udah punya tunangan tanpa bilang apa-apa ke gue?" Harlen terdiam, tak sanggup membalas. "Atau lo mau gue jadi simpanan, gitu? Tapi sayangnya, Harlen, gue bukan cewek murahan kayak gitu," lanjut Qila sambil memutar bola matanya, malas sekali menatap wajah pria di hadapannya. "Bukan gitu maksud gue..." Harlen mencoba meraih tangan Qila lagi, tapi kali ini pun langsung ditepis. "Gue capek dengar omongan lo yang manis-manis tapi ujung-ujungnya nyakitin. Lo bilang pengin serius? Lo bilang pengin perkenalin gue ke orang tua lo? Please, Harlen. Udah telat." "Qila, tolong dengerin dulu..." "Cukup." Qila menarik napas dalam-dalam, menahan emosi yang hampir meledak. "Ini terakhir kalinya kita ketemu. Setelah ini, gak akan ada lagi 'kita'. Gak sengaja ketemu pun, gue harap itu gak akan pernah kejadian. Gue muak liat muka lo." Langkahnya cepat, pergi meninggalkan Harlen yang masih berdiri mematung di tempat. Tapi Harlen belum menyerah. "Qila! Tunggu, dengerin dulu!" Namun Qila tetap berjalan, masuk ke dalam taksi yang sudah menunggunya di pinggir jalan. "Jalan, Pak," ucapnya pada sopir. Taksi pun mulai melaju. Dari kaca belakang, bayangan Harlen terlihat masih mengejarnya, berteriak, memanggil namanya. "QILAAAA!" Tapi Qila tak menoleh. Tatapannya lurus ke depan, seolah tak ada apa pun di belakang yang layak dilihat kembali. Dalam hati, ia berbisik, Maaf, Harlen... tapi kali ini aku benar-benar udah gak sanggup.
ALLIANRA by wp_riskiyah
7 parts Ongoing Mature
PROLOG Seorang gadis kecil yang sedang duduk sendiri di tengah derasnya hujan dengan air mata yang mengalir deras di pipi chubby nya. Ia menangis sesenggukan di sebuah taman kota yang kini mulai sepi, hanya suara derasnya hujan yang mendominasi tempat itu. Baju yang di kenakannya pun mulai lusuh dan basah karna ia kehujanan, ia memperhatikan luka di lututnya yang mulai terasa ngilu. Mama lirihan itu yang selalu ia sebut saat rasa ngilu di lututnya mulai terasa, hingga seseorang tiba-tiba menepuk pundaknya membuat ia menoleh melihat siapa pelaku tersebut. Seorang bocah laki-laki mulai ikut duduk di samping gadis kecil tersebut. "kenapa sendiri?, mana orang tuamu?." Tanya lelaki itu. "Ian lari dari rumah." Jawabnya seraya menunduk. "Lututmu terluka, ayo ke rumah ku untuk mengobati lukamu, rumahku tak begitu jauh dari sini." Gadis kecil itu menggeleng sebagai jawaban. "luka itu harus segera diobati, kata bunda jika luka tak segera diobati pasti akan infeksi." Ujarnya Kembali. "Tidak perlu, aku mau pulang." Ucapnya seraya bangkit dari duduknya. Begitu pun dengan bocah laki-laki itu. "Ini untukmu, tapi jangan dibuka sebelum kita bertemu Kembali, untuk coklatnya kamu boleh memakannya." Kata bocah laki-laki tersebut, sembari menyodorkan kotak kecil berwarna hitam pada gadis kecil itu. Dengan ragu ia menerimanya. "Aku pulang dulu, sampai ketemu Kembali." Ujarnya seraya tersenyum, lalu berlari menjauh meninggalkan gadis kecil itu. "Aku menyukaimu." Ia membaca tulisan yang tertera didalam kotak tersebut dengan lirih. "Ian!." Seseorang memanggil Namanya dengan nafas yang terengah-engah lalu berhenti tepat dibelakangnya. "Mama?!." Beonya. "Kamu dari mana saja sayang, Mama cariin kamu dari tadi. Ayo pulang, ada yang ingin bertemu denganmu." Ujarnya seraya menarik pergelangan tangan gadis kecil itu, tanpa membantah gadis itu menurut.
Liberosis by syahdakhairunnisa0
29 parts Ongoing
"Kamu emang anak yang gak berguna! Saya menyesal sudah membesarkan kamu! Apa yang bisa saya banggakan? Gak ada!" "Memang gak ada! Gak ada yang bisa Papa banggain dari aku. Meskipun aku udah berjuang selama ini, itu semua gak ada artinya untuk Papa!" "Anak kurang ajar!" PLAK! Di tengah derasnya guyuran hujan, pria belasan tahun itu melangkah tertatih-tatih dengan darah yang mengucur dari pelipisnya. Wajahnya penuh lebam, sudut bibirnya robek, menyisakan rasa perih yang begitu luar biasa ketika bercampur dengan air hujan. Ia berjalan tak tentu arah di pinggir trotoar, kaos hitamnya basah mencetak dengan jelas bentuk tubuhnya yang atletis, pria itu hanya memakai celana pendek sehingga bulu-bulu di kaki jenjangnya terlihat jelas bahkan udara yang sangat dingin begitu menusuk ditambah tidak memakai alas kaki. Kepalanya menengadah ke atas langit. Membiarkan ribuan rintik hujan itu menampar wajahnya. Matanya terpejam sejenak. Dari radius dua ratus meter tempatnya berdiri, ada sebuah mobil melaju dengan kecepatan tinggi. Sudut bibirnya terangkat. Sepertinya seru, itu pikirnya. Tanpa berpikir panjang, ia melangkah pelan turun ke jalan aspal seperti orang yang tidak berminat untuk hidup. Dari arah kanan, mobil melaju begitu kencangnya tanpa melihat ada seorang yang berdiri di tengah jalan karena ribuan air itu menutupi kaca mobil sehingga sopir tidak mampu menatap dengan jelas. Selamat tinggal, dunia yang menyakitkan. Namun lima meter lagi saat mobil hendak menyentuh tubuhnya, tiba-tiba ada yang menarik pergelangan tangan pria itu dengan begitu cepat. Napasnya berburu kencang. "LO GAK WARAS?!" Perempuan bermata biru itu ... setidaknya itu yang Alvan lihat sebelum matanya benar-benar terutup.
You may also like
Slide 1 of 10
BarraKilla cover
After You, The Rain Felt Different  cover
ALSTARAN [END] cover
Pada Senja, Kita Bertemu di Batavia. cover
Zenna Story cover
Amor Eterno  cover
ALLIANRA cover
Liberosis cover
She Pluviophile cover
Strong Girl Michella (END)  cover

