GOLDEN CAGE

GOLDEN CAGE

  • WpView
    Reads 130,477
  • WpVote
    Votes 6,354
  • WpPart
    Parts 23
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Dec 12, 2025
"Echan a-anak baik!! Echan akan menurut apa kata Daddy, Mae dan juga Lucas Hyung" "Echan nakal jadi harus di hukum~" "Tidak hiks Echan tidak nakal!! minta maaf huhu" "Baby~ Where are you??" "E-echan bukan anak kandung Daddy juga Mae??..." "Pergilah bear~ carilah kebebasan mu!! Jangan pernah kembali lagi nee?? Hyung sayang kamu!! "Nakal!! Mengapa kabur dari pernikahan hmm??" "Lepasin Echan hiks Daddy jahat telah bunuh Appa kandung Echan!!" Dor "MINGYUUU HYUNGGGG!!" WARNING!!INI CERITA HOMO(BXB) Yang tidak suka maaf yaaa karena ini hanya imajinasi atau dari perhaluan ku dan tidak adapun mengcopy karya-karya yang lain. Dan maaf bila ada kata-kata yang sama ataupun latar tempat ataupun ceritanya,SEKALI LAGI INI HANYA CERITA IMAJINASI DARI DIRI SENDIRI Budayakan untuk memvote dan komen juga yaa🤗 di larang pula untuk menjiplak karya ku ini
All Rights Reserved
#6
posesivefamily
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • KARAFERNELIA
  • [ Matahari Yang Redup ]Haechan
  • Marry My Husband
  • Just For One Day
  • JUNO [BXB)
  • Daddy ( HEEJAY )
  • ADIKARA ELUSIF (END)
  • forgive me🔞 [JohnJae]

Cerita ini menggambarkan perjalanan emosional Bryan dan Alesha serta dampaknya pada anak-anak mereka, menggambarkan kebahagiaan di tengah kesedihan dan harapan untuk masa depan. .... Raka berdiri di tengah kamar, wajahnya merah dan napasnya memburu. "Lu mending keluar dari kamar gue sekarang juga! Lu cuma ganggu gue, tau nggak? Bicara yang penting-penting aja, jangan cuman bikin ribut!" ujarnya dengan emosi memuncak. Bian, yang sudah lelah dengan suasana tegang, menjawab dengan nada kesal, "Biasa aja napa sih? Iya, iya, gue keluar. Gue nggak akan ganggu lo lagi." Dengan geram, Bian membuka pintu dengan keras dan menutupnya sampai bergetar. Kamar itu kini hening. Raka berdiri diam, meresapi kesunyian yang menggigit. Di sudut kamar, dia membiarkan air mata menetes perlahan, wajahnya tersembunyi di balik tangan. Dalam isak tangisnya, dia berbisik, "Gue nggak benci, gue cuma kangen. Gue pengen banget ngerasain pelukan dari sosok ayah, tapi dia udah punya keluarga sendiri, jadi gue nggak bisa ganggu dia." Raka merasa frustasi dan terpuruk, merasakan setiap detik beratnya kepergian dan kekosongan yang ditinggalkan. Seperti jejak langkah yang meninggalkan bekas, kenangan itu terus menghantui dan menyisakan luka dalam hati.

More details
WpActionLinkContent Guidelines