Prolog
Dahulu Djenar pernah terjebak melibatkan "rasa" dalam hubungan Dom Sub relationshipnya. Rasa sakit, kecewa dan luka (baik luka fisik maupun luka hati), tak juga membuatnya tersadar bahwa dia sedang terjebak dalam hubungan yang toxic. Hingga pada akhirnya Kegagalannya dalam hubungan tersebut menjadikannya enggan melibatkan rasa lagi dalam hubungan D/S yang dia jalani. Bagaimanapun caranya, dia selalu menghindar jika ujung dari relationship yang dia jalani sudah mulai bikin baper.
Namun cinta selalu datang tiba-tiba. Tidak mengenal masa, suasana, tahta, logika, atau hal lainnya. Akankah Djenar membuka lagi hatinya? Akankah Djenar menghindar lagi kali ini saat hatinya sudah memilih? Akankah Djenar mengelak tentang apa yang dirasanya? Atau.. akankah cintanya berbalas saat hatinya mulai terbuka?
Malam itu Djenar bersimpuh, pandangan matanya ke bawah, dia menyatukan kedua pergelangan tangannya dan menyodorkannya ke hadapan laki-laki itu, "I offer you my submission and obedience, Sir. I'm begging you to please accept me as your sub to serve you, as your toy to play with, and as your bitch to please you. Please, I'm begging. Please let me be yours, Sir" pintanya.
--------
Hai.. tengkyu cooo much masih nemenin aku. Kali ini aku berkesempatan bikin ceritanya collabs sama rigger ternama, sekaligus salah satu penulis keren, dari Yogya. I'm pretty much sure aku ga perlu nyebutin siapa nama beliau, but.. oke aku mention deh. Thank you to Pratalinside yang udah berkenan bantu kembangin cerita bareng. Kalian boleh banget mampir ke novel-novel bikinan beliau loh..So enjoyy.. Hope you like this one
WARNING: (be wise for younger readers under 17, THIS STORY CONTAINS MATURE THEME AND STRONG LANGUANGE +) beberapa part akan di private. Follow if u wanna read it. Enjoy guys!
**
Tangan keras laki-laki itu menggenggam erat jemarinya. Menelusup di sela-sela jarinya, mengunci pergerakan yang akan membuat wanita itu pergi.
Tatapan matanya yang tajam dengan iris mata hitam pekat terus menatap tajam ke jalanan sambil menarik wanita itu yang bejalan terseok-seok mencoba menyeimbangkan langkah-langkah besar lelaki itu.
Sampai di persimpangan jalan, ada sebuah lorong gelap nan sempit, laki-laki itu membawa wanitanya kesana. Menubrukkan tubuh wanita itu ke dinding. Wanita itu meringis menahan perih di punggungnya, namun ia tak berani untuk berontak. Ia menundukkan kepalanya dengan takut, menggigit bibir bawahnya tanda bahwa ia sedang merasa gugup atau takut. Organ vital di dalam dadanya berdentam dentum dengan cepat, memompa aliran darahnya yang dengan cepat naik ke kepala.
Jemari kasar dan hangat lelaki itu mencoba meraih dagunya untuk mengangkat kepalanya. Tepat disana. Mata hitam itu tidak lagi menatap penuh intimidasi, kini mata hitam pekat itu menatap mata wanita itu dengan tatapan sendunya yang begitu memabukkan. Mencari-cari letak fokus wanita itu.
Ia mendekatkan kepalanya pada wanita yang kini tengah menunggu aksinya, membuka sedikit bibirnya dan mencecap rasa manis bibir wanita itu. Seakan gejolak amarah yang siap membludak, menguap entah kemana. Wanita itu adalah candu baginya. Wanita itu adalah jiwanya. Setiap nafas yang dihembuskan oleh wanitanya, itu adalah nyawa untuk dirinya sendiri. Ciuman penuh hasrat dan sarat akan tak mau kehilangan. Ciuman menggebu seakan dikejar waktu.
"Kau hanya milikku, Laura, selamanya akan begitu."