We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
Tumbal

Tumbal

  • WpView
    Reads 72
  • WpVote
    Votes 9
  • WpPart
    Parts 4
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Mar 1, 2022
WpInfo
Fiction
Horror
raini bisa melihat sesuatu yang tidak bisa di lihat dari manusia biasa saat dia berumur 5 tahun dan tepat hari itu ayahnya meninggal. semenjak ayah raini meninggal dia tinggal di kota bersama ibunya, tetapi dia harus kembali ke desa nya karena harus melakukan tugas. di dalam desa itu raini dan 4 orang sahabatnya di ganggu oleh penunggu di situ. apakah raini dan 4 orang sahabatnya berhasil keluar dari desa tersebut tanpa ada yang di jadikan tumbal selanjutnya? ⚠️ DISCLAIMER ⚠️ CARITA HANYA FIKTIF BELAKA, BUKAN DARI KISAH NYATA This is my first story of wattpad tiap jam 1 siang atau 8 malam gw up cerita gw semoga kalian menikmati carita gw
All Rights Reserved
#5
fiksihoror
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • DESA PUNYA CERITA
  • Rumah Tujuh Pintu [Boboiboy Elemental]
  • Evanescent [END]
  • Aku Yang Tidak Diinginkan
  • ToD
  • MAAFKAN AKU !!
  • Ice Gril 🌧️ (TAMAT)
  • sraddah (on going)
  • NOESIS [END]

Azis Mahendra selalu hidup mewah di kota, terpaksa ikut keluarganya mudik ke desa. Ia kesal-baginya, desa terasa asing, tak nyaman, dan jauh dari standar hidupnya. Namun semua berubah ketika ia bertemu Ratih Prameswari, gadis desa 15 tahun yang hangat dan ramah. Mereka pertama kali bertemu di pasar. Azis merasa risih dengan bau amis dan suasananya yang ramai, sementara Ratih justru tertawa melihat kepanikan Azis. Percakapan singkat mereka dalam bahasa Jawa halus jadi pembuka hubungan mereka. Hari-hari berikutnya membawa mereka ke kebersamaan yang tidak direncanakan. Mereka naik sepeda menyusuri jalanan desa, melewati sawah, tertawa saat tercebur parit karena ceroboh. Azis mulai menikmati suasana desa yang dulu ia remehkan. Dua minggu yang awalnya membosankan berubah jadi hari-hari penuh warna. Namun waktu terus berjalan. Azis harus kembali ke kota. Di ujung desa, mereka saling menatap dalam diam. Tak ada kata perpisahan, apalagi janji. Hanya perasaan yang tumbuh tanpa pernah terucap. Ini bukan kisah cinta yang selesai bahagia. Tapi tentang perbedaan, tentang waktu yang terlalu singkat, dan tentang cinta yang hadir tanpa pernah benar-benar bisa dimiliki. Apakah perasaan itu akan bertahan? Ataukah akan jadi kenangan yang perlahan memudar bersama waktu?

More details
WpActionLinkContent Guidelines