Bowled In A Trap

Bowled In A Trap

  • WpView
    Reads 651
  • WpVote
    Votes 21
  • WpPart
    Parts 4
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Nov 19, 2015
"Pakai ini!". Perintahnya masih dengan nada dinginnya. Dengan gemetar, Nabila meraih baju kaos dan jaket yang diberikan Akhbar untuknya, kemudian gadis itu memakai kaos tersebut dan menggunakan jaket merah itu untuk menutupi bagian bawahnya. "Apa kamu akan baik-baik saja?". Tanya nabila ragu. Akhbar melirik Nabila sebentar, kemudian kembali menatap pada dinding kosong di hadapannya. Ia benar-benar harus menahan diri, jebakan sialan. Akhirnya dengan perlahan Akhbar menghampiri Nabila. Berdiri tepat di hadapan gadis itu. "Dengar! Kita harus kel-..". BRAKK Satu-satunya pintu diruang itu terbuka menampilkan beberapa orang yang menatap mereka dengan terkejut, bahkan sebagian dari orang-orang itu kini tengah berbisik sesuatu yang tidak mengenakan. Akhbar merubah posisinya untuk menutupi Nabila agar orang-orang disana tidak dapat melihat keadaan gadis itu. Meski sulit untuk mencegah mereka untuk tidak berpikir yang tidak-tidak. Bayangkan saja keadaan Akhbar dan Nabila saat ini. Keduanya sama sekali tidak enak untuk dilihat. Akhbar yang hanya mengenakan celana pendek sebawah lutut sedangkan Nabila mengenakan kaos lengan panjang Akhbar yang menutupi sampai ke pahanya dan jaket merah sebagai penutup bawahnya. "Semuanya bubar sekarang juga. Dan kalian berdua, segeralah datang keruanganku setelah kalian memakai pakaian yang lebih layak dari ini".
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • SENJA DI PUNCAK TANGKILING
  • A Bittersweet farewell  ( Sudah Lengkap Mari Di Baca)
  • ARGA [REVISI]
  • ALDIR (SEGERA TERBIT)
  • AFFAIR (yizhan) ✅ End
  • Suamiku Amnesia (REPOST)
  • MY BOS IS MY (HUSBAND)-(YIZHAN) (END)✔️

"Jangan menatapku". Abrar masih dengan mata terpejam "Kenapa ?" " Nanti kau bisa lupa pada pacar mu". "Pfffffpfffff" Awinda mengantupkan kedua bibirnya mencegahnya tertawa lebar. "Kau benar ". " Jadi kau sudah punya pacar". " Kau mengintrogasi ku ". Kini Awinda membalasnya. Abrar menelan Salivanya. Terdiam dalam senyapnya. Ia tak ingin melanjutkan pertanyaan apapun. Karena jika ia banyak tahu kenyataan, maka bisa jadi hal - hal pahit yang akan ia dapatkan. Hidup mengajarkannya untuk sering menerima kenyataan pahit ketimbang mengharapkan sesuatu yang ternyata hanya sebatas angan dan impian. "Cepat tidur". "Belum mengantuk" sahutnya cepat. " Kenapa kau biarkan aku mengambil baju dan celana mu padahal kamu punya tenda ini. ? Bodoh ". " Ambil lah apapun yang kau mau dari ku". " Sejak kapan kau menjadi buaya ? " " Setelah masuk kedalam lubang tanah dan bertemu ratu buaya ". Awinda mencubit perut Abrar. Sehingga ia menggelinjang nyeri dan meminta ampun. Ia meraih tangan Awinda dari perutnya dan meletakkannya didadanya. " Tidurlah, ini peringatan ku yang terakhir". Perlakuan Abrar membuatnya meringis, kini Abrar juga mulai mengamcamnya. Berusaha memejamkan mata dan perasaan hangat itu kembali menjalar ulu hatinya. Ia kesulitan untuk menarik nafas namun ia mencoba menghirup udara lewat mulutnya lalu mengeluarkan kembali perlahan. " Kau kedinginan ? " Abrar membuka suara, " Hmmm " "Kau bisa terkena hipotermia dan sulit bernafas".

More details
WpActionLinkContent Guidelines