BarraKilla

64 parts Complete

LENGKAP! Follow akun ini sebelum baca🐧 Warning! Peringatan! Cerita ini bisa membuat kalian mengumpat, menangis, dan tertawa (jika satu SELERA)🍭 "Barr, aku juga nggak tahu kenapa Raden nyium aku." "Shit! Diem, Bego!" "Maaf." "Tahu nggak, kenapa gue nerima lo jadi pacar gue? Padahal lo yang nembak gue duluan di UKS dengan nggak punya malunya." "...." "Lo itu menyedihkan, Killa. Sangat menyedihkan. Gue selama ini cuma.... kasihan sama elo." "Barra, dada aku sakit." "See? Lo minta dikasihani lagi?" "Maaf." "Dan lo selalu mengatakan maaf biar lo semakin dikasihani." "Barra, kamu beneran mau aku pergi?" "Lo masih mau di sini? Nggak tahu diri banget. Habis ciuman sama suami orang, masih mau sama gue. Karena cuma gue yang bisa ngasih lo segalanya. Gue jijik sama elo." "Makasih, ya, udah mau jadi pacar Killa. Udah mau bahagiain Killa. Hehehe. Kita akhirnya pisah." "Gue nggak mau lihat lo lagi." "Hehehe." "...." "Barrabas Mahesa, makasih udah pernah jadi yang terbaik buat Killa." I loved, and I loved and I lost you. I loved, and I loved and I lost you. I loved, and I loved and I lost you. Titik tertinggi mencintai adalah tahu diri untuk menerima sebuah kehilangan. "Barra, kenapa cara kamu mencintai aku kayak gini?" • Demi kenyamanan Anda saat membaca, disarankan memfollow akun penulis terlebih dahulu. • Dilarang memperbanyak sebagian atau seluruh isi dalam cerita ini tanpa izin tertulis dari penulis. Semua yang ada dalam cerita ini murni hasil pikir penulis, maaf jika ada kesamaan nama, tempat, karakter, dan sebangsa itu. Selamat membaca!