Bulan Merindu Cahaya

Bulan Merindu Cahaya

  • WpView
    Reads 43
  • WpVote
    Votes 11
  • WpPart
    Parts 6
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Mar 28, 2022
"Wahai sang Fajar, kini esok dan nanti sang Rembulan akan selalu merindukanmu" - Jakarta, 2037. Zora, gadis normal yang menjalani kehidupan normal seperti warga bumi lainnya. Namun apalah daya, nyatanya ia harus menelan kenyataan pahit ketika semua rahasia tentang kehidupannya, keluarganya, dan tentang dunia ini terbongkar. Semua berawal dari masuknya ia di sekolah lembaga pengembangan IPTEK, yakni IAST. "Hai Fajar-ku, apakah aku dapat menemuimu lagi? Bolehkah aku bersikap egois agar dapat mengulang waktu? Wahai kau sang pemilik cahaya, Bulan-mu merindukanmu, Bulan-mu membutuhkan pantulan cahaya-mu"
All Rights Reserved
#117
genius
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Menjadi Imam Untukmu✔(Selow Update)
  • ANGKASA ✔
  • The Mystery Of Nusa Bangsa School
  • 𝚃𝙸𝙶𝙴𝚁 ✔
  • I Missing You (COMPLETED)
  • Setulus Cinta Alesha
  • ÆDREAM : The Rank [END]
  • CLAREZO TRANSMIGRATION (Ending)
  • Fraternité

Ini tentang kisah cinta yang sangat rumit, Kisah cinta Danu yang ingin menjadi Imam dalam Hidup Zahra, namun cintanya selalu diuji, dapatkah Danu menghalalkan serta mewujudkan keinginannya untuk menjadi Imam dalam hidup Zahra? "Untuk menjadi rembulan aku tak bisa, untuk menjadi hujan aku tak mampu, menjadi senja pun sungguh aku benar-benar tak sanggup. Aku hanya bisa melakukan satu hal, yaitu Menjadi Imam Untukmu" Danu Candra Dinata. "Kau tak perlu menjadi rembulan, hujan dan senja, kau tak perlu mengambilkan rembulan dan memetikan bintang karena bagiku kau adalah langitnya yang menaungi semesta, hingga aku bisa melihat rembulan hujan dan senja. Kau tak perlu berbuat apapun, kau tak perlu melakukan apapun, cukup ada di sampingku, melihatku ada di kedua bola matamu itu sudah cukup." Azzahra Nurlatifah. Menjemput cinta dengan cara teristimewa.

More details
WpActionLinkContent Guidelines